Menurut dia, laporan dari masyarakat tersebut bertujuan agar ketika terjadi kelangkaan kebutuhan bahan pokok di daerah, pemerintah bisa segera mengambil kebijakan secara cepat dan akurat.
“Itu untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stablisasi harga
bahan pangan pokok,†kata Gita di Jakarta, kemarin.
Gita menjelaskan, saat ini harga bahan pokok cukup stabil. Ia mencontohkan harga beras jenis IR 64 II yang harganya Rp 7.500 per kilogram (kg).
Berdasarkan data Kemendag, komoditas lainnya yang tidak mengalami perubahan harga adalah gula pasir Rp 11.000/kg, minyak goreng curah Rp 9.500/kg, daging sapi Rp 76.000/kg, daging ayam broiler Rp 22.000/kg, telur ayam ras Rp 15.000, tepung terigu Rp 6.800/kg, kedelai Rp 7.667/kg, cabe merah keriting Rp 20.000/kg, bawang putih Rp 25.000/kg, cabe rawit merah Rp 35.000/kg dan bawang merah Rp 35.000/kg.
Sementara Paguyuban Pedagang Mie dan Bakso (Papmiso) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat masih mengeluhkan mahalnya harga daging. Karena itu, mereka berencana mogok jualan selama sehari pada Minggu (21/4).
“Mogok jualan ribuan anggota Papmiso tidak bisa ditawar lagi karena tingginya harga daging segar,†kata Ketua Papmiso Kabupaten Bekasi Supriyadi di Jakarta, kemarin.
Dia mengatakan, pihaknya meminta pemerintah memperhatikan pedagang kecil. Jangan sampai daging dikuasai oleh kartel-kartel yang membuat sengsara pedagang kecil.
“Tapi kalau dalam tiga hari ke depan harga daging sapi sudah kembali normal, kami tak perlu mogok berjualan,†katanya.
Ketua Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso Trisetyo Budiman mengatakan, dampak yang paling nyata akibat kenaikan harga daging adalah beralihnya profesi pedagang bakso.
Tri memperkirakan, ada 7.500 pedagang bakso dan penggilingan bakso yang tak lagi bekerja dan lebih memilih untuk beralih profesi.
“Kalau di Jakarta itu 50.000 orang, taruh aja 15 persen itu sudah 7.500 orang,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google