Kementerian Perdagangan (Kemendag) berencana mempercepat pengeluaran surat persetujuan impor (SPI) guna memancing para pemilik sapi dan pengusaha penggemukan melepas produknya (daging sapi) ke pasar.
Wakil Menteri Pedagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengatakan, saat ini pihaknya berÂupaya mempercepat pengeÂluarÂan izin impor daging sapi baÂgi 64 perusahaan. Dengan harapÂan, stok daging sapi tahun depan bisa terjaga sehingga tidak terjadi keÂlangkaan.
“Kemendag telah menerima reÂkomendasi untuk importasi sapi dan daging sebanyak 92 perusaÂhaan. Dari jumlah itu, 64 peruÂsahaan mengajukan izin persetuÂjuan impor,†kata Bayu.
Menurut dia, dengan dikeluarÂkannya izin impor ini sekaligus unÂtuk memancing para pemilik sapi dan pengusaha penggemuÂkan yang selama ini diduga melaÂkukan penimbunan. SelaÂma ini, kelangkaan daging sapi karena ada indikasi terjadi penimÂbunan dalam jumlah cukup besar.
“Kalau dia (penimbun) sudah dapat kepastian, masa mereka akan terus menimbun produk. IbaÂÂratnya, oh izin saya keluar, maÂka saya bisa keluarin 200 ekor nih. Saya ingin memastikan konÂtinuitas dari bisnisnya jalan, kaÂrena perizinan sudah akan kiÂta keluarkan sehingga pasokÂan bisa bertambah,†jelas Bayu.
Dia mengatakan, pengambilan SPI oleh para importir sudah bisa dilakukan tanggal 26 Desember 2012. “Jika sudah diambil, maka importir bisa melakukan keÂgiatÂanÂnya, paling cepat 7 Januari taÂhun depan,†ungkapnya.
Selain mempercepat proses izin importasi, Kemendag juga akan memantau rumah pemotoÂngan hewan (RPH).
Bayu meÂnilai, ada banyak keÂmungkinan mengapa jumlah sapi di KemenÂterian Pertanian (KeÂmentan) yang mencapai 15 juta ekor tahun ini berbanding terbalik dengan daÂging sapi. Dia menduga sapi terÂsebut belum dipotong sehingga belum menjadi daging.
“Awal Januari akan dilakukan pemantauan 15 sampai 20 RPH di sentra-sentra konsumsi seluÂruh Indonesia. Dari sapi menjadi daÂging harus lewat RPH dulu. KaÂÂlau kita monitornya, kita bisa tahu persis berapa pasokan daÂging yang tersedia,†ujarnya.
Direktur Pendidikan dan PeÂlayanan Masyarakat Komisi PemÂberantasan Korupsi (KPK) Dedi A Rahim menilai, Kementan merupakan pihak yang mesti bertanggung jawab terjadinya kelangkaan daging sapi. TermaÂsuk produk pangan lainnya yang belakangan juga kerap bernasib sama dengan daging (mengalami kelangkaan).
“Ini karena kinerja KemenÂterian Pertanian yang belum makÂsimal. Kementerian PertaÂnian saat ini hanya bisa menseÂjahÂterakan pegawainya, belum bisa memberikan kesejahteraan pada petani,†tegas Dedi.
Padahal, menurut dia, anggaÂran yang dikucurkan ke KeÂmenÂterian yang dipimpin Suswono itu mencapai Rp 17 triliun dengan jumlah pegawai mencapai 22.000 orang. Namun, dengan anggaran sebesar itu dan pegawai sebanyak itu, menurut dia, Kementan baru bisa sejahterakan pegawainya.
“Buktinya bisa dilihat di laÂpangan. Apalagi anggaran yang diberikan negara di seluruh keÂmenterian, sebesar 50 persen diÂgunakan untuk belanja peÂgawai,†ujarnya.
Dirjen Peternakan Kementan Syukur Iwantoro mengatakan, saat ini pihaknya tengah berupaÂya mencapai target swasembada daÂging di 2014. Ia optimis target terÂsebut tercapai seiring masih baÂnyaknya populasi sapi di IndoÂnesia saat ini.
“Semua wilayah di Indonesia bahkan sudah menyatakan keÂsiapannya berswasembada daÂging,†kata Syukur.
Apalagi, beberapa daerah yang selama ini menjadi basis produksi sapi, populasi produknya terus meÂngalami pertumbuhan. Seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, NTB dan NTT. Termasuk provinsi paÂling timur Indonesia, yaitu Papua, yang populasi sapinya tumbuh hingga di atas 7 persen.
Data Kementerian Pertanian Provinsi Jawa Timur bahkan meÂnyebut, populasi sapi tahun ini jumlahnya mencapai 4,8 juta ekor. Dari jumlah tersebut, 500.000 ekor untuk memenuhi kebutuhan Jawa Timur dan 200.000 ekor aloÂkasi luar Jawa Timur (termasuk Jakarta). SeÂdangkan Jawa Tengah saat ini memÂpunyai stok sapi 2,5 juta yang terbagi dua, yaitu sapi poÂtong 2 juta ekor dan sapi perah 500.000 ekor. Dari 2 juta ekor sapi potong, 120.000-125.000 untuk kebutuhan Jabar dan DKI Jakarta sedangkan 312.000 untuk Jateng. [Harian Rakyat Merdeka]