Lutfi mengatakan, pihaknya akan menjaga supaya harganya tidak terlalu jatuh. Karena itu, dia akan segera melakukan pertemuan dengan Mentan Suswono untuk membahas perkembangan harga usai Lebaran.
“Saya baru mau ketemu Mentan, rencananya besok pagi (hari ini) untuk melihat stabilitas harga-harga bahan pagan,†ujar dia di kantornya, kemarin.
Dalam pertemuan tersebut, Lutfi meminta Mentan untuk mendorong sektor pertanian, terutama pada komoditas cabe. Bantuan berupa bibit cabe sangat diperlukan oleh petani.
Apalagi, berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lalu, ketika stok melimpah harga akan turun kemudian setelah itu biasanya petani tidak mau tanam.
Dengan pengalaman itu, dalam waktu tiga bulan dari peristiwa mogok tanam tersebut, harga cabe akan kembali naik.
“Biar bagaimana pun hortikultura mesti dibantu, terutama untuk cabe dan bawang merah. Kemudian ada harga yang turun sekarang, ada yang naik tapi kita mau jaga stabilitas itu,†jelasnya.
Terkait masih tingginya beberapa harga bahan pokok usai Lebaran, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurti menganggap itu siklus yang normal.
“Memang benar bahwa ada beberapa barang yang naik seperti tempe, ini karena industri di Jabodetabek mudik sehingga tidak produksi. Jadi kebutuhan tidak ada suplainya,†jelas Bayu.
Menurutnya, ketika Lebaran para pedagang banyak yang mudik dan transportasi dihentikan.
“Selain itu petani juga libur Lebaran, jadi harga masih tinggi, sekitar hari raya akan tetap diantisipasi tapi memang aktivitasnya menurun,†kata dia.
Kendari begitu, Bayu yakin kegiatan akan bergulir kembali normal. Pasokan akan normal kembali pada minggu ini setelah transportasi dan pedagangnya sudah kembali dari mudik.
Di samping itu, pihaknya justru lebih mengantisipasi penurunan harga yang biasanya terlalu rendah pasca Lebaran. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kerugian di sisi pedagang dan petani.
“Kasihan kalau harganya terlalu rendah. Itu yang kita jaga supaya tidak terlalu rendah,†jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengungkapkan, banyak petani yang merana lantaran harga cabe yang terlampau murah. Akan tetapi, ketika dijual kepada konsumen harga menjadi sangat mahal.
“Petani menangis, harga cabe murah sekali. Harga cabe keriting merah Rp 4.000-an, tapi di konsumen Rp 20.000. Kenapa bisa sampai 4 hingga 5 kali lipat,†ujarnya heran.
Dia mengatakan, dengan kondisi seperti ini, pihak yang menikmati untung justru pedagang. Oleh karena itu, pihaknya bersama dengan Kementerian Perdagangan akan menyelesaikan masalah cabe tersebut. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google