Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bahlil Lahadalia meÂnyambut positif keputusan pemeringkat internasional, S&P menaikkan peringkat IndoneÂsia menjadi investment grade (layak investasi). Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan keÂpercayaan dunia meningkat terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola perÂekonomian.
"Peringkat itu bersumber dari penilaian terhadap kinerja dalam menjaga makro ekonomi dan sistem keuangan negara. Capaian ini bagus untuk menarik investasi. Tapi jangan berpikir dengan dapat predikat layak investasi, aliran dana akan muÂdah mengalir ke dalam negeri," ungkap Bahlil kepada
Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.
Untuk menarik investasi, lanÂjut Bahlil, masih banyak hal yang harus dibenahi. Dia menerangÂkan, untuk menanamkan modal, banyak hal yang dipertimbangÂkan calon investor. Antara lain, kemudahan berbisnis (
ease of doing business/EoDB).
"Kemudahan berbisnis kita belum kompetitif. Investor masih sulit mengurus perizinan. ReguÂlasi masih tumpang tindih dan infrastruktur belum memadai. Masalah ini harus terus dibenahi pemerintah kalau mau investasi naik. Karena EoDB itu cerminan nyata yang dihadapi investor," terangnya.
Selain kemudahan bisnis, Bahlil menyoroti masalah staÂbilitas politik. Menurutnya, gonjang-ganjing politik di Tanah Air belakangan ini telah mempengaruhi iklim investasi. Banyak investor wait and see untuk menanamkan dan merealisasikan modalnya. Dia berharap, elite politik dewasa dalam berpolitik.
"Elite harus
move on lah. Semua harus mendinginkan suasana politik. Setelah pesta demokrasi selesai, semua harus bersatu bagaimana memenuhi dompet dan perut rakyat," ungkapnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani memiliki pandang sama. Dia menilai, penguruÂsan perizinan menjadi tantangan untuk investor yang mau membenamkan modalnya di Tanah Air.
"Proses perizinan sudah lebih baik, tapi masih banyak juga yang masih panjang dan ribet," ungkapnya.
Namun demikian, Hariyadi optimistis kenaikan peringÂkat investasi bisa memberikan dampak positif untuk perekoÂnomian.
Menurutnya, kenaikan peringkat investasi otomatis akan menurunkan bunga pinjaman asing. Dan, seharusnya juga diikuti penurunan bunga perbankan di dalam negeri. Selain itu, kenaikan peringkat investasi akan mendorong inÂvestor yang sudah berkomitmen menanamkan modalnya merealisasikannya.
"Semua pihak harus memanÂfaatkan momentum ini untuk mendorong kerja ekonomi," ungkapnya.
Dia meminta, pemerintah pusat dan daerah merealisasikan janjinya memberikan insentif kepada investor dan membantu mengatasi hambatan-hambatan yang selama ini menganjal realisasi investasi.
"Capaian investasi tergantung kepada pemerintah sendiri. Jika minat investasi bisa dilayani akan meningkatkan realisasi. Jika tidak, ya akan sama saja," ungkapnya.
Seperti diketahui, S&P menaikkan peringkat investasi karena pemerintah IndoneÂsia dinilai lebih baik dalam mengelola keuangan. BerhaÂsil menekan pengeluaran dan meningkatkan pendapatan sehingga sektor keuangan menjadi lebih stabil.
Kenaikan peringkat investasi ini melengkapi peringkat layak investasi yang sebelumnya diberikan S&P Global Ratings, Fitch Ratings, dan Moody's.
Pemerintah sangat menantiÂkan S&P menaikkan peringkat investasi. Karena, kenaikan peringkat diyakini dapat mengerek kinerja investasi. Karena sejumlah menteri kabinet kerja mengaku sering ditanyakan calon investor mengenai peringÂkat investasi Indonesia. KenaiÂkan peringkat investasi tersebut diyakini akan membuat calon investor menanamkan modalnya di Tanah Air. ***
BERITA TERKAIT: