Budi (30), seorang penjaga toko ritel di daerah Cibinong, Jawa BaÂrat kepada
Rakyat Merdeka meÂngaÂtakan, dalam beberapa hari ini stok gas di tempatnya kosong baik unÂtuk elpiji 12 kg dan elpiji 3 kg.
Menurutnya, kekosongan stok terÂsebut karena dari agennya tidak diÂkirim. Kelangkaan ini terÂjadi sejak awal Maret terkait renÂcana kenaikan harga elpiji 12 kg.
Selain langka, kata Budi, damÂpak dari rencana tersebut juga meÂnaikkan harga elpiji 12 kg dan 3 kg. “Meski ada (elpiji 12 kg) harÂÂganya saat ini sudah mencapai Rp 80 ribu per tabung. Padahal harÂga dari agennya sekitar Rp 70 ribuan per tabung,†katanya.
Hal yang sama terjadi pada gas elpiji 3 kg. Akibat kelangkaan gas non subsidi tersebut, si tabung melon juga ikutan langka karena banyak diburu. Bahkan, saat ini harÂganya ikutan naik jadi Rp 14 ribu per tabung. Sedangkan harga dari agen Rp 13 ribu per tabung dan pasokannya sangat sulit.
Budi mengaku setiap toko diÂbeÂrikan jatah hanya beberapa taÂbung saja dari agen. Kondisi ini menyeÂbabkan banyak toko keÂhabisan stok. Bahkan, sesama toko harus rebutan untuk bisa memperoleh stok dari agen.
“Harga elpiji meÂmang tidak jadi naik, tapi di laÂpangan sudah naik karena ada yang memainkan stok,†ujarnya.
Hal serupa terjadi di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan. Cici (36), penjaga toko mengaÂtaÂkan, meski pemerintah menunÂda kenaikan harga elpiji 12 kg, tapi harganya sudah naik Rp 20 ribu per tabung. Saat ini harga elÂpiji 12 kg per tabungnya sudah Rp 98 ribu. Padahal sebelumnya haÂnya Rp 73 ribu.
Harga elpiji 3 kg juga ikut naik menjadi Rp 13 ribu-14 ribu. Cici mengaku, sejak ada waÂcana keÂnaikan harga, banyak orang yang mencari elpiji 3 kg. Dia mengaku tidak bisa melaÂrang orang yang membeli elpiji 3 kg.
Ketua Umum Pengusaha WarÂteg Mukroni mengaku saat ini piÂhaknya kesulitan mencari elpiji 3 kg. Selain langka, harganya pun naik. Untuk itu, dia meminta pemerintah segera melakukan operasi pasar untuk mengenÂdalikan harga.
Anggota Komisi VII DPR Rofi’ Munawar mengatakan, peÂmerintah dan Pertamina harus menginventarisasi daerah-daerah yang mengalami kenaikan dan kelangÂkaan. Kemudian melakuÂkan kebijakan intervensi pasar agar konsumen tidak dirugikan karena kenaikan harga elpiji.
Menurutnya, perlu ada sistem monitoring yang akurat dengan strategi distribusi yang tepat saÂsaran. Kelangkaan terjadi akibat agen dan distributor nakal melaÂkukan penimbunan untuk meÂngambil keuntungan sepihak dari rencana kenaikan elpiji 12 kg.
“Kalau kelangkaan elpiji 3 kg terjadi karena perpindahan pengÂgunaan elpiji 12 kg,†jelasnya.
Direktur Pembinaan Usaha HiÂlir Kementerian Energi dan SumÂber Daya Mineral (ESDM) Umi Asngadah menegaskan, piÂhakÂnya akan berkoordinasi deÂngan PerÂtamina untuk mengaÂwasi penjualÂan elpiji 12 kg di lapangan.
Dia juga heran kenapa harga elpiji 12 kg bisa naik dan langka di lapangan, padahal pemerintah sudah menunda rencana kenaikan harga. “Seharusnya belum naik, kita akan mengawasinya,†kata Umi kepada
Rakyat Merdeka, Jumat (15/3).
Sedangkan untuk elpiji 3 kg, menurut dia, seharusnya hargaÂnya tak melebihi harga eceran terÂtingÂgi (HET) yang ditetapkan daerah. Karena itu, daerah harus meÂngeÂcek dan mengendalikan harga.
Terkait rencana pemberlaÂkuan distribusi tertutup elpiji 3 kg, piÂhaknya menunda kebijakan terseÂbut samÂpai ada aturan jelas. Saat ini memang sudah ada aturannya, tapi belum tegas disebutkan siapa yang berhak memperoleh elpiji 3 kg. “Dalam aturan disebutkan untuk rumah tangga dan usaha mikro,†jelas Umi.
Sebelumnya, Menko PerÂekoÂnomian Hatta Rajasa meneÂgaskan, pemerintah belum bisa menyetujui keinginan Pertamina untuk meÂnaikan harga elpiji 12 kg. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: