Produk Transgenik Belum Dapat Izin Komersialisasi

Bisa Kurangi Ketergantungan Impor

Selasa, 07 Mei 2013, 08:10 WIB
Produk Transgenik Belum Dapat Izin Komersialisasi
ilustrasi, Jagung
rmol news logo Ketergantungan impor pangan Indonesia cukup besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, impor beras mencapai 1,8 juta ton dengan nilai 945,6 juta dolar AS.

Sedangkan impor jagung mencapai 1,7 juta ton senilai 501,9 juta dolar AS. Impor kedelai mencapai 1,9 juta ton dengan nilai 1,2 miliar dolar AS. Impor gula pasir mencapai 91,1 ribu ton dengan nilai 62 juta dolar AS.

Corporate Affair Lead Monsanto Herry Kristanto menyodorkan produk pangan transgenik buatan dalam negeri untuk menggurangi ketergantungan impor. Dia berharap, produk pangan transgenik yang sudah memenuhi persyaratan bisa segera dilepas ke pasar.

“Selama ini kita konsumsi jagung dan kedelai transgenik impor dalam jumlah besar. Tetapi produsen lokal benih transgenik sampai sekarang belum mendapatkan izin komersialisasi produk,” kata Herry di Bogor, kemarin.

Herry mengungkapkan, saat ini ada 11 produk benih transgenik yang diproduksi di dalam negeri. Sayang, produk-produk tersebut belum mendapatkan izin penjualan di pasar karena menunggu rekomendasi aman pangan, aman lingkungan dan aman pakan dari Komisi Keamanan Hayati (KKH).

Dia menuturkan, produk transgenik tebu tahan kekeringan sudah mendapatkan rekomendasi aman pangan dan lingkungan. Tebu itu hasil pengembangan kerjasama perusahaan perkebunan, PT PN (PT Perkebunan Nusantara) dengan Universitas Jember.

Menurut Herry, jika KKH memberikan satu rekomendasi aman pakan, maka produk tebu transgenik tebu bisa dijual di pasaran. Dia yakin, bila produk itu diizinkan maka Indonesia akan surplus gula. “Dengan kapasitas produksi benih 13 ribu ton, Indonesia bisa menjadi eksportir,” harapnya.

Sekadar informasi, produk transgenik merupakan pengembangan pertanian dengan cara rekayasa genetik. Selama ini di dunia pengembangan pertanian melalui proses trangenik menimbulkan pro dan kontra karena produk tersebut dinilai tidak aman.

Selain tebu, lanjut Herry, produk jagung juga tinggal satu izin rekomendasi lagi. Jagung transgenik sudah mendapatkan rekomendasi aman dari sisi pangan dan pakan, namun belum mendapatkan rekomendasi aman lingkungan.

Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) Witjaksono mengatakan, pemerintah memang harus mencari alternatif di dalam melakukan pengembangan produksi pangan. Sebab, menurutnya, sulit mencapai ketahanan pangan jika hanya bergantung pada kekuatan lahan.

Peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian Litbang Kementerian Pertanian Bahagiawati mengungkapkan, impor jagung Indonesia mencapai 3,1 juta ton. Dengan tingginya impor, lanjutnya, produk trangenik harus segera dikembangkan petani untuk mengurangi ketergantungan impor. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA