Daya Tahan Energi RI Tergantung Singapura

Terlalu... Impor BBM Menembus Rp 800 Miliar Per Hari

Rabu, 13 Maret 2013, 08:45 WIB
Daya Tahan Energi RI Tergantung Singapura
ilustrasi
rmol news logo Ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Saat ini 75 persen premium masih diimpor. Terlalu...!!!

Hal itu disampaikan Senior Vice President Fuel Marketing & Distribution Pertamina Suhartoko.

“75 persen premium diimpor. Sisanya diproduksi dari kilang dalam negeri,” katanya.

Namun, untuk solar, kata Suhartoko, masih 75 persen produksi kilang, sisanya impor.

Bekas Direktur Utama Pertamina Ari Sumarno mengatakan, impor BBM tidak bisa dihindari karena konsumsi dalam negeri terus meningkat. Menurutnya, nilai impor BBM Indonesia saat ini sudah mencapai 400 ribu barel per hari.

“Dengan produksi minyak 850 barel per hari impor, bagian pemerintah cuma 600 barel. Sisanya untuk cost recovery dan bagian kontraktor. Sementara kilang kita kapasitas produksinya satu  juta barel per hari,” katanya, kemarin.

Sementara kebutuhan BBM dalam negeri, kata Ari, mencapai 1,4 juta barel per hari.

Tingginya impor BBM, menurut Ari, sangat berbahaya bagi ketahanan energi nasional. Impor juga membuat ketergantungan kepada negara pengimpornya seperti Singapura karena kilangnya ada di sana.

“Ketergantungan kita sama Singapura tinggi,” katanya.

Karena itu, Ari meminta pemerintah segera mengantisipasi ketergantungan dengan membuat perencanaan jangka pendek, menengah dan panjang. Untuk jangka menengah, pemerintah harus segera membangun banyak tangki penyimpanan BBM, seperti di Balongan dan Tuban.

Menurut Ari, pembangunan tangki-tangki untuk menjamin stok BBM. Stok nasional hanya cukup untuk 17 hari, namun jika dilihat per daerah stok untuk DKI hanya cukup untuk lima hari.

“Memang banyak negara yang impor minyak seperti China, namun mereka mempunyai tempat penyimpanan yang banyak. Mereka beli di saat harga terjangkau, sedangkan kita selalu beli spot. Kondisi ini membuat kita jadi cengkraman para trader,” jelasnya.

Untuk jangka panjang, saran Ari, pemerintah perlu membangun kilang. Dia mengakui, dalam pembangunan kilang terkendala kecilnya nilai keekonomian. Sebab itu, pemerintah dan Pertamina harus berani memberikan insentif.

Dewan Penasihat Persatuan Insinyur Indonesia Said Didu mengatakan, nilai impor BBM sudah sangat tinggi. Hal ini sudah bisa dilihat dari defisitnya neraca perdagangan Indonesia. Saat ini, nilai impor BBM hampir Rp 500-800 miliar per hari.

“Kondisi ini membuat kurs melemah dan saat ini kebutuhan BBM 1 juta barel. Dengan harga minyak 100 dolar AS per barel, dibutuhkan devisa 100 juta dolar per hari untuk impor. Kondisi ini menyebabkan kurs melemah dan inflasi naik,” jelas Said.

Bekas Sekretaris Kementerian BUMN itu mengatakan, kondisi itu semakin parah karena pemerintah tetap mempertahankan subsidi BBM yang nilainya mencapai Rp 300 triliun. Dengan harga BBM non subsidi yang naik, akan banyak penggunanya yang beralih ke bensin subsidi.

“Ini semakin menambah impor dan tentu menambah beban fiskal,” jelasnya.
Subsidi naik, utang pun akan naik. Pasalnya, untuk mengurangi defisit anggaran APBN tidak ada sumber lain selain menambah utang.

Sebelumnya, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, konsep konversi energi alternatif seperti gas dapat mengurangi tekanan impor migas yang menyebabkan defisit neraca perdagangan.

“Untuk konversi, saya masih ragu kalau realisasinya terus terhambat seperti sekarang. Kalau konversi ke gas cepat, itu bisa mengurangi impor, namun saat ini masih jauh dari harapan,” kata Hatta.

Tahun ini pemerintah akan mengendalikan impor migas agar tidak menyebabkan defisit perdagangan. Jika sektor migas bisa dikendalikan, maka sektor migas dan non migas akan seimbang. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA