Padahal pemerintah sudah gencar melakukan operasi pasar untuk menekan harga sapi, namun tetap saja harga daging sapi masih berada di atas Rp 100 ribu per kilogram di pasaran.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Herman Khaeron, menyatakan, harga daging sapi stabil tinggi karena konsumsi daging sapi domestik yang tinggi. Konsumsi daging sapi rata-rata penduduk Indonesia 2,2 kilogram per kapita tiap tahun. Karena itu persoalan stok daging sapi memang bukan persoalan yang sederhana dan mudah untuk diatasi oleh pemerintah.
"Kurang lebih kita membutuhkan setiap tahun 550 ribu ton daging sapi. Sehingga ini bukan sesuatu hal yang mudah dan sederhana. Apalagi kita negara kepulauan, konsekuensinya terhadap beberapa aspek di skala ekonomi," ujar Herman dalam diskusi "Harga Daging Sapi Stabil Tinggi" yang digelar divisi juru bicara Partai Demokrat, di De Pana Cafe, Jakarta, Jumat, (1/7).
Pemerintah harus memiliki data yang benar-benar akurat untuk menentukan suplai daging sapi, apalagi daging sapi tidak hanya langsung dikonsumsi masyarakat tapi juga untuk bahan olahan pangan lainnya.
Masalah berikutnya yang menyebabkan harga daging sapi tinggi adalah ketidakmampuan pemerintah memproduksi daging sapi, sehingga harus selalu tergantung dengan impor.
Solusinya, menurut Herman, adalah pemerintah mulai menggalakkan diversifikasi atau pengalihan sumber daya, apabila memang daging sapi menjadi persoalan bangsa dan tak kunjung mampu swasembada daging sapi.
Apalagi, 2/3 wilayah Indonesia adalah laut. Sebenarnya Indonesia kesulitan mengembangkan produksi sapi lokal, karena membutuhkan lahan yang sangat luas untuk menjadi wilayah gembala sapi.
Diversifikasi yang dimaksud adalah mengubah pola kebutuhan daging sapi menjadi ke arah pangan lain, seperti ikan.
"Kenapa tidak rendang sapi diubah jadi rendang ikan tuna. Kompetensi kita ya ikan laut. Kita harus dorong kesana, supaya tekanan untuk konsumsi bisa turun, pada saat yang sama pasar bisa dikelola dengan baik," terangnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: