Bos Bursa Kurang Happy Dengan IPO Waskita Karya

Targetnya Lima BUMN, Ternyata Cuma Satu Yang Go Public

Kamis, 20 Desember 2012, 08:19 WIB
Bos Bursa Kurang Happy Dengan IPO Waskita Karya
PT Waskita Karya (Persero)
Kecil Besar
rmol news logo .Diperdagangkannya saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk dinilai mengakhiri musim paceklik IPO di lantai bursa. Diperlukan rangsangan agar BUMN tertarik menggaet dana pasar modal.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) resmi mencatatkan sa­ham­nya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam pencatatan per­dana­nya atau initial public offe­ring (IPO), saham Waskita memberi­kan un­tung 18,42 persen. Pada per­da­gangan saham pukul 10.00 WIB, kemarin, saham Waskita menguat Rp 70 atau 18,42 persen menjadi Rp 450 per saham.  

Di awal per­dagangan saham pukul 09.30 WIB, harga saham BUMN di bi­dang konstruksi itu tercatat terendah sebesar Rp 420 dan tertinggi Rp 475 per saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 55 miliar.

Waskita menjadi BUMN ke-18 yang mencatatkan saham di bursa dan masuk pada urutan 462 se­bagai emiten.

“Memang IPO perseroan dige­lar pada timing yang tepat mana­kala kondisi pa­sar dan saham konstruksi se­dang booming. Se­hingga meskipun harga saham perdana kami patok mendekati batas atas, namun minat inves­tor masih tetap tinggi,” ujar Dirut PT Waskita Karya M Choliq di Gedung BEI Jakarta, kemarin.

Waskita melepas saham seba­nyak 3.082.315.000 atau 32 per­sen dari modal ditempatkan dan disetorkan setelah penawaran umum, termasuk 192.645.000 sa­ham baru atau 2 persen dari mo­dal ditempatkan dan dise­torkan setelah penawaran umum perda­na saham (IPO) dalam program employee stock allocation (ESA).

Harga penawaran ditetapkan sebesar Rp 380 per saham. Se­la­ma bookbuilding, permin­taan da­­ri para investor institusi foreign dan domestik cukup besar, ter­masuk dari investor ka­tegori tier-1.

Komposisi peminat saham ada­lah sekitar 75 persen investor dalam negeri terdiri dari institusi dalam negeri dan ritel dan sekitar 25 persen merupakan inves­tor asing. Bertindak sebagai pen­jamin pelaksana emisi PT Dana­rek­sa Sekuritas, PT Bahana Securities dan PT Mandiri Sekuritas

Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito menuturkan, dari lima perusahaan BUMN yang ditargetkan go pub­lic hing­ga 2012, baru satu yang tercatat melantai di bursa. Ito menilai, kondisi terse­but sangat ironis.

Pasalnya, pemerin­tah menar­getkan lima perusahaan pelat merah untuk IPO hingga akhir 2012, tetapi kenyataannya hingga menjelang akhir tahun cuma satu yang listing.

“Melihat kenyataan BUMN yang IPO itu menjadi ironi, ka­rena lima BUMN yang ditar­get­kan akan go public hingga ak­hir 2012 tetapi nyatanya hanya satu, itu ironi,” curhat Ito dalam acara Economic Outlook 2013 di Ja­karta, kemarin.

Dia mengatakan, dari 141 pe­rusahaan pelat merah yang ber­kontribusi terhadap pema­sukan ne­gara, diharapkan minimal 100 BUMN bisa go public. “Kalau 100 saja listing kapitalisasi pasar akan terus tumbuh,” tuturnya.

Target Tahun Depan

Otoritas bursa tidak kapok mem­buat target perusa­haan yang akan menjual saham­nya di lantai bursa (IPO). Tahun depan, tar­getnya 30 perusahaan. Padahal, ta­hun ini diperkirakan hanya mam­pu menggaet 23 pe­rusahaan alias di bawah target.

Sebanyak 13 perusahaan akan menggelar IPO pada kuartal pertama  2013. Permintaan IPO 13 perusahaan itu telah disampaikan ke BEI. Ke-13 perusahaan itu yak­ni PT Siba Surya, PT Multi Agro Gemilang Plantations, PT Pela­yaran Nasional Bina Buana Raya, PT Indoprima Gemilang, PT Pasifik Agro Sentosa, PT Pelita Ceng­ka­reng Paper, PT Omni Inter na­sio­nal Hospital, PT Bank Mas­pion, PT Steel Pipe Industry In­donesia (Spindo), PT Saraswati Griya Les­tari, PT Dyandra Media Inter­nasional, PT Trans Power Marine dan PT Cipaganti Citra Graha.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen membeberkan, ke-13 perusahaan itu telah meng­gelar paparan singkat (mini ex­pose) ke BEI. Tahun depan, BEI menar­getkan menjaring 30 emi­ten baru.

“Dengan demikian, kami ting­gal mencari tambahan 17 emiten baru untuk mencapai target,” kata Hoesen di Jakarta, kemarin.

Dia menilai, besarnya jumlah antrean IPO dipicu ekspektasi mem­baiknya kondisi pereko­no­mian global tahun depan. Dari 13 calon emiten itu, beberapa peru­sahaan tadinya berniat me­ng­­­gelar IPO tahun ini.

“Yang me­mulai proses IPO tahun ini se­benarnya cukup ba­nyak. Tapi, ka­lau masalah kapan pencatatan (lis­ting) dilakukan, hal itu ter­gantung masing-masing perusa­haan,” papar Hoesen.

Dia menjelaskan, sebagian be­sar perusahaan yang akan IPO menggunakan laporan keuangan kuartal III tahun ini. Bagi peru­sahaan yang menggunakan lapo­ran keuangan Juni 2012, BEI me­minta perusahaan terkait meng­ubahnya menjadi kuartal III.

Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan (PKP) Sektor Jasa Badan Pengawas Pasar Modal dan Lem­baga Keuangan (Bapepam-LK) Noorachman mengatakan, ada enam perusahaan sektor jasa yang akan IPO tahun depan.

 Keenam perusahaan itu adalah PT Bank Maspion, PT Sarana Me­ditama Metropolitan, PT Sa­raswati Griya Lestari dan PT Trans Power Marine. “Kami te­ngah memproses IPO enam pe­rusahaan sektor jasa. Se­lain itu, ada satu rights issue dan tu­juh obligasi,” kata Noor. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA