"Ini dilakukan sejak menjadi BUMN, sewaktu dipegang oleh Jepang tidak pernah dilakukan seperti apa yang sudah kita kontribusikan ke daerah Sumatera Utara," kata Direktur Utama Inalum Winardi di Jakarta, Senin (11/8).
Winardi menjelaskan, pasokan listrik tersebut merupakan kelebihan
power yang dibangkitkan oleh PLTA setelah untuk memenuhi kebutuhan listrik 500 tungku peleburan aluminium di Kuala Tanjung, Kab Batubara yang diperbaharui setiap tujuh tahun. Kapasitas produksi aluminium Ingot ini akan ditingkatkan dengan melakukan pengembangan dan optimasi serta efisiensi.
"Diharapkan pada tahun 2019 Inalum sudah dapat menghasilkan aluminium ingot sebesar 500 ribu per tahun dan akan menyerap tambahan tenaga kerja sekitar 3 ribu orang baik sebagai pegawai tetap maupun karyawan kontraktor," bebernya.
Winardi menambahkan, mulai tahun 2006, PT Inalum sudah membukukan keuntungan, di mana
net income tahun buku 2012 sebesar 24,5 juta dolar AS dan meningkat 180 persen atau sebesar 68,8 juta dolar AS di tahun 2013 setelah menjadi BUMN. Sementara, pada satu Triwulan 2014, kata dia, Inalum sudah membukukan
net income sebesar 38 juta dolar AS dan diproyeksikan sampai akhir tahun ini akan mencapai sebesar USD 110 juta lebih.
"Dengan tingginya profit tersebut, kontribusi terhadap negara juga besar. Misalnya, selain membayar
deviden dan pajak penghasilan," terangnya.
Inalum juga membayar Annual Fee ke pemerintah sebagai pengganti pembayaran pajak daerah rata-rata setiap tahun sekitar 7,5 juta dolar AS. Selain itu, Inalum menyalurkan anggaran untuk
corporate social responsibility (CSR) dan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) pada tahun 2014 ( selama sembilan bulan) lebih dari Rp 25 miliar. Di antaranya dialokasikan untuk program pemberian beasiswa kepada 5.300 siswa SD, SMP, SMP dan Mahasiswa di 10 Kabupaten/Kota sekitar Danau Toba sebesar Rp 2,3 miliar lebih.
[wid]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: