Yah, Terkendala Perluasan Lahan Swasembada Gula Sulit Tercapai

Mentan Ngarep Swasta Ikut Terjun Perluas Areal Tebu

Senin, 21 Januari 2013, 08:16 WIB
Yah, Terkendala Perluasan Lahan Swasembada Gula Sulit Tercapai
ilustrasi, gula
Kecil Besar
rmol news logo .Kementerian Pertanian (Kementan) pesimis rencana swasembada gula pada 2014 tercapai. Sebab, kendala lahan belum selesai.

Wakil Menteri Pertanian (Wa­mentan) Rusman Heriawan me­ngatakan, target swasembada gula sulit tercapai pada 2014. Me­nurutnya, swasembada baru bisa tercapai setelah 2014 karena ter­kendala masalah lahan.

“Swasembada gula diharapkan tidak hanya untuk memenuhi ke­butuhan konsumsi, juga me­me­nuhi kebutuhan industri dalam bentuk gula rafinasi (industri),” kata Rusman kepada Rakyat Merdeka, Jumat (18/1).

Namun untuk gula konsumsi, dia memprediksi bisa tercapai pada tahun tersebut. Sedangkan gula rafinasi, Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhannya dan masih tergantung kepada im­por. Saat ini industri gula ke­ku­rangan lahan 300 ribu hektar untuk pengembangan produksi.

Bekas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) ini berharap, ma­salah lahan selesai diatasi agar pemerintah bisa memenuhi ke­butuhan gula dalam negerinya baik untuk konsumsi maupun industri tanpa perlu impor.

Untuk diketahui, pemerintah merevisi target swasembada gula yang sebelumnya 5,7 juta ton hing­ga 2014, menjadi 3,1 juta ton. Revisi target swasembada gula itu menurun hampir 45,6 persen.

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengaku, pihaknya su­lit mewujudkan perluasan areal tebu di luar Jawa karena gugatan para pemilik hak guna usaha (HGU) yang tidak ingin lahannya dijadikan areal tanaman tebu.

“Memang kita perlu 300.000 hektar lahan baru untuk tebu di luar Jawa, tetapi sulit diwujudkan karena lahan itu masih dikuasai rakyat. Sementara lahan HGU yang telantar juga terkendala dari sisi hukum,” katanya.

Suswono meminta peran swas­ta untuk terjun mencari terobosan agar swasembada gula bisa ter­wujud. Menurutnya, perluasan areal tebu merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pro­duksi gula dan hal itu juga men­ja­di kendala di sejumlah pabrik gula.

Menteri Perindustrian (Men­perin) MS Hidayat mengatakan, pihaknya sudah melakukan pem­bicaraan dengan Badan Perta­nahan Nasional (BPN) dan Ke­mentan untuk mencapai target swasembada gula.

“Dalam rangka swasembada gula yang sudah terhamhat lebih dari dua tahun, kita membu­tuh­kan sekitar 300.000 hektar lahan yang sekarang coba direa­lisasi,” kata Hidayat.

Menurutnya, BPN sudah me­ngajukan lahan seluas 300.000 hektar terdiri dari 18 lokasi yang seluruhnya berada di luar Pulau Jawa, yakni Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Menurut dia, tiap lokasi kurang lebih se­kitar 20.000 hektar lahan dengan skema intiplasma agar ma­sya­ra­kat sekitar bisa ikut terlibat.

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro mengatakan, untuk mencapai swasembada gula 2014, kurang lebih memerlukan gula 3 juta ton untuk gula kon­sumsi. Ka­rena itu, dia pesimis swa­sembada gula pada 2014 bakal tercapai akibat tidak ada upaya perluasan lahan.

“Upaya mewujudkan swa­sem­bada gula 2014 dipastikan se­ma­kin sulit dan jauh dari mimpi, mengingat masalah terbesar upa­ya perluasan lahan tebu tidak pe­r­nah dilakukan. Bahkan per­izi­nan lahan yang diajukan BUMN juga terus dipersulit,” ujar Ismet.

Swasembada itu akan di­per­oleh dari pabrik gula yang ada seb­a­nyak 2,57 juta ton, 1,32 juta ton da­­ri pabrik gula Badan Usaha Mi­lik Negara (BUMN) dan 1 juta ton pabrik gula swasta. Selain itu, juga harus ada tambahan gula dari pem­bangunan 10-25 pabrik gula ba­ru sebanyak 2,13 juta ton. Pro­duksi pabrik gula BUMN dan swas­ta saat ini sudah bisa men­capai 2 jutaan ton, sehingga masih mem­butuhkan sekitar 1 jutaan gula.

Pengawasan Gula Rafinasi

Dirjen Industri Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemen­perin Euis Saedah mengatakan, pihaknya akan melakukan penga­wa­san terhadap IKM yang men­dapat pasokan gula rafinasi. Pe­ngawasan itu dilakukan agar gula khusus industri itu tidak rembes ke pasaran. “Kita akan awasi ke­tat penggunaan gula rafinasi agar tidak terjadi penyim­pa­ngan,” katanya kepada Rakyat Merdeka.

Menurut Euis, saat ini IKM sudah mendapat pasokan gula rafinasi dari Asosiasi Gula Ra­finasi Indonesia (AGRI) untuk kebutuhan bahan bakunya. Se­bab, selama ini mereka kesulitan untuk memperolehnya.

Ketua Umum AGRI Suryo Alam me­ngatakan, alokasi impor gula mentah (raw sugar) selama 2013 mencapai 2,26 juta ton. Jumlah tersebut lebih rendah 3,83 persen dari alokasi impor 2012 sebesar 2,35 juta ton. “Impor dilakukan secara bertahap per semester. 60 persen di semester per­tama dan 40 persen di se­mes­ter kedua,” tandasnya.  [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA