APBN Ngos-ngosan Biayai Impor BBM

Selama April, Pemerintah Merogoh Kocek Rp 200 Triliun

Sabtu, 27 April 2013, 08:00 WIB
APBN Ngos-ngosan Biayai Impor BBM
ilustrasi/ist
rmol news logo Kebiasan pemerintah mengimpor BBM terus membebani anggaran negara. Bahkan, setiap tahun pemerintah harus mengeluarkan anggaran ratusan triliun.

Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mencatat, impor minyak mentah dan BBM yang dilakukan Indonesia sebesar 765 ribu barel per hari (bph sepanjang April 2013. Impor itu terdiri dari 385 ribu bph BBM dan 380 ribu bph minyak mentah.

“Sekarang hitung saja, satu hari di April BBM impor 385 ribu bph dan crude 380 ribu bph,” katanya.

Jika dikalkulasikan, pemerintah menghabiskan dana Rp 200 triliunan untuk mengimpor minyak mentah dan produk BBM.

“Kita asumsikan begini, produk tersebut kita kalikan dengan harga minyak 100 dolar AS per barel dengan asumsi kurs rupiah Rp 9.500 dikali satu tahun sebanyak 365 hari,” paparnya.

Susilo juga mengatakan, opsi pengendalian BBM subsidi yang sedang digodok pemerintah saat ini belum bisa menurunkan impor BBM. Alasannya, karena terus bertambahnya volume kendaraan bermotor dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sebenarnya ada cara untuk menekan impor BBM, yaitu dengan memberdayakan alat transportasi massal. Dengan demikian, masyarakat yang biasanya menggunakan kendaraan pribadi akan beralih memanfaatkan transportasi umum sehingga mengurangi kemacetan.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Herman Darnel mengakui, akibat bergantung ke impor, ketahanan energi nasional sangat rapuh. Bayangkan, stok minyak nasional hanya sekitar 21 hari. “Stok 21 hari itu belum termasuk dipotong dengan lamanya transportasi dan distribusi BBM,” kata Herman.

Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati mengaku belum bisa menentukan berapa besar impor BBM setelah pemerintah menerapkan dua harga BBM bersubsidi. Pihaknya masih menunggu kebijakan pemerintah terkait impor BBM tersebut.

Kepala Pusat Kebijakan Fiskal Kemenkeu Rofyanto Kurniawan mengatakan, kenaikan impor minyak dalam bentuk minyak mentah maupun produk BBM dapat menambah beban APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).

Menurut dia, kenaikan impor BBM secara otomatis meningkatkan volume BBM bersubsidi. Tingginya impor BBM juga akan menekan nilai tukar rupiah. APBN sudah ngos ngosan untuk membiayai impor BBM tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor minyak mentah per Februari 2013 mencapai 2,01 miliar dolar AS atau sekitar Rp 19,53 triliun dan impor hasil minyak 5,07 miliar dolar AS atau Rp 49,26 triliun.

Direktur BBM Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Djoko Siswanto mengatakan, rencana pemerintah menambah kuota BBM bersubsidi bakal meningkatkan impor. Bahkan, jika pemerintah jadi meminta kuota BBM subsidi dari 46 juta kiloliter (KL) menjadi 49 juta KL, akan ada tambahan impor hingga 3,5 juta KL lagi di tahun ini.

“Impor tidak bisa dibendung mengingat kapasitas kilang domestik yang sama sekali tak bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri. Kapasitas kilang saat ini hanya mampu memproduksi 34 juta kiloliter dari total kuota 46 juta kiloliter,” kata Djoko. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA