Pertumbuhan Industri Kertas Indonesia Kurang Menggembirakan Tuh...

Akibat Krisis Ekonomi & Kampanye Hitam

Rabu, 26 Desember 2012, 08:10 WIB
Pertumbuhan Industri Kertas Indonesia Kurang Menggembirakan Tuh...
ilustrasi, Industri Kertas
Kecil Besar

rmol news logo Industri kertas tahun ini mengalami pertumbuhan ne­gatif akibat turunnya harga kertas dunia dan kampanye negatif.

Berdasarkan data Kemen­terian Perindustrian (Kemen­perin) pada kuartal III-2012, cabang industri kertas dan barang cetakan juga tumbuh negatif 4,5 persen. Sedangkan industri barang kayu dan hasil hutan mencatat pertumbuhan negatif 4,21 persen.

Padahal, industri pengola­han non migas pada triwulan III 2012 membukukan per­tum­buhan yang cukup tinggi sebesar 7,3 persen (year on year/yoy).

Dirjen Industri Agro Ke­men­perin Benny Wachyudi me­ngatakan, industri kertas tum­buh negatif karena harga jual kertas turun.  “Harga in­ter­na­sio­nal kertas turun mengikuti me­kanisme pasar,” katanya.

Menurut dia, harga kertas turun akibat krisis ekonomi dunia yang melanda Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Se­mentara untuk mengalihkan pasar ke negara yang pereko­nomiannya tak terkena krisis diakui Benny masih sulit.

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mem­per­ki­rakan, kinerja industri bubur kertas (pulp) dan kertas hing­ga pertengahan 2013 masih ku­rang menggembirakan. Biang kerok­nya adalah krisis ekono­mi di kawasan Eropa dan ma­raknya kampanye hitam ten­tang pro­duk kertas Indonesia.

Ketua Umum APKI Mis­bahul Huda mengatakan, vo­lume industri pulp dan kertas nasional hingga kuartal III 2012 turun 2-3 persen di­banding periode sama tahun sebelumnya. Target produksi hingga akhir tahun untuk industri itu kemungkinan besar tidak tercapai juga.

Melambatnya permintaan pulp dan kertas untuk pasar domestik dan ekspor, kata Misbahul, mulai terasa sejak Juli 2012. Padahal, biasanya konsumsi pulp dan kertas se­mester kedua mulai naik ka­rena didorong permintaan ker­tas untuk memenuhi kebu­tuhan tahun ajaran baru dan negara-negara di Eropa dan AS yang mulai memasuki musim dingin.

Akibat turunnya permin­taan membuat harga kertas di dalam negeri sulit naik karena berlimpahnya pasokan. Bah­kan sejumlah produsen kertas mengalami kelebihan stok, jika kondisi normal stok pro­dusen hanya 2.000 ton kini bisa mencapai 4.000 ton.

Akibatnya harga kertas saat ini mencapai 800 hingga 850 dolar AS per ton dan pulp 630 sampai 650 dolar AS per ton. Biasanya, selisih harga kertas dan pulp minimal 250 dolar AS per ton, namun saat ini kurang dari 200 dolar AS per ton.

Kepala Riset Equator Se­curities Gina Nasution menga­takan, prospek industri kertas ke depan masih cukup baik karena produk kertas tidak dapat dipisahkan dengan kehi­dupan sehari-hari. “Ker­tas masih dibutuhkan oleh ma­syarakat dan juga industri dan sektor-sektor ritel,” katanya.

Gina juga mengatakan, bahan baku kertas juga dapat digunakan untuk produk-produk lain tidak hanya untuk pembuatan buku tulis dan hasil olahannya juga tidak hanya dipasok ke masyarakat, tapi juga ke industri lain. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA