Peningkatan itu dirasakan dalam beberapa pekan terakhir. Dari mulai produksi 75 liter perhari bertambah menjadi 150 liter.
Hal itu disampaikan pemilik usaha D’Jamoe Oktavia Purnawati, Kamis (5/4).
Pemilik rumah produksi D’Jamoe di kelurahan Mojorejo kecamatan Taman kota Madiun mengaku sejak merebaknya corona penjualannya bisa mencapai 100 botol perhari yang tadinya perhari hanya 50 botol.
“Kalau pada hari biasa sih penjualan sampai 50 sampai 60 botol, tapi mulai Senin kemarin yang bersamaan merebaknya corona itu penjualan meningkat jadi sampai 80 sampai 100 botol perhari,†ujar Oktavia Purnawati yang akrab disapa Vivi kepada
Kantor Berita RMOLJatim.
Meski
empon-empon atau rempah jamu mengalami kenaikan harga, Oktavia tidak serta merta menaikkan harga jual produksi jamunya.
Alasannya kenaikan harga bahan jamu masih dianggap wajar. Namun, jika kenaikan harga bahan baku dinilainya naik di luar batas kewajaran baru harga jamunya akan dinaikkan.
“Untuk harga jamu di tempat saya harganya masih tetap tidak ada kenaikan. Tapi kalau harga bahan baku jamu naik diluar batas kewajaran baru saya naikkan harga jamunya,†jelasnya.
Varian jamu tradisional produksi D’jamoe menurut Vivi yang paling banyak diminati adalah jamu temulawak.
Rumah produksi D’jamoe sendiri memiliki empat varian jamu yakni temulawak, kunir asem, beras kencur, gula asem dan rempah sari sukma.
BERITA TERKAIT: