“Batal, sudah nggak laku juÂga. Banyak yang lebih penÂting,†kata Deputi bidang InÂfraÂstruktur dan Pengembangan wiÂlayah KemenÂterian PereÂkoÂnoÂmiÂan Luky Eko Wuryanto di Hotel Four Seasons, Jakarta, kemarin.
Menurutnya, penyatuan zoÂna waktu batal bukan karena peÂmeÂrintah mengalami kendala teknis. Tetapi karena perÂtimÂbaÂngan, renÂcana itu banyak diÂpanÂdang negatif.
“Daripada berÂpolemik berkepanÂjangan, pemeÂrintah lebih baik foÂkus menyeÂlesaikan prioÂritas pemÂbangunan di sisa masa wakÂtu kaÂbinet InÂdonesia BerÂsatu,†kata Luky.
Rencana penyatuan zona wakÂtu sebelumnya didengungkan peÂmeÂrintah untuk mempercepat laÂju perÂtumbuhan ekonomi. PemeÂrintah berencana menyatukan perbedaan wilayah waktu IndoÂnesia yang saat ini dibagi ke daÂlam tiga zona waktu, yaitu Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA) dan Waktu Indonesia Bagian Timur (WIT). Saat ini seÂlisih anÂtara zona waktu yakni satu jam. Rencananya, zona bagian TeÂngah (WITA) akan menjadi patokan.
Keterangan berbeda disamÂpaikan Kepala Divisi Humas dan Promosi Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan EkoÂnomi Indonesia (KP3EI) Edib Muslim. Menurutnya, sejauh ini belum ada pembatalan rencana itu. â€Belum, masih ada dalam agenÂda KP3EI, belum ada pemÂbatalan,†katanya.
Dia menyatakan, pihaknya beÂlum menerima arahan apa pun terÂkait pembatalan penyatuan zoÂna waktu. Diakuinya, pelakÂsana progÂram penyatuan zona waktu molor dari rencana semula. AwalÂnya, penyatuan akan dilaÂkukan 17 Agustus 2012, tapi mundur 28 OkÂtober 2012 dan mundur lagi sampai waktu yang belum ditenÂtukan.
Namun, Edib optimis penyaÂtuan waktu akan berjalan meskiÂpun waktunya belum ditenÂtukan. Sebab, masyarakat IndoÂnesia seÂmakin lama akan terbuka dengan pentingnya penyatuan zona waktu.
Ketua Ikatan Wanita PengusaÂha Indonesia (Iwapi) Nita Yudi menyambut baik pembatalan peÂnyatuan zona waktu. Alasannya, pengusaha tidak perlu melakukan penyeÂsuaian waktu.
Dia mengakui, meskipun peÂnyatuan waktu diÂpandang bagus, tetapi banyak pengusaha belum siap. “Banyak pengusaha belum siap. Penyatuan zona waktu memÂbutuhkan waktu masih perlu diÂsosialisasikan,†kata Nita kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Nita mengatakan, masih baÂnyak yang bisa dilakukan peÂmeÂrintah untuk mendorong laju perÂtumbuhan ekonomi selain penyaÂtuan zona waktu. Misalnya, pemÂberantasan pungutan liar dan kemudahan mengakses perÂizinÂan. Dua masalah itu selama ini paling banyak dikeluhkan. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: