Masuki Tahun Ular, Bisnis Dibayangi Ketidakpastian

Pungli & BBM Subsidi Tidak Diberesin, Pertumbuhan Ekonomi Cuma 5%

Minggu, 23 Desember 2012, 08:17 WIB
Masuki Tahun Ular, Bisnis Dibayangi Ketidakpastian
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo .Tahun 2013, prediksi perekonomian nasional belum menunjukkan optimisme. Pengaruh krisis di Amerika dan China mesti diwaspadai. Perlu komitmen untuk meng­hilangkan hambatan bisnis di dalam negeri.

Bank Dunia memprediksi, per­tumbuhan ekonomi Indonesia di Tahun Ular ini sebesar 6,3 per­sen, naik dari proyeksi tahun ini 6,1 persen. Proyeksi ini menga­sum­sikan konsumsi domestik dan pertumbuhan investasi ma­sih ber­tahan kuat, dengan mem­baiknya pertumbuhan mitra da­gang utama Indonesia secara ber­tahap yang juga sedikit men­dorong pemu­lihan ekspor.

“Outlook ekonomi dunia masih dibayangi ketidakpastian dan ren­tan terhadap tekanan-tekan­an, jadi ini bukan waktu untuk ber­puas diri,” kata World Bank Coun­try Director untuk Indone­sia Ste­fan Koeberle dalam acara Dis­kusi panel mengenai “Out­look Perekonomian dan Tan­ta­ng­an Kebijakan untuk 2013” di Jakar­ta, Selasa (18/12).

Menurut Koeberle, hasil dari negosiasi fiscal cliff (jurang fiskal di Amerika Serikat, per­kem­ba­ngan di Zona Euro dan juga ber­lan­jutnya perlambatan eko­nomi China dapat mempengaruhi pro­yek­si base line World Bank.

“Per­tumbuhan in­ves­tasi dalam negeri, yang telah berperan pen­ting terhadap kuat­nya kinerja ekonomi Indonesia belakang ini, juga menghadapi se­jumlah risi­ko,” papar Koeberle.

Setelah tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, investasi kini mencapai sepertiga dari se­luruh belanja barang-barang dan jasa di Indonesia. Investasi me­ningkat 10 persen secara year on year pada kuartal III dan mem­berikan dorongan hampir 40 per­sen terhadap pertumbuhan pro­duk domestic bruto (PDB) yang kuat dalam kuartal III sebesar 6,2 persen (year on year).

World Bank Lead Economist and Economic Advisor untuk In­donesia Ndiame Diop menilai, sejumlah aturan baru yang diter­bitkan pemerintah tahun ini telah menambah risiko ketidak­pastian kebijakan dalam negeri, yang dapat membawa dampak negatif terhadap sentimen inves­tor yang masih rapuh secara glo­bal.

“Kerangka kebijakan yang kuat merupakan kunci un­tuk mem­fasilitasi investor agar da­pat membuat peren­canaan dan men­jaga kepercayaan terhadap masa depan yang mendorong in­ves­tasi,” jelas Diop.

Ekonom Bank BCA David Su­mual menegaskan, jika peme­rin­tah tidak membereskan masa­lah pungli, infrastuktur hingga pe­ngelolaan alokasi Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, maka pertumbuhan ekonomi maksimal hanya 5 persen. Karena, ketiga komponen inilah yang meng­gerus pertumbuhan ekonomi di tahun 2012.    

Menko Per­eko­no­mian Hatta Rajasa meminta se­mua pihak mewaspadai kondisi 2013 de­ngan makin menurun­nya ting­kat ekspor karena kon­disi per­ekono­mian global yang belum pulih.

Sama dengan Bank Dunia, Hatta melihat, tahun 2013 kon­disi AS dan Eropa masih tidak menentu. Jika fiscal cliff atau gap anggaran AS terjadi, maka per­tum­buhan Negeri Paman Sam ter­sebut akan terhenti. Ke­mudian per­­lambatan ekonomi China ber­dam­pak pada harga komoditi. Oleh karenanya, se­mua pihak per­lu mengem­bang­kan pasar do­mes­tik menjadi satu-satunya cara ter­hindar dari perlambatan eko­no­mi global.

“Ekspor akan turun dan di sisi lain market kita besar se­hingga domestik akan dijadi­kan incaran pasar impor,” ujar­ Hatta.

Saat data penurunan impor hing­ga kuartal ketiga ini, pasar domestik Indonesia justru masih rendah. Padahal, satu-satunya cara menanggulangi menurun­nya ekspor, kata Hatta, dengan memperluas pasar domestik.

“Jadi walaupun impor terus me­nurun, tapi market domestik kita masih rendah. Itu karena be­lum terbangun satu market yang kuat, lalu sistem transportasi belum me­nunjang,” ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengu­saha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi memperkirakan, per­tumbuhan ekonomi tidak sebesar target pemerintah 6,8 persen.

“Pemerintah lebih opt­i­mistis dibanding swasta. Saya masih ragu bisa terjadi, semoga target pertumbuhan ekonomi 6,1 persen bisa tercapai,” ujar Sofjan.

Menurutnya, ada dua hal yang menjadi ganjalan utama ekono­mi, yaitu kepastian hu­kum dan infrastruktur. “Ini yang terus di­cer­mati imvestor,” tu­kas­ bos Gemala Group itu. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA