Harga tahu dan tempe pada Maret diprediksi bakal naik lagi. Soalnya, pasokan kedelai dari Amerika Serikat (AS) akan berkurang akibat musim dingin. Sedangkan produksi kedelai dalam negeri terus turun..
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengaku akan ada kenaikan harÂga kedelai di Indonesia.
“Kedelai Maret akan naik, ini fakta yang dihadapi. Kami akan melakukan apa saja kalau meÂmang bisa untuk menanggapi maÂsalah itu. Di sana (AS) musim dingin, kita yang deg-degan,†ujar Bayu di DPR, kemarin.
Menurut dia, hingga kini InÂdonesia merupakan salah satu importir terbesar kedelai asal AS. Pada 2012, Indonesia mengimpor kedelai dari AS sebanyak 1,4 juta ton. Alasannya, produksi dalam negeri hanya 779.800 ton seÂdangkan kebutuhannya 2,2 juta-2,4 juta ton per tahun.
Dia mengatakan, dominasi keÂdelai impor asal AS di IndoÂnesia sudah terjadi sejak 5 tahun terakhir dan terus meningkat. Namun, beÂkas Wakil Menteri Pertanian itu mengaku, Indonesia bukan satu-satunya negara pengÂimpor terÂbeÂsar kedelai asal AS. BerdaÂsarÂkan catatannya, China juga mengÂimÂpor kedelai asal AS dan meruÂpaÂkan pelanggan utama kedelai dari negara tersebut. Pada 2012, ChiÂna mengimpor 21 juta ton.
Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengungÂkapÂkan, saat ini produksi kedelai daÂlam negeri terus turun karena haÂnya dijadikan tanaman samÂpiÂngan oleh petani. Padahal, perÂmintaannya terus melonjak.
“Sudah saatnya InÂdonesia menÂjadikan kedelai seÂbagai tanaÂman pokok. Jika petani masih menÂjaÂdikan kedelai sebaÂgai tanaman sela saja, maka target swasemÂbada sulit tercapai,†katanya.
Sutarto mengatakan, persoalan lahan menjadi salah satu kendala pemerintah untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. SeÂpanjang 2012 terjadi penyuÂsutan 8,4 persen lahan kedelai. Menurutnya, jika petani menjaÂdikan tanaman kedelai sebagai tanaman pokok, maka hasilnya akan baik. Minimal dapat 3 ton per hektar dengan total produksi 1,2 juta ton kedelai.
Ketua Umum Gabungan KopeÂrasi Tahu Tempe Indonesia (GaÂkoptindo) Ayip Syarifudin berÂhaÂrap, kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) segera keluar untuk mengendalikan harga keÂdelai yang sulit diatur. “Kami mengharapkan harga kedelai staÂbil 1-3 bulan dan kita dapat mengÂhitung biaya produksi agar petani tidak menjerit,†katanya.
Menurutnya, sejak minggu lalu harga kedelai di tingkat perajin tempe-tahu sudah naik Rp 200-300 per kg. Kenaikan harga keÂdelai ini memang relatif lebih jiÂnak dibanding kenaikan pada Juli 2012 yang melonjak signifikan.
“Sekarang harga kedelai sudah Rp 7.000 per kg, sampai ke peÂrajin tempe-tahu harganya Rp 7.300-7.500 per kg,†ujar Ayip.
Ketua Umum Kelompok KonÂtak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengaÂtakan, renÂcana pemerintah meÂngÂuÂrangi imÂpor kedelai pada 2014 bakal sulit terealisasi. SeÂbab, hingga kini produksinya teÂrus mengalami penuruan.
“Untuk meÂningÂkatkan produkÂsi, pemerintah harus memberikan subsidi dan menetapkan harga dasar kedelai sehingga petani mendapat jaÂminan harga yang layak,†kata Winarno.
Kepala Badan Ketahanan PerÂtanian Ahmad Suryana mengaku pemerintah menyebut program swasembada kedelai di 2014 butuh perluasan lahan. Untuk itu, Kementerian Pertanian (KeÂmenÂtan) harus bisa mewujudkan perÂluasan lahan tanam sebanyak 1,6 juta per hektar.
Menurut dia, seluruh daerah di Indonesia khususnya di daerah Aceh dan Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan lahan potenÂsial untuk penggarapan kedelai. Termasuk, wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang akan terus diperbaiki lahan kedelainya.
“Itu salah satu strategi agar produksi tahun ini mencapai seÂbeÂsar 2,7 juta ton,†kata Ahmad.
Dia berharap, semua pihak dari petani, importir sampai pemeÂrintah dapat bekerja sama mewuÂjudkan target ini.
Hal senada dikatakan bekas Menteri BUMN Mustafa AbuÂbaÂkar. Menurut dia, penamÂbahan lahan tersebut merupakan langÂkah penting untuk mewuÂjudkan pemerintah, yakni proÂgram swaÂsembada pangan 2014.
Meski demikian, Mustafa yang kini menjabat Komisaris BRI meÂngakui, mengatasi perÂsaingan pengÂgunaan lahan deÂngan petani bukan perkara muÂdah. Tahun laÂlu saja, luas panen kedelai menÂcapai 600.000 hektar dengan produksi 779.800 ton.
Nilai ini menurun 8,4 persen diÂÂbandingkan tahun 2011 akibat penyusutan lahan dengan luas hanya tersisa 566.693 hektar. AngÂka ini jauh dari yang diharapÂkan karena pemerintah menarÂgetkan swasembada kedelai tahun 2014 yaitu 2,7 juta ton.
Tarik Ulur HPP Kedelai
Dirjen Industri Kecil dan MeÂnengah Kementerian PerinÂdusÂtrian Euis Saedah mengatakan, pemerintah belum memutuskan berapa HPP untuk kedelai.
“Memang sebelumnya sudah ada pembicaraan HPP Rp 7.000 per kg. Namun kalangan perajin meminta ditinjau ulang karena terlalu mahal,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka.
Saat ditanya berapa HPP ideal, Euis hanya mengatakan, harga ideal adalah tidak merugikan peÂtani dan perajin. Namun, dia tidak mau panjang lebar memÂbahas soal itu, karena keputuÂsannya ada di tingkat Menko Perkonomian. Euis cuma bilang, semua sepakat jika Bulog mengatur kedelai.
Sedangkan Ketua Asosiasi InÂdustri Kecil Menengah Agro BeÂkasi Suyono mengatakan, harga HPP kedelai Rp 7.000 per kg terlalu maÂhal bagi industri kecil. PihakÂnya meminta agar HPP diangka Rp 5.600 per kg.
“Kita harap pemerintah bisa memuÂtuskannya dengan bijak dan tidak hanya berpihak kepada salah satu pihak saja,†tandas Suryo. [Harian Rakyat Merdeka]