Ketua APPBI Handaka SanÂtosa mengatakan, pihaknya saÂngat khawatir kenaikan TDL akan mengÂÂgangu dunia usaha.
“Kebutuhan listrik di pusat perÂbelanjaan tidak bisa dihinÂdari. Terutama mall, karena seÂtiap geÂrai banyak menggunakan alat peÂnerangan,†kata Handaka keÂpada
Rakyat Merdeka, keÂmarin.
Menurutnya, kenaikan TDL akan menyebabkan tarif
service charge naik. Service charge meÂruÂpakan biaya yang dikenakan pengelola pusat perbelanjaan keÂpada penyewa atau tenant salah satunya biaya tarif listrik.
`Bila tarif service charge, lanÂjutnya, akan diikuti naiknya baÂrang dagangan. Dia mempreÂdiksi, tidak lama setelah TDL naik, maÂka inflasi akan naik.
“Saat ini inÂflasi sudah tinggi, ke depan tentu akan lebih tinggi lagi. Kalau beÂgini dampaknya masyarakat juga akan dirugikan karena harga baÂrang-barang mahal,†katanya.
Inflasi bulan Januari-Februari tercatat naik 1,85 persen dibanÂdingkan bulan sebelumnya. BuÂlan ini inflasi diprediksi naik seiÂring mahalnya harga pangan.
Handaka mengungkapkan, untuk mencegah kenaikan TDL, pihaknya sudah menyampaikan surat protes ke sejumlah instansi pemerintah.
“Tapi sayang, tidak ada yang ditanggapi. Padahal di dalam suÂrat, kami tidak seÂkadar protes, tetapi juga memberikan masukÂan,†curhat bos Mall SenaÂyan City itu.
Apa masukannya? Handaka meminta pemerintah mencarikan solusi untuk menekan mahalnya produksi listrik. Salah satunya dengan menggunakan sumber energi alternatif.
Wakil Ketua Umum PerhimÂpunan Hotel dan Restoran IndoÂnesia (PHRI) Hariyadi SukamÂdani juga mengeluhkan kenaikan TDL. Menurutnya, kenaikan TDL cukup membuat usaha hoÂtel dan restoran kewalahan.
Dia mengatakan, saat ini piÂhaknya sedang mempertimÂbangÂkan kenaikan tarif sewa. Sebab, sudah tidak ada pilihan lain.
“Kalau tidak dinaikan
margin untung yang diperoleh makin kecil. Sementara beban makin tinggi karena kita bukan hanya hadapi kenaikan TDL, tetapi juga upah mininim provinsi (UMP) yang baru naik,†kata Hariyadi.
Berapa besaran kenaikan seÂwa hotel? Hariyadi menjawab saat ini masih digodok. Menurutnya, yang jelas perhitungan harus diÂlakukan dengan hati-hati.
Seperti diketahui, pemerintah menaikkan tarif setrum sebesar 15 persen tahun ini. Kenaikan diÂlaÂkukan secara bertahap per triÂwulan sebesar 4,3 persen. KenaiÂkan tahap I sudah dilakukan pada bulan Januari. Dan tahap kedua akan dilakukan pada 1 April.
Direktur Utama PLN Nur PaÂmudji ogah berkomentar ketika ditanya meÂngenai keberatan pengusaha.
“No comment,†kataÂnya singkat.
Pengamat Energi dari UniverÂsitas Indonesia Iwa Garniwa beÂlum lama ini menyampaikan kriÂtik terhadap rencana pemeÂrinÂtah menaikkan TDL.
Menurut Iwa, keputusan peÂmeÂrintah tidak cerdas karena menÂdahulukan kenaikan TDL diÂbanÂdingkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
“Penghematan yang bisa diÂdaÂpat dari kenaikan TDL secara berÂÂtahap sepanjang tahun ini tidak lebih dari Rp 8 triliun. SeÂmenÂtara bila pemerintah meÂnaikÂÂkan harga BBM bersubÂsidi, minimal Rp 1.500, negara bisa menghemat hingga Rp 70 triÂliun,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: