Ancaman itu disampaikan KoÂrea Utara karena terganggu deÂngan latihan perang yang digelar AS dan Korea Selatan. Dalam latihan perang tersebut AS mengÂoperasikan pesawat pengebom anti radar.
“Kami tidak menemukan indiÂkasi pada titik ini bahwa itu (anÂcaman Korea Utara) tidak lebih dari retorika perang,†ujar pejabat senior di Kementerian PertaÂhanan AS yang kepada CNN meminta agar namanya tidak disebutkan.
Dewan Keamanan Nasional yang memberikan nasihat kepada Presiden Barack Obama meÂngeÂnai hal ini juga memiliki peÂnilaian sama. Namun, mereka menganggap AS harus tetap waspada.
“Tetapi, kami juga mencatat bahwa Korea Utara memiliki sejarah yang panjang dalam hal retorika untuk memperlihatkan keinginannya berperang (belliÂcose rethoric), dan hari ini pengÂumuman (Korea Utara) memÂperÂlihatkan pola yang sudah umum,†ujar jurubicara Dewan Keamanan Nasional Caitlin Hayden.
Meski mengumumkan perang, kompleks industri antar-Korea, yang terletak di Korut tetap berÂoperasi seperti biasa, kemarin.
Kompleks di kota Kaesong, persis di utara perbatasan, berÂopeÂrasi seperti biasa setelah PyongÂyang memperingatkan unÂtuk menutupnya saat mengÂumumkan “keadaan perang†deÂngan Korsel pada Sabtu (30/3).
Kompleks Industri Kaesong di Korut dibangun Korsel 2004 sebagai simbol kerja sama lintas perbatasan.
Sekitar 53.000 warga Korut beÂkerja pada 120 perusahaan Korsel di kompleks, yang merupaÂkan satu sumber penting keuangan bagi untuk negara komunis itu.
Ketegangan meningkat antara Korut dan Korsel dan pada Sabtu Pyongyang memperingatkan Seoul dan Washington bahwa setiap provokasi akan dengan cepat meningkat menjadi konflik nuklir besar-besaran.
Korea secara teknis masih dalam keadaan perang karena Perang Korea tahun 1950-1953 diakhiri dengan satu perjanjian gencatan senjata bukan satu perjanjian perdamaian. Korut awal Maret mengumumkan genÂcatan senjata itu tidak berlaku lagi. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: