AEC Bisa Jadi Ancaman Buat Pasar Indonesia

Infrastruktur Belum Memadai

Jumat, 25 Januari 2013, 08:10 WIB
AEC Bisa Jadi Ancaman Buat Pasar Indonesia
ASEAN Economic Community (AEC)
Kecil Besar

rmol news logo Kementerian Perindustri (Kemenperin) mengklaim in­dustri nasional siap bersaing da­lam pasar bebas ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC) pada 2015. Tapi dengan syarat, harus dibarengi dengan perbaikan infrastruktur.

“Indonesia masih berpeluang memetik keuntungan di kawasan ASEAN dengan adanya perjan­jian tersebut,” ujar Menteri Perin­dus­trian (Menperin) MS Hidayat.

Alasannya, kata dia, sektor in­dustri non migas terus me­ng­alami pertumbuhan. Kinerja sek­tor in­dustri non migas sampai tri­wulan III tahun 2012 menun­jukkan hasil yang positif dengan pertumbuhan 6,5 persen.

Menteri dari Partai Golkar itu mengatakan, beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan Indone­sia dari AEC adalah populasi pen­­duduk ASEAN yang berjum­lah 590 juta jiwa atau 8 persen da­ri total penduduk dunia dengan per­tumbuhan Produk Domestik Bru­to (PDB) 5,6 persen. Ditam­bah adanya stabilitas makro ekonomi yang ditunjukkan de­ngan tingkat inflasi 3,5 persen.

“Itu memberikan peluang ke­pada industri nasional memper­luas pasar produknya,” ucapnya.

Hidayat menyatakan, perjanji­an juga dapat mendorong arus masuk investasi ke dalam negeri sehingga menciptakan multi­plier effect dan memudah­kan joint ve­nture dengan peru­sahaan ASEAN. Itu lebih memu­dahkan akses bahan baku yang belum dapat dipasok dari dalam negeri.

Pemerintah telah memprio­ritaskan beberapa sektor industri untuk dikembangkan guna meng­isi pasar ASEAN, seperti industri berbasis agro (CPO, kakao, ka­ret), industri produk olahan ikan, industri tekstil dan produk teks­til, industri alas kaki, kulit dan ba­rang kulit.

Namun, Hidayat mengaku AEC mem­­berikan tantangan ke­pada pemerintah, yaitu masih le­mah­nya pengawasan masuknya pro­duk-produk impor di bawah stan­dar kualitas, lambannya pe­ng­amanan dan perlindungan ter­ha­dap praktik unfair trade.

Ketua Umum Himpunan Pe­ngu­saha Muda Indonesia (Hipmi) Raja Sapta Oktohari mengatakan, AEC 2015 bisa membuka pelu­ang sekaligus ancaman bagi In­do­ne­sia. “Pasar kita berpotensi men­jadi pasar negara lain,” katanya.

Okta mengatakan, dengan jum­lah penduduk sekitar 247 juta jiwa, Indonesia menjadi yang terbesar di ASEAN.  Be­sar­nya jumlah penduduk ini menja­dikan Indonesia incaran para pelaku ekonomi untuk me­ngeruk keun­tungan sebesar-besarnya.

“Untuk itu, pemerintah dan pengusaha ha­rus bekerja sama lebih kreatif dan berusaha lebih keras menye­diakan ke­butuhan dalam negeri,” saran Okta.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Suryo Bambang Sulisto menga­takan, pemerintah harus segera menyelesaikan masalah infra­struktur, birokrasi dan ketidak­pastian hukum untuk bisa ber­saing dalam AEC pada 2015.

“Menghadapi pasar bebas ASEAN 2015, kita harus cermati dengan seksama. Ini sudah me­nyangkut pasar yang paling be­sar dan siap diserbu. Kita harus tetap menjaga pertumbuhan eko­nomi yang baik dan tetap men­jadi ne­gara berkembang yang paling menarik untuk tu­juan investasi meski ini tidak mu­dah,” tandas Suryo. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA