Inpex adalah kontraktor Blok Masela sejak 1998. Inpex mengeksplorasi sumber gas dan setelah mendapatkannya Inpex bermimpi membangun kilang LNG di laut (
offshore).
Perusahaan Jepang ini kemudian membuat perhitungan, perbedaan biaya pembangunan kilang LNG di laut dan di darat. Mereka pun mengeluarkan laporan bahwa ongkos pembangunan kilang LNG di laut lebih murah dibandingkan darat.
Tenaga Ahli Bidang Kebijakan Energi Kemenko Maritim dan Sumber Daya, Abdulrachim, membeberkan, laporan Inpex itu kemudian dipakai "mentah-mentah" oleh SKK Migas untuk presentasi di muka Presiden Joko Widodo.
"SKK Migas jiplak langsung tanpa menghitung kembali, lalu mereka paparkan ke Presiden," kata Abdulrachim di Kantor Kemenko Maritim, Jakarta, Jumat, (11/3).
Secara terpisah, Tim Kajian Pengembangan Lapangan Gas Abadi-Masela, bernama Tim Fortuga, yang berisi tim tenaga ahli dari Kemenko Maritim membuat perhitungan yang berbeda dari laporan Inpex. Anggota tim Fortuga adalah pakar teknis di bidang LNG dan Petrokimia, ahli-ahli yang sudah sekitar 30 tahun bergerak di bidang LNG.
Hasil hitungan mereka, biaya onshore ternyata lebih murah. Terdapat selisih US$ 6 miliar lebih murah dibanding pembangunan kilang di laut.
"Kalau di laut biayanya 22 miliar dolar, kalau darat 16 milliar dolar. Selisih 6 miliar dolar pembangunannya, atau Rp 81 triliun. Belum lagi keuntungan multiplier effectnya," jelasnya.
Ia mengajak berlogika, dan membandingkan dengan pembangunan kilang LNG offshore "Prelude" di Australia yang hampir rampung dan akan beroperasi 2017 mendatang, berada beberapa ratus kilometer dari daratan. Kapasitas kilangnya 3,6 juta ton LNG pertahun, biaya pembangunannya US$ 13 miliar. Sedangkan Blok Masela, menghasilkan 7,5 juta ton LNG pertahun.
Ia menduga, laporan pembangunan kilang laut berongkos lebih rendah adalah manipulasi Inpex agar bisa masuk kontrak dari SKK Migas.
"Nanti setelah dapat kontrak, dia naikin angkanya. Itu biasa terjadi di dunia Migas. Kita enggak mau lagi yang seperti itu terjadi," ujarnya.
Ia mengaku prihatin dengan silang pendapat soal Blok Masela. Padahal jelas, akan sangat menguntungkan dan efisien jika kilang di bangun di darat. Membangun kilang LNG di darat lebih menghemat biaya sebesar Rp 81 triliun.
"Bayangkan, uang segitu bisa alokasikan ke pembangunan lain. Jembatan Suramadu saja biayanya cuma Rp 5 triliun, Lapangan Terbang Perintis cuma Rp 300 miliar. Bisa kita gunakan kemana duit selisih Rp 81 triliun itu?" ungkap Abdulrachim.
[ald]
BERITA TERKAIT: