Anggota Komisi V DPR Yudi Widiana mengatakan, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan pembatasan waktu impor kereta api (KA) bekas dari Negeri MaÂtahari Terbit tersebut.
“Harus ada batas waktu sampai kapan kita impor kereta bekas, jaÂngan terus-terusan impor,†sentil Yudi kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Dia mengakui, harga kereta beÂkas dari Jepang lebih muÂrah, satu paketnya Rp 800 juta diÂbanding harga kereta baru buatan PT InÂdustri Kereta Api (Inka). Karena itu, dia tidak kaget jika KAI dan Kemenhub senang impor.
Menurut Yudi, penghentian imÂpor harus dibarengi dengan peÂnguatan Inka agar bisa meÂmenuhi kebutuhan KAI. Sebelum mengÂhentikan impor kereta api, harus dihitung dulu kebutuhan kereta sampai 2016. Apalagi pertumÂbuhÂan penumpang terus melonÂjak. Dari 738 gerbong, 40 perÂsennya suÂdah berusia di atas 30 tahun. Itu yang harus diganti.
“Inka harus bisa memenuhi peÂsanan gerbong-gerbong untuk meÂngiringi melonjaknya pertumÂbuhan penumpang,†ucapnya.
Anggota Dewan Insinyur PerÂsaÂtuan Insinyur Indonesia (PII) Said Didu mengatakan, secara berÂtahap impor kereta bekas haÂrus dikurangi. Seharusnya, untuk gerbong khusus dan baru dipesan dari Inka.
“Impor kereta bekas tersebut sebagai dampak dari terbatasnya APBN untuk beli gerbong baru. Ini semua dampak dari habisnya dana APBN sekitar 22 persen buat subsidi BBM. Harusnya dana terÂsebut sebagian dialihkan untuk meÂnambah gerbong,†jelasnya.
Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan memberikan wakÂtu hingga 2016 kepada KAI meÂlaÂkuÂÂkan impor kereta bekas. MeÂnuÂrutnya, KAI harus mengÂguÂnakan gerbong produksi daÂlam negeri. Makanya, dia juga meÂminta PT Inka memÂpersiapÂkan diri memeÂnuhi kebuÂtuhan gerÂbong KA.
“Ini tugasnya direksi (Inka). Direksinya harus mampu memÂbuat
roadmap 2016. Kalau tidak menyerah saja, nanti saya ganti,†ucap Dahlan.
Kepala Pusat Komunikasi PubÂlik Kemenhub Bambang S Ervan mengatakan, alasan pihakÂnya masih mengimpor kereta untuk mensuplai kebutuÂhan dalam neÂgeri. “Impor yang dilakukan tidak terkait dengan harga,†katanya.
Namun, dia menegaskan piÂhakÂnya juga sudah banyak mengÂgunakan produk Inka, salah saÂtunya kereta ekonomi jarak jauh. KAI setiap tahun memesan gerÂbong ke Inka.
Kepala Humas KAI Mateta RiÂzalulhaq mengatakan, pelaÂrangan impor kereta api bekas harus dibaÂrengi dengan kemamÂpuan proÂduksi Inka memeÂnuhi kuota gerÂbong yang dibutuhkan.
Menurut dia, alasan selama ini pihaknya lebih memilih impor keÂÂtimbang memesan langsung daÂri Inka karena kapasitas proÂdukÂsinya belum bisa memenuhi keÂbutuhan kereta yang diperluÂkan perseroan. Selain itu, biaya per unit lebih tinggi dibanding imÂpor kereta dari Negeri Sakura.
“Begini, kita kan butuh cepat. Untuk tahun ini saja, kita mengÂimpor 180 unit. Kita butuh cepat, mendesak,†tegas Mateta.
Dirut PT Inka Agus Purnomo mengklaim pihaknya sudah mamÂpu memproduksi kereta api. NaÂmun, dia memakÂlumi pilihÂan KAI yang lebih senang impor kereta bekas Jepang ketimbang membeÂli kereta dari perusaÂhaannya.
Alasannya, kata Agus, pemeÂrintah mewaÂjibÂkan operator laÂyanan kereta menetapkan batas maksimal harÂga tiket. Karena harus murah, KAI pasti lebih suÂka jika biaya pengadaan kereta baru terjangkau untuk menutup kebutuhan opeÂrasional.
“Harga satu KRL bisa 1 juta dolar AS per satu gerbong. Di luar negeri seperti Jepang kereta baru malah 1,8 juta dolar AS. TaÂpi tarifnya diatur pemerintah, tidak boleh tinggi. Yang saya tahu bagaimana inÂvestasi ini kembali sehingga kalau beli baru tidak balik duitnya,†ungkap Agus. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: