Protes Kenaikan TDL Pengusaha Dicuekin

Jumat, 29 Maret 2013, 08:27 WIB
Protes Kenaikan TDL Pengusaha Dicuekin
ilustrasi/ist
rmol news logo .Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) keberatan dengan rencana Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) tahap dua yang akan mulai dilakukan bulan April. Mereka khawatir kenaikan tarif membuat usaha lesu.

Ketua APPBI Handaka San­tosa mengatakan, pihaknya sa­ngat khawatir kenaikan TDL akan meng­­gangu dunia usaha.

“Kebutuhan listrik di pusat per­belanjaan tidak bisa dihin­dari. Terutama mall, karena se­tiap ge­rai banyak menggunakan alat pe­nerangan,” kata Handaka ke­pada Rakyat Merdeka, ke­marin.

 Menurutnya, kenaikan TDL akan menyebabkan tarif service charge naik. Service charge me­ru­pakan biaya yang dikenakan pengelola pusat perbelanjaan ke­pada penyewa atau tenant salah satunya biaya tarif listrik.

`Bila tarif service charge, lan­jutnya, akan diikuti naiknya ba­rang dagangan. Dia mempre­diksi, tidak lama setelah TDL naik,  ma­ka inflasi akan naik.

“Saat ini in­flasi sudah tinggi, ke depan tentu akan lebih tinggi lagi. Kalau be­gini dampaknya masyarakat juga akan dirugikan karena harga ba­rang-barang mahal,” katanya.

Inflasi bulan Januari-Februari tercatat naik 1,85 persen diban­dingkan bulan sebelumnya. Bu­lan ini inflasi diprediksi naik sei­ring mahalnya harga pangan.
Handaka mengungkapkan, untuk mencegah kenaikan TDL, pihaknya sudah menyampaikan surat protes  ke sejumlah instansi pemerintah.

“Tapi sayang, tidak ada yang ditanggapi. Padahal di dalam su­rat, kami tidak se­kadar protes, tetapi juga memberikan masuk­an,” curhat bos Mall Sena­yan City itu.

Apa masukannya? Handaka meminta pemerintah mencarikan solusi untuk menekan mahalnya produksi listrik. Salah satunya dengan menggunakan sumber energi alternatif.

Wakil Ketua Umum Perhim­punan Hotel dan Restoran Indo­nesia (PHRI) Hariyadi Sukam­dani juga mengeluhkan kenaikan TDL. Menurutnya, kenaikan TDL cukup membuat usaha ho­tel dan restoran kewalahan.

Dia mengatakan, saat ini pi­haknya sedang mempertim­bang­kan kenaikan tarif sewa. Sebab, sudah tidak ada pilihan lain.

“Kalau tidak dinaikan margin untung yang diperoleh makin kecil. Sementara beban makin tinggi karena kita bukan hanya hadapi kenaikan TDL, tetapi juga upah mininim provinsi (UMP) yang baru naik,” kata Hariyadi.

Berapa besaran kenaikan se­wa hotel? Hariyadi menjawab saat ini masih digodok. Menurutnya, yang jelas perhitungan harus di­lakukan dengan hati-hati.

Seperti diketahui, pemerintah menaikkan tarif setrum sebesar 15 persen tahun ini. Kenaikan di­la­kukan secara bertahap per tri­wulan sebesar 4,3 persen. Kenai­kan tahap I sudah dilakukan pada bulan  Januari. Dan tahap kedua akan dilakukan pada 1 April.
Direktur Utama PLN Nur Pa­mudji ogah berkomentar ketika ditanya me­ngenai keberatan pengusaha. “No comment,” kata­nya singkat.

Pengamat Energi dari Univer­sitas Indonesia Iwa Garniwa be­lum lama ini menyampaikan kri­tik terhadap rencana peme­rin­tah menaikkan TDL.

Menurut­ Iwa, keputusan pe­me­rintah tidak cerdas karena men­dahulukan kenaikan TDL di­ban­dingkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

“Penghematan yang bisa di­da­pat dari kenaikan TDL secara ber­­tahap sepanjang tahun ini tidak lebih dari Rp 8 triliun. Se­men­tara bila pemerintah me­naik­­kan harga BBM bersub­sidi, minimal Rp 1.500, negara bisa menghemat hingga Rp 70 tri­liun,” katanya. [Harian Rakyat Merdeka]



Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA