3 Daerah Siap Menampung Relokasi Pengusaha Jakarta

Bencana Banjir Lumpuhkan Transaksi Bisnis Rp 15 Triliun

Minggu, 27 Januari 2013, 08:20 WIB
3 Daerah Siap Menampung Relokasi Pengusaha Jakarta
ilustrasi, Banjir
Kecil Besar
rmol news logo .Usulan relokasi industri mendapatkan tanggapan serius dari kalangan pengusaha. Mereka tidak mau bisnisnya berantakan akibat bencana banjir.

Greenomics Indonesia mem­perkirakan kerugian banjir yang melanda hampir sebagian besar wilayah DKI Jakarta ditaksir mencapai angka Rp 15 triliun. Kon­disi tersebut didasarkan atas asumsi kedaruratan Jakarta akibat banjir dalam masa tanggap da­rurat selama 10 hari (17-27 Ja­nuari 2013), yang ber­dam­pak negatif pada sektor-sek­tor eko­nomi dan perekonomian berbasis masyarakat. Hampir se­mua sen­tra bisnis di Ibukota lumpuh.

Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi menga­takan, lebih dari 70 persen eko­nomi Jakarta bertumpu pada sek­tor tersier, yakni perdagangan, pe­ngangkutan, keuangan dan jasa.

“Kalau selama 10 hari ini Ja­karta berada dalam posisi da­rurat akibat banjir dan sektor ter­sier tersebut berada pada posisi da­rurat juga secara riil, maka se­cara maksimal kerugian akibat banjir Jakarta bisa mencapai Rp 15 tri­liun,” ujar Elfian.

Untuk itu, pihaknya meminta Gubernur DKI Jakarta Joko Wi­dodo memberikan porsi be­sar pada penciptaan keseim­bangan ekologi Kota Jakarta. Apa­lagi, selama ini Jakarta di­anggap se­bagai primadona dan pilihan uta­ma bagi para investor untuk me­nanamkan modalnya.

Menghadapi berbagai ke­mung­­kinan bencana ditambah beban Upah Minimum Propinsi (UMP), kalangan pengusaha mu­lai me­rancang untuk mere­lo­kasi indus­tri­nya.

Ketua Umum Himpunan Ka­wasan Industri Sanny Iskandar mengatakan, relokasi industri yang dicanangkan oleh peme­rin­tah akan membawa dampak po­sitif bagi daerah-daerah baru. Tiga lokasi yang ditawarkan jadi alter­natif markas usaha adalah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Ketiga provinsi itu dianggap mampu karena secara geografis, tempatnya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Bahkan, sudah ada be­berapa daerah yang me­nya­­takan kesiapannya untuk menjadi lo­kasi relokasi industri dari Ja­karta. Seperti daerah Suka­bumi, Boyo­lali dan Kendal.

“Daerah-daerah tersebut UMP-nya tidaklah sebesar se­perti di Jakarta. Jadi di satu sisi akan meng­untungkan para pe­ngu­saha. Tinggal pengu­sahanya yang melakukan penye­suaian,” cetus Sanny di Jakarta, Jumat (25/1). Kata Sanny, upah di Ken­dal berkisar Rp 900.000-1,2 juta, sedangkan di Jakarta mencapai Rp 2 juta-2,5 juta.

Namun menurut Ketua Harian Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia (APGAI) Suryadi Sasmita, re­lokasi in­dus­tri butuh biaya sa­ngat besar. In­vestor juga kesu­litan me­min­dahkan peralatan pabrik serta memindahkan tena­ga kerja yang belum tentu ber­minat un­tuk pin­dah.

“Ketentuan relokasi ke ka­wa­san industri masih mem­be­ratkan, karena bukan hanya se­kedar pin­dah. Dibutuhkan keje­lian untuk menentukan akan pin­dah ke lo­kasi yang mana. Supaya tidak terjadi salah pilih tempat yang bisa merugikan perusa­haan,” terangnya.

Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan, perlu­nya menciptakan daerah tertentu se­bagai kota industri di Indonesia karena dinilai dapat mendukung pembangunan dan infrastuktur.

Hidayat bilang, peme­rintah te­ngah menerapkan peng­gunaan konsep kawasan industri dengan mencontoh kota-kota industri se­perti di negara lain. Salah satu contohnya adalah kota Shenzen di China. “Jadi apakah di Jatim atau di luar pulau Jawa yang lagi mau saya terapkan se­karang, itu nanti menggunakan konsep ka­was­an industri atau seperti kota-kota industri,” jelas Hidayat.

Namun, Hidayat tak men­je­laskan kota mana yang la­yak dijadikan kawasan ko­ta in­dustri karena khawatir terhadap masya­rakat yang akan mela­kukan spe­kulasi tentang tanah. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA