Harga BBM Melonjak, Maskapai Murah Pangkas Penerbangan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Sabtu, 02 Mei 2026, 14:39 WIB
Harga BBM Melonjak, Maskapai Murah Pangkas Penerbangan
Ilustrasi. (Foto: CNN)
rmol news logo Sejumlah maskapai penerbangan berbiaya murah mulai mengurangi frekuensi penerbangan seiring tekanan biaya operasional yang kian meningkat. 

Mengutip AFP pada Sabtu 2 Mei 2026, lonjakan harga bahan bakar yang dipicu konflik di Timur Tengah menjadi pemicu yang menghantam kinerja keuangan sektor ini.

Gejolak pasar energi juga dipicu oleh penutupan Selat Hormuz yang mengguncang distribusi minyak global. Dampaknya, harga bahan bakar jet melonjak dan memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan.

Maskapai berbiaya rendah yang menguasai sekitar sepertiga pasar penerbangan global menjadi pihak yang paling cepat merasakan tekanan. Model bisnis dengan tarif tiket murah membuat ruang untuk menyerap kenaikan biaya energi menjadi sangat terbatas.

Maskapai di Kanada, Air Transat, contohnya, telah memangkas sekitar enam persen jadwal penerbangan untuk periode Mei hingga Oktober.

Di Asia Tenggara, AirAsia X juga mengumumkan pengurangan penerbangan, meski tidak merinci jumlahnya.

Sementara itu, maskapai Jerman Lufthansa berencana memangkas hingga 20.000 penerbangan sampai Oktober.

Selanjutnya, Grup Air France-KLM asal Prancis dan Belanda turut menyesuaikan kapasitas dengan memangkas sekitar dua persen penerbangan pada Mei dan Juni melalui anak usahanya, Transavia.

Tidak hanya itu, maskapai Irlandia Ryanair juga mengurangi penerbangan ke dan dari Berlin mulai Oktober, serta memangkas 10 persen penerbangan dari Dublin, meski tidak secara langsung mengaitkannya dengan kenaikan harga bahan bakar.

Sementara maskapai Spanyol Volotea telah lebih dulu memangkas hampir satu persen jadwal penerbangan musim panasnya sejak awal bulan.

Dalam kondisi normal sebelum konflik, maskapai berbiaya rendah biasanya masih bisa mempertahankan rute dengan margin tipis, bahkan yang merugi. 

Namun, kenaikan tajam harga bahan bakar memaksa mereka melakukan penyesuaian, termasuk memangkas rute dan frekuensi penerbangan.

Langkah ini diperkirakan akan semakin terasa menjelang puncak musim liburan musim panas.

"Sayangnya, sangat mungkin liburan banyak orang akan terpengaruh, baik oleh pembatalan penerbangan atau tiket yang sangat, sangat mahal," kata Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, kepada Sky News pekan lalu.rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA