Gile... Satu Paket Kereta Bekas Jepang Rp 800 Juta

Kemenhub & KAI Lebih Hobi Impor KA Ketimbang Beli Dari Inka

Senin, 01 April 2013, 08:05 WIB
Gile... Satu Paket Kereta Bekas Jepang Rp 800 Juta
ilustrasi, kereta
rmol news logo .Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) diminta mengurangi impor kereta api bekas dari Jepang meski harganya lebih murah dibanding produk dalam negeri.

Anggota Komisi V DPR Yudi Widiana mengatakan, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan pembatasan waktu impor kereta api (KA) bekas dari Negeri Ma­tahari Terbit tersebut.

“Harus ada batas waktu sampai kapan kita impor kereta bekas, ja­ngan terus-terusan impor,” sentil Yudi kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dia mengakui, harga kereta be­kas dari Jepang lebih mu­rah, satu paketnya Rp 800 juta di­banding harga kereta baru buatan PT In­dustri Kereta Api (Inka). Karena itu, dia tidak kaget jika KAI dan Kemenhub senang impor.

Menurut Yudi, penghentian im­por harus dibarengi dengan pe­nguatan Inka agar bisa me­menuhi kebutuhan KAI. Sebelum meng­hentikan impor kereta api, harus dihitung dulu kebutuhan kereta sampai 2016. Apalagi pertum­buh­an penumpang terus melon­jak. Dari 738 gerbong, 40 per­sennya su­dah berusia di atas 30 tahun. Itu yang harus diganti.

“Inka harus bisa memenuhi pe­sanan gerbong-gerbong untuk me­ngiringi melonjaknya pertum­buhan penumpang,” ucapnya.

Anggota Dewan Insinyur Per­sa­tuan Insinyur Indonesia (PII) Said Didu mengatakan, secara ber­tahap impor kereta bekas ha­rus dikurangi. Seharusnya, untuk gerbong khusus dan baru dipesan dari Inka.

“Impor kereta bekas tersebut sebagai dampak dari terbatasnya APBN untuk beli gerbong baru. Ini semua dampak dari habisnya dana APBN sekitar 22 persen buat subsidi BBM. Harusnya dana ter­sebut sebagian dialihkan untuk me­nambah gerbong,” jelasnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan memberikan wak­tu hingga 2016 kepada KAI me­la­ku­­kan impor kereta bekas. Me­nu­rutnya, KAI harus meng­gu­nakan gerbong produksi da­lam negeri. Makanya, dia juga me­minta PT Inka mem­persiap­kan diri meme­nuhi kebu­tuhan ger­bong KA.

“Ini tugasnya direksi (Inka). Direksinya harus mampu mem­buat roadmap 2016. Kalau tidak menyerah saja, nanti saya ganti,” ucap Dahlan.

Kepala Pusat Komunikasi Pub­lik Kemenhub Bambang S Ervan mengatakan, alasan pihak­nya masih mengimpor kereta untuk mensuplai kebutu­han dalam ne­geri. “Impor yang dilakukan tidak terkait dengan harga,” katanya.

Namun, dia menegaskan pi­hak­nya juga sudah banyak meng­gunakan produk Inka, salah sa­tunya kereta ekonomi jarak jauh. KAI setiap tahun memesan ger­bong ke Inka.

Kepala Humas KAI Mateta Ri­zalulhaq mengatakan, pela­rangan impor kereta api bekas harus diba­rengi dengan kemam­puan pro­duksi Inka meme­nuhi kuota ger­bong yang dibutuhkan.

Menurut dia, alasan selama ini pihaknya lebih memilih impor ke­­timbang memesan langsung da­ri Inka karena kapasitas pro­duk­sinya belum bisa memenuhi ke­butuhan kereta yang diperlu­kan perseroan. Selain itu, biaya per unit lebih tinggi dibanding im­por kereta dari Negeri Sakura.

“Begini, kita kan butuh cepat. Untuk tahun ini saja, kita meng­impor 180 unit. Kita butuh cepat, mendesak,” tegas Mateta.

Dirut PT Inka Agus Purnomo mengklaim pihaknya sudah mam­pu memproduksi kereta api. Na­mun, dia memak­lumi pilih­an KAI yang lebih senang impor kereta bekas Jepang ketimbang membe­li kereta dari perusa­haannya.

Alasannya, kata Agus, peme­rintah mewa­jib­kan operator la­yanan kereta menetapkan batas maksimal har­ga tiket. Karena harus murah, KAI pasti lebih su­ka jika biaya pengadaan kereta baru terjangkau untuk menutup kebutuhan ope­rasional.

“Harga satu KRL bisa 1 juta dolar AS per satu gerbong. Di luar negeri seperti Jepang kereta baru malah 1,8 juta dolar AS. Ta­pi tarifnya diatur pemerintah, tidak boleh tinggi. Yang saya tahu bagaimana in­vestasi ini kembali sehingga kalau beli baru tidak balik duitnya,” ungkap Agus. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA