Kemenperin Akui Bangun Smelter Tembaga Tak Mudah

PLN Siap Suplai Listrik Di Daerah

Kamis, 16 Mei 2013, 07:57 WIB
Kemenperin Akui Bangun Smelter Tembaga Tak Mudah
ilustrasi/ist
rmol news logo Pembangunan pabrik pengolahan mineral terhambat pada sektor tembaga. Untuk pengolahan bijih besi, bauksit dan nikel sudah cukup jelas arah dan kesulitannya juga tidak terlalu besar. Tapi untuk tembaga masih banyak yang harus dikaji dan didiskusikan.

Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, pembangunan smelter (pabrik pemurnian) tembaga tidak semudah mineral lain karena pengolahan konsentrat pada tembaga tidak sederhana. Selain itu, agar bisa terealisasi, pembangunan smelter tembaga bisa terintegrasi dengan industri hulu atau hilir dalam sektor tembaga.

“Bagaimana kalau terintegrasi ke hulu atau hilir. Kalau secara khusus di pengolahan smelter tembaga peningkatannya tidak terlalu banyak,” jelasnya.
Aturan pembangunan smelter tertuang dalam Undang-Undang Mineral dan Batubara Nomor 4 Tahun 2009 mengenai percepatan peningkatan nilai tambah mineral melalui pengolahan dan pemurnian dengan membangun smelter di dalam negeri.

Mengenai permintaan pengusaha mineral untuk memundurkan rencana penghentian ekspor mineral dari 2014, Panggah menilai, keputusan tersebut masih dikaji di kementerian terkait.

“Tergantung dari kondisi masing-masing, kita akan sampaikan fakta objektif di lapangan. Kalau mundur kan harus ada dasarnya, kita sedang menghitung angkaangka objektifnya,” jelasnya.

Pembatasan ekspor bijih mineral yang mulai berlaku 2014 dilakukan karena ekspor bahan mentah melonjak dalam tiga tahun terakhir. Volume ekspor naik delapan kali lipat pada akhir 2011 dibanding 2008.

Pembatasan ekspor berlandaskan Keputusan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral. Ekspor dibatasi agar di dalam negeri bisa terbentuk sebuah industri bernilai tambah.

PT PLN (Persero) mendukung kegiatan hilirisasi di sektor tambang mineral batubara (minerba). Kepala Divisi Niaga PLN Benny Marbun mengatakan, proyek pembangkit ini diperlukan untuk mensuplai pasokan listrik untuk smelter yang kapasitasnya cukup besar.

Menurutnya, sebaran lokasi untuk proyek pembangkit suplai listrik smelter terbesar ada di Jawa Timur, diikuti daerah timur Indonesia yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Untuk pengolahan yang bakal dijalankan, PLN beorientasi dengan pemurnian feronikel dan tambang mangan. “Kebanyakan feronikel. Kami siap untuk suplai di manapun tempatnya,” ujar Benny. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA