Bekas Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III Holding ini pun berkomitmen untuk menjalankan tugas secara profesional. Massa mengaku siap dipecat jika dianggap gagal.
Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan, dan PariwisaÂta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, tugas awal yang menunggu Elia adalah melakukan konsolidasi baik internal dan eksternal, menÂjaga kekompakan dan memperÂtahankan kinerja Pertamina.
"Paling utama konsolidasi, karena kemarin tidak ada Dirut. Kita berharap, Dirut baru juga membawa kinerja Pertamina meningkat dari 2016 yang sukses melakukan efisiensi dan meningÂkatkan kinerja perusahaan," kata Edwin di Jakarta.
Untuk diketahui, hasil efisiensi berbagai lini yang dilakukan selama 2016 mencapai US$ 2,67 miliar, pencapaian tersebut mendorong perolehan laba 2016 belum diaudit mencapai US$ 3,14 miliar.
Elia sendiri berjanji akan mengedepankan efisiensi dan menerapkan prinsip keterbukaan, baik untuk sesama direksi mauÂpun dengan seluruh karyawan.
"Salah satu efisiensi yang akan dilakukan adalah mengÂganti para pekerja yang kualiÂtasnya tidak sesuai dengan yang diinginkan perusahaan. Jadi nanti di level tertentu kita lihat, apakah itu manajer, general manajer, atau yang lain," kata Elia di Jakarta.
Dilanjutkannya, karyawan Pertamina ke depan harus memiÂliki skill, berkompeten, dan bertanggung jawab.
"Tapi di 100 hari pertama kita bangun dulu komunikasi dan koordinasi dengan seluruh manajemen Pertamina. Kita tidak ingin Pertamina sama denÂgan pemimpin sebelumnya yang dinilai team worknya kurang maksimal," tegas Elia.
Berani Konfrontasi Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono mengatakan, secara background Elia dinilai tidak memiliki kompetensi memimpin BUMN minyak dan gas terbesar di Indonesia.
"Kita tahu kalau Elia itu gagal pimpin PTPN Holding, karena sampai saat ini masih meruÂgi," kata Arief kepada
Rakyat Merdeka. Ia melanjutkan, penempatan Elia jelas sebuah blunder yang besar bagi pengelolaan Pertamina dan syarat dengan kepentingan para mafia migas, khususnya importir minyak di Pertamina.
"Banyak penolakan dari karyÂawan, harusnya Presiden melihat ini. Jangan korbankan Pertamina dengan menempatkan pemimpin yang gagal," ketusnya.
Sementara, Direktur Eksekutif Energi Watch Indonesia FerdiÂnand Hutahaean mengatakan, penunjukan Elia yang terkesan dipaksakan masih menunjukkan betapa pemerintah belum serius membesarkan Pertamina.
"Terlihat sekali kalau PerÂtamina sebagai mainan politik demi kepentingan tertentu. Elia juga patut diragukan karena sebelumnya gagal di PTPN. Tidak heran persepsi yang timÂbul saat ini adalah, orang gagal dipaksakan menggantikan orang berprestasi," kata Ferdinand kepada
Rakyat Merdeka. Meski begitu, Ferdinand meÂminta Dirut baru Pertamina bekerja sungguh-sungguh.
"Bagaimanapun, Elia harus mengedepankan kepentingan negara dan Pertamina diatas segaÂla kepentingan. Saya mendengar, Elia Manik ini orang yang keras dan berani konfrontasi, kita lihat saja nanti," tegasnya. ***
BERITA TERKAIT: