“Kami akan mempertajam program sosialisasi mengenai penggunaan gula rafinasi kepada IKM di sektor olahan pangan,†kata Dirjen IKM Kemenperin Euis Saedah, kemarin.
Menurutnya, sosialisasi tersebut diperlukan agar IKM mampu menghasilkan produk makanan dan minuman yang berkualitas. Sehingga produk yang dihasilkan memiliki berkualitas dan punya daya saing.
Euis mengaku gula rafinasi merupakan jenis gula yang cocok untuk digunakan bagi kegiatan produksi makanan dan minuman. Karena, kualitas gula rafinasi yang jauh lebih baik dibanding jenis gula lainnya. “Kalau pakai gula biasa produknya tidak tahan lama dan mudah rusak atau blenyek. Selain itu, harga gula rafinasi juga lebih murah,†ungkapnya.
Agar IKM dapat mengenal lebih banyak lagi soal gula rafinasi, Kemenperin akan mensosialisasikan penggunaan gula rafinasi melalui dinas-dinas perindustrian di seluruh Indonesia.
Selain melalui dinas perindustrian, menurut Euis, kegiatan tersebut juga akan dilakukan dengan menggandeng Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI). Langkah ini, lanjutnya, sudah dimulai ketika beberapa hari lalu Kemenperin menfasilitasi terjadinya kerja sama kemitraan antara AGRI dengan Koperasi Unit Desa (KUD) Wenang dari Sulawesi Utara.
Melalui kerja sama ini, AGRI akan memberikan kemudahan kepada KUD Wenang dalam mendapatkan pasokan gula rafinasi secara berkesinambungan denga harga yang jauh lebih murah
Dengan kerja sama kemitraan ini, ungkap Euis, sosialisasi penggunaan gula rafinasi kepada IKM bisa menjadi lebih efektif karena mudah memperoleh barang tersebut.
“Kegiatan itu memang sangat diperlukan karena masih banyak IKM yang belum mengetahui secara detil keunggulan penggunaan gula rafinasi dalam kegiatan produksi mereka,†jelas Ketua KUD Wenang Joost Sepang.
Joost mengaku dari 6.972 IKM anggota KUD Wenang, belum semua mengetahui secara jelas tentang keunggulan penggunaan gula rafinasi. Masih ada sebagian IKM yang belum paham benar dengan gula rafinasi. Hal ini perlu diatasi dengan meningkatkan sosialisasi tentang gula rafinasi kepada mereka.
Kualitas produk yang masih lemah dan pasokan bahan baku yang seret, kata dia, merupakan kendala yang banyak ditemui di IKM. Padahal, banyak pelaku IKM di sektor makanan dan minuman yang memiliki peluang untuk berkembang. Apalagi, produk yang dibuatnya memiliki ciri khas tersendiri dan unik yang banyak diminati masyarakat, seperti kue-kue khas daerah.
Namun, mereka tidak mampu memanfaatkan peluang yang sudah di depan mata karena produk yang dibuat tidak tahan lama atau kualitas produknya kurang bagus.
Ketua AGRI Suryo Alam menambahkan, permintaan gula rafinasi tetap tinggi tahun ini, tidak cuma dari pelaku industri makanan besar tapi juga skala kecil dan menengah seperti UKM. [Harian Rakyat Merdeka]