Harga Makanan & Minuman Diprediksi Naik 10 Persen

Selasa, 25 Desember 2012, 08:56 WIB
Harga Makanan & Minuman Diprediksi Naik 10 Persen
ilustrasi
Kecil Besar

rmol news logo Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapm­mi) memproyeksi harga makanan dan minuman tahun depan mengalami kenaikan 5-10 persen.

Sekjen Gapmmi Franky Siba­rani mengatakan, kenaikan harga itu akan terjadi di triwulan per­tama 2013. Menurutnya, ke­naik­an itu disebabkan mening­katnya biaya produksi yang harus di­tanggung pengusaha.

Di sisi lain, para pengusaha lokal harus meng­hadapi ancaman produk impor yang membanjiri pasar dalam negeri.

“Jangan salah, kami takut meng­hadapi produk-produk im­por. Karena kalau mau naik tetapi pro­duk impor tidak naik lalu ba­­gai­mana, sedangkan biaya pro­duk­si ber­tambah,” ujar Fran­ky di Jakarta, kemarin.

Namun, harga tersebut dise­rah­kan kepada masing-masing industri makanan dan minuman (mamin). Gapmmi, lanjutnya, ti­dak bisa menetapkan besaran kenaikan tersebut secara umum. Kendati begitu, menurut Franky, kenaikan itu bukan hal yang me­nguntungkan bagi pengusaha karena harus memperhitungkan daya beli masyarakat.

Menurutnya, kenaikan harga tersebut harus disiasati agar kon­disinya stabil dan tidak ada yang dirugikan baik pengusaha dan masyarakat.

Franky memperkirakan per­tum­buhan industri makanan dan mi­numan di 2013 akan stagnan seperti tahun ini sebesar 8 persen. Hal itu dipengaruhi kondisi ke­amanan yang tidak berubah dan masuknya produk pangan dari luar negeri. Apalagi tahun depan lebih banyak agenda politis yang di­jalankan pemerintah. Kondisi ter­sebut menyebabkan kebijakan yang diambil cende­rung populis tanpa memper­hatikan kepenti­ngan pengusaha.

Selain itu, kenaikan harga pa­ngan dan melemahnya ekspor juga ber­peran dalam menekan pertum­buhan sektor industri makanan dan minuman.

Franky mengatakan, kompeti­tor dari negara lain yang produk­nya lebih murah terus berpro­duk­si dan melebarkan pangsa pa­sarnya ke Indonesia. Di sisi lain, kenaikan upah 40 persen mem­beratkan sektor industri karena menambah biaya produksi. Ideal kenaikan upah itu seharusnya sebesar 10-15 persen.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman mengatakan, kenaikan harga produk makanan tahun depan juga dipengaruhi rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) 15 persen. “Kenaikan TDL sebe­sar 15 persen membuat produsen mamin menaikkan harga produk. Kenaikan produk merupakan salah satu cara menutupi biaya produksi,” kata Adhi.

Selain kenaikan TDL, menurut Adhi, kenaikan upah buruh dan kenaikan harga gas bagi sektor industri merupakan hambatan pada industri makanan dan mi­numan. Kenaikan harga gas 35 persen membuat biaya produksi semakin bertambah.

Pasokan energi yang minim, lanjut Adhi, membuat pertum­buhan industri makanan dan mi­numan hingga akhir tahun di­proyeksikan hanya tiga persen. Pertumbuhan industri mamin hingga akhir tahun sekitar 3 per­sen atau Rp 653 triliun.   [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA