Wimboh Imbau Perbankan Tidak Latah Kerek Bunga

The Fed Naikkan FFR Hingga 2 Persen

Senin, 25 Juni 2018, 08:56 WIB
Wimboh Imbau Perbankan Tidak Latah Kerek Bunga
Foto/Net
rmol news logo Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/ The Fed) akhirnya menaikkan kembali suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) menjadi 1,75 persen hingga 2 persen. Kenaikan tersebut dikhawatirkan memicu kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.

Namun Ketua Dewan Komi­sioner Otoritas Jasa Keuan­gan (OJK) Wimboh Santoso mengimbau, kenaikan FFR pada Federal Open Market Committee (FOMC), Rabu (13/5), jangan ditanggapi se­cara berlebihan.

"Perbankan nasional diimbau untuk dapat mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan FFR. Terutama dalam mengh­adapi tantangan perekonomian global," ucap Wimboh saat menggelar halalbihalal Jakarta, kemarin.

Dengan kenaikan suku bunga The Fed, kata Wimboh, bukan berarti Industri perbankan oto­matis menaikkan suku bunga kredit miliknya.

"Repricing kredit itu kan ada waktunya, sehingga semua industri punya waktu meny­iapkan diri supaya dampaknya bisa smooth. Otomatis ada term of condition-nya," imbuh Wimboh.

Bekas Komisaris Bank Mandiri ini juga mengimbau perbankan terus melakukan efisien dalam menjalankan bis­nisnya, agar dapat meningkat­kan pelayanan dan kinerjanya. Dengan efisiensi, otomatis cost lebih sedikit.

"Kenaikan suku bunga yang ada tidak harus di-pass through kepada nasabah 100 persen. Se­lama kita bisa jaga operasi kita lebih efisien," tuturnya.

Chief Economist dari Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih melihat, kenaikan FFR mau tidak mau akan tetap mem­berikan dampak bagi ekonomi dalam negeri.

"Naiknya kan kemarin, saat libur Lebaran. Itu ada dampak, tapi belum bisa dipastikan. Karena saat ini aktivitas pasar modal di Indonesia belum berjalan normal," tutur Lana kepada Rakyat Merdeka saat dihubungi terpisah.

Meski begitu, dengan kon­disi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai Rp 14 ribu lebih, ia berharap nilai itu tak akan terus naik.

Lana pun melihat Gubernur BI Perry Warjiyo sudah mem­beri sinyal bahwa akan terus menjaga stabilitas.

"Bank Sentral harus selalu berada di pasar dan menguta­makan stabilisasi rupiah. Kar­ena untuk melakukan stabilitas tersebut, instrumen yang dapat diandalkan adalah suku bunga," ujarnya.

Namun jika BI kembali me­naikkan suku bunganya atau BI 7 day reverse repo rate (repo rate), maka hal tersebut akan berdampak pada perekonomian Indonesia. Sebab, perbankan kemungkinan besar akan turut menaikkan suku bunga. Seh­ingga berdampak pada pelaku usaha.

"Tentu akan memberikan efeknya. Sifatnya kalau bunga naik akan memberikan perlam­batan ekonomi. Bunga bank naik, pelaku usaha akan hitung-hitungan lagi. Perlu nggak untuk ekspansi? Kalau ekspansi dan investasi melambat, maka ekonomi pun akan melambat," ujarnya.

Pendapat yang sama dika­takan Direktur Keuangan PT Bank Tabungan Negara (Perse­ro) Tbk Iman Nugroho Soeko. Ia meramal, BI berkemung­kinan besar akan menaikkan repo rate.

"Selain perbankan, industri pasar modal juga akan terkena imbas kenaikan FFR. Investor asing di pasar modal akan keluar untuk memperoleh yield yang meningkat di AS," tuturnya kepada Rakyat Merdeka.

Iman mengingatkan, jika investor asing keluar, dana as­ing juga ikut tergerus, sehingga rupiah kembali tertekan. Hal itu membuat BI bakal menaikkan kembali suku bunganya.

"Kami memproyeksi, BI kira-kira akan mengerek kem­bali repo rate sebesar 25 bps menjadi 5 persen,"  kata Iman.

Sebelumnya, BI telah menger­ek repo rate dua kali pada Mei lau menjadi 4,75 persen. Dan menurut jadwal, BI akan meng­gelar rapat dewan gubernur pasa 27-28 Juni mendatang. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA