Kadin Bekali 200 Asosiasi Menghadapi AEC Di Bogor

Pemerintah Diminta Bersinergi Rumuskan Kebijakan

Selasa, 11 Juni 2013, 09:32 WIB
Kadin Bekali 200 Asosiasi  Menghadapi AEC Di Bogor
Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin)
rmol news logo Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) ternyata cemas dengan rencana ASEAN Economic Community (AEC). Kemarin, sekitar 200 pengusaha di-warning soal plus minus pelaksanaan AEC pada 2015 mendatang.

Untuk itu, Kadin akan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Bogor. Sekitar 200 asosiasi usaha diundang untuk membahas soal AEC.

Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto mengatakan, berdasarkan data World Economy Forum (WEF) tahun 2012, daya saing Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara ASEAN lain.

“Indonesia berada di peringkat 50, tertinggal jauh dari Singapura di peringkat 3, Malaysia ke-25, dan Thailand urutan ke-38. Indonesia perlu lebih serius mempersiapkan diri menghadapi AEC tahun  2015,” papar Suryo kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Sayangnya, persiapan Indonesia masih minim dalam menyambut AEC ini. Dia melihat program pemerintah dengan pengusaha belum terintegrasi. Dia berharap kedua belah pihak bisa bersinergi.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Koordinator Asosiasi Noke Kiroyan menjelaskan, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas), pihaknya akan membedah sejauh apa kesiapan pengusaha menghadapi AEC. Selain itu, pihaknya  juga akan berdiskusi dengan perwakilan pemerintah.

“Kadin juga mengundang Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).  Kita akan minta masukan dari mereka,” kata Noke di Jakarta, kemarin.

Ketua Komite Tetap Koordinasi Himpunan dan Dewan Bisnis Kadin Bayu Prawira Hie berharap, Rakornas nanti bisa memperkuat komunikasi antara pengusaha dengan pemerintah sehingga bisa sinergis. Tidak seperti sekarang, pemerintah di dalam merumuskan kebijakan sering jalan sendiri.

“Kita tidak sesiap pemain bisnis negara lain. Pemerintah sudah seharusnya melibatkan asosiasi-asosiasi pengusaha untuk meningkatkan kesiapan,” imbuhnya.

Bayu mengakui, industri di dalam negeri belum bisa bersaing dengan negara lain. Sebab, produksi di dalam negeri belum efisien.

“Infrastruktur buruk, listrik masih kurang dan sumber daya manusia (SDM) juga tertinggal jauh. Pengusaha sangat memerlukan dukungan pemerintah. Kita ingin bisa memproduksi dengan cost yang efisien,” imbuhnya.

Wakil Ketua Umum Kadin Natsir Mansyur mengatakan, Indonesia masih ada kesempatan untuk mempersiapan diri.

“Setidaknya masih ada waktu sampai akhir tahun 2014 bagi pemerintah untuk membenahi faktor-faktor penunjang. Jika persiapan tidak dilakukan serius, Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, hanya akan jadi pasar empuk negara-negara ASEAN,” cetus politisi Golkar ini.

Natsir melihat sejauh ini pemerintah belum berbuat banyak di dalam melakukan persiapan. Pemerintah baru sebatas menyampaikan imbauan-imbauan saja.

Apakah mungkin Rakornas akan menolak AEC? Natsir memastikan, pengusaha menutup opsi tersebut. Kadin menyadari, perdagangan bebas sudah menjadi keputusan bersama antar negara ASEAN untuk menghadapi persaingan tingkat global.

“Kami hanya meminta komitmen pemerintah di dalam meningkatkan kapasitas daya saing industri dalam negeri. Kalau pemerintah tidak mau, ya kita tidak jalan,” tukas Natsir. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA