Begitu dikatakan Tenaga Ahli Menko Maritim dan Sumber Daya, Haposan Napitupulu kepada redaksi, Kamis (17/3).
Rencana pengurangan karyawan yang akan dilakukan Inpex dan Shell juga dirasa tidak tepat. Sebab, proyek pengembangan tersebut belum mencapai titik temu.
"Tidak benar, bahwa proyek tidak dapat dilanjutkan karena belum ada keputusan pemerintah," jelas Haposan.
Doktor Geologi Minyak lulusan ITB dan Universitas Texas di Amerika Serikat ini, mengatakan, tertundanya pengembangan lapangan gas Abadi disebabkan kondisi harga minyak dunia yang sedang lesu. Imbasnya, harga jual LNG ikut rendah.
Haposan tambahkan, sejumlah proyek FLNG di dunia juga mengalami penundaan akibat dari rendahnya harga jual LNG saat ini. Mereka diantaranya, yakni FLNG-2 Petronas, Exeller Energy di Puerto Rico, Pre Salt - Brazil, Scarborough - Australia, Browse - Australia, Pasific Rubiales - Kolombia, Bonaparte -Australia, dan satu proyek FLNG di Norwegia.
Mengutip Dr. Fesharaki, ketua FACTS Global Energy, sebuah lembaga riset yang berbasis di Singapura, bahwa sebagian besar proyek LNG baru akan menguntungkan bila harga minyak berada di kisaran antara USD 80-90/bbl. Sayangnya saat ini harga minyak masih berada di level USD 38-40/bbl.
"Dengan demikian, seandainya pun Pemerintah telah memberikan persetujuan POD (plan of development), tapi karena proyek ini tidak feasible dengan kondisi harga minyak dunia saat ini, maka proyek akan tetap mengalami penundaan. Apalagi, seperti kita ketahui, bahwa hingga saat ini belum ada calon pembeli jangka panjang LNG lapangan Abadi- yang merupakan salah satu syarat persetujuan POD dan keputusan FID oleh investor. Penundaan proyek akan mengurangi volume pekerjaan yang berdampak terhadap pengurangan pekerja," demikian Haposan.
[sam]
BERITA TERKAIT: