Informasi ini mencuat setelah sejumlah sumber internal Shall mengungkap diskusi intens dengan para penasihatnya dalam beberapa pekan terakhir.
Dikutip dari
Reuters, Senin, 5 Mei 2025, Shell masih menunggu kondisi pasar yang lebih menguntungkan, khususnya penurunan harga saham dan minyak global sebelum mengajukan penawaran resmi.
Menanggapi rumor tersebut, juru bicara Shell memilih menekankan fokus perusahaan pada konsolidasi internal.
"Kami harus membereskan rumah kami sendiri karena ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan meskipun ada kemajuan selama beberapa tahun terakhir," katanya.
Sementara itu, BP memilih bungkam atas isu akuisisi tersebut. Bila rencana ini benar-benar terwujud, maka Shell akan semakin kuat di panggung industri energi global. Ukuran perusahaan hasil penggabungan berpotensi menyaingi dominasi raksasa energi lain seperti ExxonMobil dan Chevron.
Namun demikian, langkah ini juga akan menarik perhatian otoritas regulasi, mengingat skalanya akan berdampak terhadap peta persaingan industri.
Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan Shell mampu melampaui BP. Nilai pasar Shell pun kini tercatat mencapai 149 miliar Poundsterling (Rp3.257 triliun), nyaris dua kali lipat dari BP. Sebaliknya, BP justru tengah bergulat dengan tekanan untuk meningkatkan efisiensi dan laba.
Di bawah kepemimpinan CEO Murray Auchincloss, BP telah mengumumkan rencana penjualan aset senilai 20 miliar Dolar AS hingga 2027, serta langkah-langkah penghematan dan pembelian kembali saham untuk meredam tekanan investor.
BERITA TERKAIT: