General Manager Pelindo III Toto Heli Yanto menjelaskan, sebelumnya Pelabuhan Trisakti Banjarmasin hanya bisa beroperasi 8 jam karena faktor kedalaman alur sungai Barito yang mengandalkan air pasang. Namun kini, adanya pemeliharaan alur Barito, maka kapal dapat beroperasi keluar dan masuk pelabuhan selama 24 jam non stop.
“Hal ini tak lepas adanya sinergi antara Pelindo III dan Pemda Kalimantan Selatan yang membentuk anak perusahaan untuk pengelola alur sungai Barito yang kedalamannya terbatas,†ujar Toto.
Dia lebih lanjut merinci keseluruhan proyek yang dibangun Pelindo III merupakan proyek vital dari perusahaan dalam rangka mendukung visinya memacu integrasi logistik nasional.
Beberapa proyek pembangunan infrastruktur telah dibangun di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Diantaranya perpanjangan dermaga petikemas sepanjang 265x36,5 meter dengan struktur beton, dengan nilai proyek mencapai Rp 78,49 miliar.
Selanjutnya, pembangunan lapangan penumpukan stockpile batubara seluas 1,9 hektar, dengan struktur
fullplate concrete. Nilai proyeknya mencapai Rp 43,15 miliar.
Sementara perpanjangan dermaganya mencapai 96 meter dan peningkatan
container yard (CY) muat seluas dua hektar. Peningkatan CY ini menelan biaya sekitar Rp 54 miliar.
“Beberapa proyek investasi lain berupa infrastruktur dan suprastruktur Terminal Petikemas Banjarmasin (TPKB), di antaranya pengadaan alat angkat dan angkut petikemas seperti
container crane (CC) dan
rubber tyred gantry (RTG), dengan nilai total investasi Rp 365 miliar,†jelas Toto.
Pembangunan proyek infrastruktur itu sangat mendesak bagi operasional pelabuhan guna menunjang pelayanan dalam melayani arus barang yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto menyatakan, pelabuhan itu sangat penting karena perekonomian di Kalimantan Selatan sedang menggeliat, pertumbuhan arus barang menunjukkan peningkatan. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google