Demikian juga dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang juga cenderung naik. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya ongkos produksi dan distribusi BBM di dalam negeri.
"Kondisi tersebut tidak akan menghindarkan pemerintah untuk kembali menaikkan harga BBM," kata Ketua Pusat Kajian Ekopol Universitas Bung Karno Salamudin Daeng kepada redaksi di Jakarta, Kamis (24/3).
Menurutnya, harga BBM yang fluktuatif ibarat permainan yoyo yang dapat memicu gejolak ekonomi dan semakin membuat inflasi tidak terkendali. Sehingga pemerintah sebaiknya fokus menjaga stabilitas harga BBM dan bahan energi lainnya dalam rangka menjaga kelangsungan produksi, produktifitas dan perbaikan daya beli masyarakat.
"Bentuk stabilitas harga BBM itu sebagaimana yang dinikmati bangsa Indonesia sepanjang 30 tahun pemerintahan Soeharto," ujar Salamuddin.
Dia menambahkan, dengan membiarkan harga BBM berfluktuasi sesuai harga minyak mentah dan nilai tukar mata uang merupakan ciri sistem ekonomi pasar yang bertentangan dengan konstitusi UUD 1945.
[wah]
BERITA TERKAIT: