Anggota Komisi VII DPR Dewi Ariyani menilai, BUMN itu hanya menjual gas dengan aloÂkasi yang terlalu sedikit untuk sektor transportasi. Padahal, pasokan gas yang besar ke sektor angkutan umum dapat menguÂrangi beban subsidi BBM.
“Sekarang
tagline PGN kan sebagai distributor dan
trader gas. Mestinya PGN bisa menjadi perusahaan yang naik kelas, gimana caranya bisa membuat masÂterplan, salah satu sektor yang dilayani adalah transporÂtaÂsi,†kata politisi PDIP ini.
Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso mengaku siap menÂdapat peran serupa Pertamina. Pihaknya telah memulai pemÂbangunan infrastruktur untuk konversi gas sejak tiga tahun lalu di Jawa Timur dengan memasok BBG untuk sekitar 3.000 angkuÂtan umum dan taksi.
“Kami dapat dimanfaatkan unÂtuk mensukseskan konversi. SaÂyangnya kami tidak punya peran formal dalam program konversi gas. Kami hanya berharap menÂdapat kesempatan,†jelasnya.
Selain itu, Hendi menegasÂkan, jaringan pipa gas yang dikeÂlola PGN dapat dimanÂfaatkan setiap SPBU, tanpa harus membangun SPBG baru. UsuÂlan ini sudah disampaikan ke Direktur Jenderal Migas KeÂmenterian ESDM.
“Kami tawarkan ke Dirjen Migas bahwa jaringan gas PGN dapat dimanfaatkan untuk perceÂpatan konversi, kami bisa saja melakukan instalasi dispenser di SPBU dalam jaringan terdekat yang dekat jaringan operasi kami sehingga dapat menyuplai gas untuk BBG,†tuturnya.
PGN menilai, dengan sistem ini pemerintah dan swasta tidak perlu mengeluarkan biaya miliaÂran rupiah untuk membangun SPBG dalam jumlah besar. PihakÂnya bahkan siap tidak meÂngambil untung selain mencari impas dari pemasangan dispenser gas di SPBU.
“Kami juga tawarkan kepada Hiswana Migas, seluruh SPBU tingÂgal ditambah dispenser. Kami siap tidak mengambil untung, mengingat pentingnya program ini,†paparnya.
Satu-satunya hambatan PGN saat ini untuk mendukung proÂgram konversi adalah rendahnya jatah alokasi produksi gas naÂsional. Hendi menyatakan, jika jaÂtah PGN tetap 8,7 persen dari 8.425 miliar kubik gas, sulit baÂginya meningkatkan distribusi ke sektor transportasi umum.
“Konversi BBM ke BBG kami dukung 200 persen, kami tidak minÂta APBN, kami hanya minta tambahan pasokan alokasi gas, kami sudah siapkan dana korÂporat,†tegasnya.
PGN saat ini memiliki pipa distribusi gas 3.865 kilometer dan pipa transmisi 2.047 kilometer di Sumatera dan Jawa. Perusahaan pelat merah itu memiliki pelangÂgan total 90.364, mayoritas rumah tangga dan industri. JaÂringan pipa itu yang menjadi jaÂminan Hendi untuk mendukung penyaluran gas ke SPBU dalam konversi BBM ke BBG.
Ketua Umum Asosiasi PenguÂsaha CNG Indonesia (APCNGI) Danny Praditya mengatakan, pemerintah tidak bisa melakukan konversi BBM ke gas sendiri. Pemerintah, lanjutnya, harus menggandeng swasta mensuksesÂkan program tersebut.
Bila hal itu dilakukan, kata dia, para penguÂsaha siap mendukung program konversi , khususnya di sektor transportasi dengan meÂlakukan investasi infrastruktur utama maupun penunjang guna memÂperÂcepat penyediaan infraÂstruktur SPBG.
Dia mengatakan, pemeÂrintah harus menerapkan harga gas yang sama di semua titik SPBG untuk keperluan transportasi dan memÂberikan insentif bagi kendaraan berbahan bakar gas, termasuk pembebasan pajak.
“Insentif bagi swasta yang berÂinvestasi di infrastruktur SPBG juga harus dilakukan dengan pemÂbebasan pajak pertambahan nilai (PPN) dan bea masuk atas bahan bakar gas dan peralatan utama dan penunjang BBG,†katanya.
Selain itu, lanjut Danny, pemerintah juga harus mengÂoptiÂmalkan infrastruktur SPBG dan
transporter yang sudah ada daÂlam percepatan program BBG. Selain itu, harus dilakukan sosialisasi secara intensif kepada khalayak umum sebagai bahan bakar yang murah, aman, efisien dan ramah lingkungan.
Pemerintah mencanangkan percepatan konÂversi konsumsi BBM ke BBG sejak tahun lalu. Hanya saja, perÂaturan presiden yang mengatur program ini hanya memberi peran kepada Pertamina. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: