.Tahun 2013, prediksi perekonomian nasional belum menunjukkan optimisme. Pengaruh krisis di Amerika dan China mesti diwaspadai. Perlu komitmen untuk mengÂhilangkan hambatan bisnis di dalam negeri.
Bank Dunia memprediksi, perÂtumbuhan ekonomi Indonesia di Tahun Ular ini sebesar 6,3 perÂsen, naik dari proyeksi tahun ini 6,1 persen. Proyeksi ini mengaÂsumÂsikan konsumsi domestik dan pertumbuhan investasi maÂsih berÂtahan kuat, dengan memÂbaiknya pertumbuhan mitra daÂgang utama Indonesia secara berÂtahap yang juga sedikit menÂdorong pemuÂlihan ekspor.
“Outlook ekonomi dunia masih dibayangi ketidakpastian dan renÂtan terhadap tekanan-tekanÂan, jadi ini bukan waktu untuk berÂpuas diri,†kata World Bank CounÂtry Director untuk IndoneÂsia SteÂfan Koeberle dalam acara DisÂkusi panel mengenai “OutÂlook Perekonomian dan TanÂtaÂngÂan Kebijakan untuk 2013†di JakarÂta, Selasa (18/12).
Menurut Koeberle, hasil dari negosiasi fiscal cliff (jurang fiskal di Amerika Serikat, perÂkemÂbaÂngan di Zona Euro dan juga berÂlanÂjutnya perlambatan ekoÂnomi China dapat mempengaruhi proÂyekÂsi base line World Bank.
“PerÂtumbuhan inÂvesÂtasi dalam negeri, yang telah berperan penÂting terhadap kuatÂnya kinerja ekonomi Indonesia belakang ini, juga menghadapi seÂjumlah risiÂko,†papar Koeberle.
Setelah tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, investasi kini mencapai sepertiga dari seÂluruh belanja barang-barang dan jasa di Indonesia. Investasi meÂningkat 10 persen secara year on year pada kuartal III dan memÂberikan dorongan hampir 40 perÂsen terhadap pertumbuhan proÂduk domestic bruto (PDB) yang kuat dalam kuartal III sebesar 6,2 persen (year on year).
World Bank Lead Economist and Economic Advisor untuk InÂdonesia Ndiame Diop menilai, sejumlah aturan baru yang diterÂbitkan pemerintah tahun ini telah menambah risiko ketidakÂpastian kebijakan dalam negeri, yang dapat membawa dampak negatif terhadap sentimen invesÂtor yang masih rapuh secara gloÂbal.
“Kerangka kebijakan yang kuat merupakan kunci unÂtuk memÂfasilitasi investor agar daÂpat membuat perenÂcanaan dan menÂjaga kepercayaan terhadap masa depan yang mendorong inÂvesÂtasi,†jelas Diop.
Ekonom Bank BCA David SuÂmual menegaskan, jika pemeÂrinÂtah tidak membereskan masaÂlah pungli, infrastuktur hingga peÂngelolaan alokasi Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, maka pertumbuhan ekonomi maksimal hanya 5 persen. Karena, ketiga komponen inilah yang mengÂgerus pertumbuhan ekonomi di tahun 2012.
Menko PerÂekoÂnoÂmian Hatta Rajasa meminta seÂmua pihak mewaspadai kondisi 2013 deÂngan makin menurunÂnya tingÂkat ekspor karena konÂdisi perÂekonoÂmian global yang belum pulih.
Sama dengan Bank Dunia, Hatta melihat, tahun 2013 konÂdisi AS dan Eropa masih tidak menentu. Jika fiscal cliff atau gap anggaran AS terjadi, maka perÂtumÂbuhan Negeri Paman Sam terÂsebut akan terhenti. KeÂmudian perÂÂlambatan ekonomi China berÂdamÂpak pada harga komoditi. Oleh karenanya, seÂmua pihak perÂlu mengemÂbangÂkan pasar doÂmesÂtik menjadi satu-satunya cara terÂhindar dari perlambatan ekoÂnoÂmi global.
“Ekspor akan turun dan di sisi lain market kita besar seÂhingga domestik akan dijadiÂkan incaran pasar impor,†ujar Hatta.
Saat data penurunan impor hingÂga kuartal ketiga ini, pasar domestik Indonesia justru masih rendah. Padahal, satu-satunya cara menanggulangi menurunÂnya ekspor, kata Hatta, dengan memperluas pasar domestik.
“Jadi walaupun impor terus meÂnurun, tapi market domestik kita masih rendah. Itu karena beÂlum terbangun satu market yang kuat, lalu sistem transportasi belum meÂnunjang,†ujarnya.
Ketua Umum Asosiasi PenguÂsaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi memperkirakan, perÂtumbuhan ekonomi tidak sebesar target pemerintah 6,8 persen.
“Pemerintah lebih optÂiÂmistis dibanding swasta. Saya masih ragu bisa terjadi, semoga target pertumbuhan ekonomi 6,1 persen bisa tercapai,†ujar Sofjan.
Menurutnya, ada dua hal yang menjadi ganjalan utama ekonoÂmi, yaitu kepastian huÂkum dan infrastruktur. “Ini yang terus diÂcerÂmati imvestor,†tuÂkas bos Gemala Group itu. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: