Harga Kedelai Bakal Melejit Perajin Tahu Tempe Menjerit

Impor Dari AS Berkurang, Wamendag Deg-degan

Kamis, 24 Januari 2013, 08:41 WIB
Harga Kedelai Bakal Melejit Perajin Tahu Tempe Menjerit
ilustrasi, kacang kedelai
Kecil Besar

rmol news logo Harga tahu dan tempe pada Maret diprediksi bakal naik lagi. Soalnya, pasokan kedelai dari Amerika Serikat (AS) akan berkurang akibat musim dingin. Sedangkan produksi kedelai dalam negeri terus turun..

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengaku akan ada kenaikan har­ga kedelai di Indonesia.

“Kedelai Maret akan naik, ini fakta yang dihadapi. Kami akan melakukan apa saja kalau me­mang bisa untuk menanggapi ma­salah itu. Di sana (AS) musim dingin, kita yang deg-degan,” ujar Bayu di DPR, kemarin.

Menurut dia, hingga kini In­donesia merupakan salah satu importir terbesar kedelai asal AS. Pada 2012, Indonesia mengimpor kedelai dari AS sebanyak 1,4 juta ton. Alasannya, produksi dalam negeri hanya 779.800 ton se­dangkan kebutuhannya 2,2 juta-2,4 juta ton per tahun.

Dia mengatakan, dominasi ke­delai impor asal AS di Indo­nesia sudah terjadi sejak 5 tahun terakhir dan terus meningkat. Namun, be­kas Wakil Menteri Pertanian itu mengaku, Indonesia bukan satu-satunya negara peng­impor ter­be­sar kedelai asal AS. Berda­sar­kan catatannya, China juga meng­im­por kedelai asal AS dan meru­pa­kan pelanggan utama kedelai dari negara tersebut. Pada 2012, Chi­na mengimpor 21 juta ton.

Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengung­kap­kan, saat ini produksi kedelai da­lam negeri terus turun karena ha­nya dijadikan tanaman sam­pi­ngan oleh petani. Padahal, per­mintaannya terus melonjak.

“Sudah saatnya In­donesia men­jadikan kedelai se­bagai tana­man pokok. Jika petani masih men­ja­dikan kedelai seba­gai tanaman sela saja, maka target swasem­bada sulit tercapai,” katanya.  

Sutarto mengatakan, persoalan lahan menjadi salah satu kendala pemerintah untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Se­panjang 2012 terjadi penyu­sutan 8,4 persen lahan kedelai. Menurutnya, jika petani menja­dikan tanaman kedelai sebagai tanaman pokok, maka hasilnya akan baik. Minimal dapat 3 ton per hektar dengan total produksi 1,2 juta ton kedelai.

Ketua Umum Gabungan Kope­rasi Tahu Tempe Indonesia (Ga­koptindo) Ayip Syarifudin ber­ha­rap, kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) segera keluar untuk mengendalikan harga ke­delai yang sulit diatur.  “Kami mengharapkan harga kedelai sta­bil 1-3 bulan dan kita dapat meng­hitung biaya produksi agar petani tidak menjerit,” katanya.

Menurutnya, sejak minggu lalu harga kedelai di tingkat perajin tempe-tahu sudah naik Rp 200-300 per kg. Kenaikan harga ke­delai ini memang relatif lebih ji­nak dibanding kenaikan pada Juli 2012 yang melonjak signifikan.

“Sekarang harga kedelai sudah Rp 7.000 per kg, sampai ke pe­rajin tempe-tahu harganya Rp 7.300-7.500 per kg,” ujar Ayip.

Ketua Umum Kelompok Kon­tak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menga­takan, ren­cana pemerintah me­ng­u­rangi im­por kedelai pada 2014 bakal sulit terealisasi. Se­bab, hingga kini produksinya te­rus mengalami penuruan.

“Untuk me­ning­katkan produk­si, pemerintah harus memberikan subsidi dan menetapkan harga dasar kedelai sehingga petani mendapat ja­minan harga yang layak,” kata Winarno.

Kepala Badan Ketahanan Per­tanian Ahmad Suryana mengaku pemerintah menyebut program swasembada kedelai di 2014 butuh perluasan lahan. Untuk itu,  Kementerian Pertanian (Ke­men­tan) harus bisa mewujudkan per­luasan lahan tanam sebanyak 1,6 juta per hektar.

Menurut dia, seluruh daerah di Indonesia khususnya di daerah Aceh dan Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan lahan poten­sial untuk penggarapan kedelai. Termasuk, wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang akan terus diperbaiki lahan kedelainya.

“Itu salah satu strategi agar produksi tahun ini mencapai se­be­sar 2,7 juta ton,” kata Ahmad.

Dia berharap, semua pihak dari petani, importir sampai peme­rintah dapat bekerja sama mewu­judkan target ini.

Hal senada dikatakan bekas Menteri BUMN Mustafa Abu­ba­kar. Menurut dia, penam­bahan lahan tersebut merupakan lang­kah penting untuk mewu­judkan pemerintah, yakni pro­gram swa­sembada pangan 2014.

Meski demikian, Mustafa yang kini menjabat Komisaris BRI me­ngakui, mengatasi per­saingan peng­gunaan lahan de­ngan petani bukan perkara mu­dah. Tahun la­lu saja, luas panen kedelai men­capai 600.000 hektar dengan produksi 779.800 ton.

Nilai ini menurun 8,4 persen di­­bandingkan tahun 2011 akibat penyusutan lahan dengan luas hanya tersisa 566.693 hektar. Ang­ka ini jauh dari yang diharap­kan karena pemerintah menar­getkan swasembada kedelai tahun 2014 yaitu 2,7 juta ton.

Tarik Ulur HPP Kedelai

Dirjen Industri Kecil dan Me­nengah Kementerian Perin­dus­trian Euis Saedah mengatakan, pemerintah belum memutuskan berapa HPP untuk kedelai.

“Memang sebelumnya sudah ada pembicaraan HPP Rp 7.000 per kg. Namun kalangan perajin meminta ditinjau ulang karena terlalu mahal,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka.

Saat ditanya berapa HPP ideal, Euis hanya mengatakan, harga ideal adalah tidak merugikan pe­tani dan perajin. Namun, dia tidak mau panjang lebar mem­bahas soal itu, karena keputu­sannya ada di tingkat Menko Perkonomian. Euis cuma bilang, semua sepakat jika Bulog mengatur kedelai.

Sedangkan Ketua Asosiasi In­dustri Kecil Menengah Agro Be­kasi Suyono mengatakan, harga HPP kedelai Rp 7.000 per kg terlalu ma­hal bagi industri kecil. Pihak­nya meminta agar HPP diangka Rp 5.600 per kg.

“Kita harap pemerintah bisa memu­tuskannya dengan bijak dan tidak hanya berpihak kepada salah satu pihak saja,” tandas Suryo. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA