Menurut Direktur Pemasaran Pertamina M. Iskandar, jumlah tersebut sudah cukup besar dibandingkan yang dibayar masyarakat. Dia menjelaskan, harga keekonomian elpiji saat ini Rp 10.500 per kilogram atau Rp 31.500 per kilogram, sedangkan harga yang dikenakan kepada masyarakat Rp 4.750 per kilogram. Sebab itu, negara menalangi Rp 17.250 untuk setiap satu tabung elpiji.
"Ini besar sekali, lebih besar subsidi," katanya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (6/6).
Iskandar menambahkan, harga patokan elpiji atau CP Aramco meningkat dibanding tahun lalu menjadi USD 300 per ton. Sementara, saat ini sudah mendekati USD 400 per ton.
"Kemarin agak rendah Aramco. Tahun lalu USD 300-an, sekarang mendekati USD 400 per ton," ujarnya.
Konsumsi dan harga acuan elpiji 3 kilogram yang meningkat akan membebani uangan negara dengan menalangi pemberian subsidi. Kondisi itu mengkhawatirkan karena membuat jumlah subsidi membengkak.
"Beban subsidinya meningkat karena harga naik dan volume naik," ujar Iskandar.
[wah]
BERITA TERKAIT: