SKK Migas Alokasikan Gas PKG Dari Jambaran Dan Tiung Biru

Selasa, 19 Maret 2013, 09:09 WIB
SKK Migas Alokasikan Gas PKG Dari Jambaran Dan Tiung Biru
ilustrasi
rmol news logo Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berkomitmen memprioritaskan alokasi gas bagi pabrik pupuk PT Petro Kimia Gresik (PKG).

Sekretaris SKK Migas Gde Pradnyana mengungkapkan, alokasi gas ke PKG berasal dari Lapangan Jambaran dan Tiung Biru dan sudah ditetapkan secara resmi oleh kepala SKK Migas dengan surat nomor 0006/SKO0000/2013/S2.

Surat tersebut menyebutkan soal rencana pemanfaatan gas untuk memenuhi kebutuhan pabrik pupuk PKG dan Pupuk Kujang Cikampek.

Alokasi gas ke PKG dari Lapangan Jambaran dan Tiung Biru juga telah disepakati berdasarkan Notulen Rapat 4 Januari 2013 yang dihadiri dan disetujui oleh PKG dan PT Pupuk Indonesia sebagai holding PKG.

Menurut Gde, dalam menetapkan pasokan gas, pemerintah berpedoman pada empat hal yakni kepentingan nasional, aspek komersial (harga), volume gas dan persoalan teknis. “Empat alasan itu yang mendasari kenapa alokasi gas untuk PKG dari Lapangan Jambaran dan Tiung Biru, Blok Cepu bukan dari Lapangan MDA-MBH yang dioperasikan Husky-CNOOC Madura Ltd,” kata Gde di Jakarta, kemarin.

Secara volume, pasokan gas untuk PKG dari Lapangan Jambaran dan Tiung Biru jauh lebih besar dibanding pasokan dari Lapangan MDA-MBH. Total pasokan gas dari Lapangan Jambaran dan Tiung Biru untuk PKG mencapai 185 BBtud selama 17 tahun, sedangkan kalau dari Lapangan MDA-MBH hanya 120 billion british thermal unit per day (BBtud) dengan waktu hanya sembilan tahun.

“Soal harga, secara logika harga gas yang dialirkan melalui darat jauh lebih murah dibanding laut. Gas dari Lapangan MDA-MBH itu dialirkan melalui pipa East Java Gas Pipeline (EJGP). Pipa EJGP memiliki panjang kurang lebih 350 kilometer yang dibentangkan di bawah laut. Sedangkan gas dari Lapangan Jambaran dan Tiung Biru dialirkan melalui jalur darat,” jelas Gde.

Menurutnya, harga gas untuk PKG dari Lapangan Jambaran dan Tiung Biru disepakati 8,888 dolar AS per million metric british thermal unit (MMbtu) dengan alokasi sebesar 85 million standard cubic feet per day (MMscfd). Sedangkan harga gas dari Lapangan MDA-MBH belum ada kesepakatan apapun. Tapi, PKG menggunakan asumsi harga gas yang berlaku dua hingga tiga tahun lalu yang hanya 6,50 dolar AS per MMbtu dengan eskalasi 3 persen. Padahal, harga gas dinamis, tidak tetap.

Menurut Gde, terkait pertimbangan teknis dan keamanan, secara teknis, jika gas bersumber dari Lapangan Jambaran dan Tiung Biru, kemampuan kapasitas pasokan gas lebih besar dan lebih lama waktunya, yaitu 185 BBtud selama 17 tahun, dibandingkan jika dari Lapangan MDA-MBH yang besarnya hanya 120 BBtud dengan waktu hanya sembilan tahun.

Dari segi keamanan, imbuh Gde, gas dari Lapangan MDA-MBH yang akan dialirkan melalui pipa EJGP, jika dilihat dari kondisi teknis pipa pada sisa umur layanan belum dapat menjamin secara operasional akan dapat dilalui tambahan gas bumi di luar kapasitas EJGP yang sudah mengalir saat ini sebesar 435 MMscfd. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA