Wamentan Cari Kambing Hitam & Lepas Tangan

Bilang Kenaikan Harga Cabe Karena Masyarakat Gemar Sambal

Sabtu, 30 Maret 2013, 08:22 WIB
Wamentan Cari Kambing Hitam & Lepas Tangan
ilustrasi, Cabe
rmol news logo Kalangan DPR menyesalkan pernyataan Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan yang menilai salah satu penyebab mahalnya harga cabe akibat budaya masyarakat yang gemar mengkonsumsi sambal memakai cabe segar.

Anggota Komisi IV DPR Yus­ran Aspar menilai, pernyataan Wamentan tersebut sama saja menyalahkan masyarakat.

“Pemerintah terkesan ingin le­pas tangan dan lempar tanggung jawab,” kata Yusran kepada Rak­yat Merdeka, kemarin.

Yusran mengakui, masyara­kat Indonesia gemar mengkon­sumsi sambal. Namun, menu­rut­nya, ti­dak pantas kebiasaan itu dijadi­kan kambing hitam ke­naikan har­ga cabe belakangan ini. Ka­rena, meng­konsumsi sam­bal itu wari­san nenek mo­yang negeri ini.

Di luar masalah budaya, lan­jut­nya, mengkon­sumsi sambal me­nyangkut selera makan pribadi orang. “Jadi tidak pas, jika di­anggap sebagai biang kenaikan  harga cabe belakangan ini,” sentil Yusran.

Yusran meminta, Kementerian Pertanian fokus saja mengurus pe­­ningkatan produksi. Tidak per­lu mengurusi masalah budaya.

“Tingkatkan saja produksi, bantu petani agar bisa berkem­bang. Ke­mentan harus mengakui selama ini produksi pangan kita tidak maksimal,” katanya.

Ketua Dewan Hortikultura Na­sional (DHN) Benny Kusbini juga menyesalkan pernyataan Wamentan tersebut. “Itu bisa me­nyakit­kan masyarakat. Tidak per­lu­ lah menyalahkan pola kon­sumsi ma­syarakat,” kritiknya.

Namun demikian, Benny me­minta pernyataaan itu tidak perlu diperpanjang. Kepada Kemen­tan, dia mendesak segera mela­kukan evaluasi. “Kementan ha­rus eva­luasi kinerjanya atas se­ring lang­ka dan mahalnya ko­moditas pa­ngan,” imbuhnya.

Sementara Rusman Heriawan ketika ingin dimintai komentar­nya mengenai kritik itu, ponsel­nya tidak bisa dihubungi. Seka­dar informasi, Rusman menyam­paikan pernyataan tersebut  saat menghadiri Rapat Koordinasi De­wan Ketahanan Pangan di Se­marang, Rabu (27/3).

Dia bi­lang, cabe langka karena me­nyang­kut pola konsumsi mas­ya­rakat yang tinggi. Sementara pro­duksi cabe sangat bergantung musim. Untuk itu, Rusman me­nya­rankan masyara­kat mengkon­sumsi sambal instan guna men­siasati mahal­nya harga cabe.

Harga cabe dua pekan bela­kangan ini naik hampir 100 per­sen. Harga cabe merah Rp 43-45 ribu per kilogram (kg). Harga sebelumnya Rp 25 ribu per kg. 

Berdasarkan  pantauan Rakyat Merdeka, harga cabe sampai ke­marin belum alami penurunan.

“Masih mahal, saya masih jual Rp 45 ribu per kg. Malahan di sini ada pedagang yang menjual Rp 50 ribu per kg,” kata Endang, peda­gang sayuran di pasar Se­rang, Cikarang.

Endang mengatakan, harga ca­be masih mahal karena stok di pasar induk terbatas. Selain di Pasar Serang, di Pasar Kebayo­ran, Jakarta Selatan pun sama, harga cabe belum mengalami pe­nurunan. [Harian Rakyat Merdeka]



Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA