Deputi Pengendalian Perencanaan Satuan Kerja Khusus Pengatur Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Aussie B. Gautama mengatakan, kerugian yang dialami KKKS tersebut terhitung sejak mereka mulai melakukan pengeboran eksplorasi migas di 16 blok eksplorasi laut dalam dari tahun 2009 sampai 2013.
“Seluruh kerugian itu ditanggung sendiri KKKS dan tidak diganti negara,†kata Aussie kepada wartawan di Jakarta, kemarin.
Aussie mengungkapkan, saat ini cadangan minyak Indonesia hanya tinggal sekitar 3,6 miliar barel dan diperkirakan habis dalam waktu beberapa belas tahun dengan asumsi tingkat produksi saat ini tidak ada penurunan produksi ke depan dan tidak ditemukan cadangan minyak baru.
“Harus dipahami masyarakat bahwa tidak mudah mencari cadangan minyak baru. Apalagi beberapa KKKS asing itu berniat hengkang dari wilayah kerja tersebut dan berencana mengembalikan wilayah kerja eksplorasi kepada Pemerintah,†ungkapnya.
Dia menuturkan, Indonesia ke depan harus berhati-hati dalam menjaga iklim investasi di sektor migas. Karena untuk mendapatkan cadangan migas baru, dibutuhkan KKKS yang memiliki modal besar dan keberanian mengambil risiko
“Jika tidak ada KKKS asing yang memiliki modal besar dan berani mengambil risiko, maka cukup sulit mendapatkan tambahan cadangan migas untuk keberlangsungan produksi di masa depan,†terang Aussie.
12 KKKS yang gagal menemukan cadangan migas, menurut Aussie, antara lain ExxonMobil dengan dua wilayah kerja, Statoil, ConocoPhillips, Talisman, Marathon, Tately, Japex, Hess, Niko Resources Murphy Oil dan CNOOC.
Aussie menuturkan, selain ada KKKS yang berniat hengkang, terdapat 2 blok eksplorasi di laut dalam yang dialihkan pengoperasiannya dari KKKS Marathon Oil kepada KKKS Niko Resources, yaitu Blok Kumawa dan Blok Bone Bay.
“KKKS yang masih aktif melakukan kegiatan eksplorasi di laut dalam hingga saat ini adalah Niko Resources yang mengoperasikan 18 blok eksplorasi dan 3 blok sebagai non operator,†imbuhnya.
Menurutnya, Niko Resources untuk tahun 2013 hingga 2014 masih akan melanjutkan lima pemboran eksplorasi laut dalam di lima wilayah kerja eksplorasi. Niko Resources kini menjadi harapan satu-satunya yang berpeluang untuk menemukan cadangan migas di laut dalam.
Wakil Direktur Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai, kerugian dialami 12 KKKS migas tersebut cukup besar.
“Angka kerugian Rp 19 triliun itu sangat besar. Apalagi tidak ada sedikit pun kompensasi pergantian dari pemerintah,†katanya.
Komaidi mengatakan, dari kerugian tersebut, semua pihak bisa melihat bahwa investasi di migas tidak kecil. Harus diakui, bahwa investor asing yang memiliki modal besar masih dibutuhkan bangsa ini untuk mencari cadangan migas.
Dari kerugian itu, diharapkan Komaidi, bisa memompa semangat pemerintah untuk meningkatkan pelayanan investasi.
“Perusahaan migas banyak mengeluhkan rumitnya perizinan dan pungutan-pungutan yang dilakukan pemerintah daerah,†cetusnya. [ Harian Rakyat Merdeka ]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: