Pengamat ekonomi UniverÂsitas Atma Jaya A. Prasetyantoko mengatakan, memang tidak berÂlebihan Indonesia berada dalam kondisi darurat infraÂstrukÂtur. Oleh karena itu, pemeÂrinÂtahan perlu membuat terobosan.
Menurut dia, pemerintah perlu memperbesar porsi belanja moÂdal, khususnya anggaran inÂfraÂstruktur dalam APBN. Selain itu, pemeÂrintah juga perlu menÂdorong BUMN maupun konsorÂsium BUÂMN membangun inÂfrastruktur.
“Bank-bank BUMN juga perlu didorong untuk bersindikasi membiayai proyek infrastruktur. Untuk menarik minat swasta, pemerintah perlu memberikan insentif dan berbagai regulasi yang kondusif serta menghilangÂkan berbagai kendala di lapaÂngan, khususnya pembebasan lahan,†jelas Prasetyantoko.
Sebenarnya, kata dia, hamÂbatan paling nyata, yakni adanya gap antara kebutuhan dan anggaÂran yang ada untuk membiayai inÂvestasi infrastruktur ini.
“Ada skema public private partnership (PPP) atau kerja sama pemerintah swasta (KPS), tapi tidak semudah membalik telapak tangan,†tukasnya.
Data Global Competitiveness Index 2013-2014 yang dikeluarÂkan World Economic Forum meÂnyeÂbutkan infrastruktur IndoÂnesia berÂada di peringkat kelima ASEAN, di bawah Brunei DarusÂsaÂlam, ThaiÂland, Malaysia dan Singapura.
Kondisi ini, kata Prasentyatoko, menempatkan Indonesia dalam situasi darurat infrastrukÂtur. Tidak memadainya infraÂstrukÂtur nasional ini, akan membuat pemerintah kalang kabut dalam persiapan menghadapi MEA 2015.
Bagaimana mau mendorong daya saing nasional, jika pengÂusaha terus dibebani oleh ekoÂnomi biaya tinggi. Ekonomi biaya tinggi ini salah satunya diÂpicu oleh buruknya infraÂstruktur. Seperti jalan, pelabuhan hingga bandara.
hanya akan membuat IndoÂnesia jadi pasar saat MEA 2015 diberÂlakukan. PadaÂhal, MEA juga menaÂwarkan peÂluang bagi negara anggotanya untuk menjadi basis produksi.
Dikatakan, infrastruktur yang tiap tahun diperbaiki contohnya jalur PanÂtura. Bukan hal yang luar biasa lagi jika jalur itu selalu meÂngaÂlami kemacetan parah.
“Selama belum ada jalan tamÂbahan lagi, itu akan selalu ada kemaÂcetan,†keluh Menteri PekerÂjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto.
Menurut Djoko, ada dua perÂmaÂsalahan utama di Jalur PanÂtura. Pertama, beban yang harus ditanggung jalan Pantura sudah sangat berat karena kendaraan yang melintas melebihi batas daya tahan jalan. Kedua, beban kenÂdaraan yang lewat sudah melampaui kapasitas.
Kedua alasan tersebut, tandas dia, akhirnya menimbulkan keÂmaÂcaetan dan keruÂsakan jalan di kawasan Utara Jawa ini.
“Kalau jumlah kendaraan suÂdah hampir melampaui kapaÂsitas itu dampaknya kalau ada perÂbaikan jalan sedikit pasti maÂcet. Kalau yang overload, saya kiÂra semua sudah tahu. Kalau ada yang pecah ban saja itu pasti maÂcet,†paparnya.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Infrastruktur Rachmat Gobel mengatakan, infrastruktur menjadi prasyarat bagi pertumbuÂhan ekonomi dan sosial. Hanya saÂja, untuk membangun infraÂstruktur butuh anggaran besar jika mengandalkan pemerintah saÂngat sulit untuk mengejar cepat.
Rachmat menjelaskan, setidakÂnya ada empat aspek infrastruktur yang penting dalam pembanguÂnan ekonomi. Pertama, jaringan pengÂhubung (darat, laut dan udara). Kedua, energi yakni pemÂbangkit listrik. Ketiga, telekoÂmunikasi dan keempat air minum dan sanitasi.
“Tapi sayangnya dari keempat aspek tersebut masih tertinggal apabila dibanding negara berÂkemÂbang lain. Inilah yang nanÂtinya akan menjadi pekerjaan rumah besar pemimpin menÂdatang jika ingin meningkatkan perÂtumbuhan ekonomi secara signifikan,†paparnya.
Deputi Bidang Sarana dan PraÂsarana Bappenas Dedy S Priatna mengaku ada 19 proyek infraÂstruktur yang tidak mampu direaÂlisasikan tahun ini. Mega proyek tersebut akan diserahkan kepada pemerintahan baru. “Sebenarnya ada 35 proyek, tapi yang 19 proyek dianggap tidak akan selesai sebeÂlum Oktober ini, misalnya Waduk Jatiluhur. Jadi diselesaikan oleh pemerintahan baru,†ujar Dedy. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google