.Diperdagangkannya saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk dinilai mengakhiri musim paceklik IPO di lantai bursa. Diperlukan rangsangan agar BUMN tertarik menggaet dana pasar modal.
PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) resmi mencatatkan saÂhamÂnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam pencatatan perÂdanaÂnya atau initial public offeÂring (IPO), saham Waskita memberiÂkan unÂtung 18,42 persen. Pada perÂdaÂgangan saham pukul 10.00 WIB, kemarin, saham Waskita menguat Rp 70 atau 18,42 persen menjadi Rp 450 per saham.
Di awal perÂdagangan saham pukul 09.30 WIB, harga saham BUMN di biÂdang konstruksi itu tercatat terendah sebesar Rp 420 dan tertinggi Rp 475 per saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 55 miliar.
Waskita menjadi BUMN ke-18 yang mencatatkan saham di bursa dan masuk pada urutan 462 seÂbagai emiten.
“Memang IPO perseroan digeÂlar pada timing yang tepat manaÂkala kondisi paÂsar dan saham konstruksi seÂdang booming. SeÂhingga meskipun harga saham perdana kami patok mendekati batas atas, namun minat invesÂtor masih tetap tinggi,†ujar Dirut PT Waskita Karya M Choliq di Gedung BEI Jakarta, kemarin.
Waskita melepas saham sebaÂnyak 3.082.315.000 atau 32 perÂsen dari modal ditempatkan dan disetorkan setelah penawaran umum, termasuk 192.645.000 saÂham baru atau 2 persen dari moÂdal ditempatkan dan diseÂtorkan setelah penawaran umum perdaÂna saham (IPO) dalam program employee stock allocation (ESA).
Harga penawaran ditetapkan sebesar Rp 380 per saham. SeÂlaÂma bookbuilding, perminÂtaan daÂÂri para investor institusi foreign dan domestik cukup besar, terÂmasuk dari investor kaÂtegori tier-1.
Komposisi peminat saham adaÂlah sekitar 75 persen investor dalam negeri terdiri dari institusi dalam negeri dan ritel dan sekitar 25 persen merupakan invesÂtor asing. Bertindak sebagai penÂjamin pelaksana emisi PT DanaÂrekÂsa Sekuritas, PT Bahana Securities dan PT Mandiri Sekuritas
Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito menuturkan, dari lima perusahaan BUMN yang ditargetkan go pubÂlic hingÂga 2012, baru satu yang tercatat melantai di bursa. Ito menilai, kondisi terseÂbut sangat ironis.
Pasalnya, pemerinÂtah menarÂgetkan lima perusahaan pelat merah untuk IPO hingga akhir 2012, tetapi kenyataannya hingga menjelang akhir tahun cuma satu yang listing.
“Melihat kenyataan BUMN yang IPO itu menjadi ironi, kaÂrena lima BUMN yang ditarÂgetÂkan akan go public hingga akÂhir 2012 tetapi nyatanya hanya satu, itu ironi,†curhat Ito dalam acara Economic Outlook 2013 di JaÂkarta, kemarin.
Dia mengatakan, dari 141 peÂrusahaan pelat merah yang berÂkontribusi terhadap pemaÂsukan neÂgara, diharapkan minimal 100 BUMN bisa go public. “Kalau 100 saja listing kapitalisasi pasar akan terus tumbuh,†tuturnya.
Target Tahun Depan
Otoritas bursa tidak kapok memÂbuat target perusaÂhaan yang akan menjual sahamÂnya di lantai bursa (IPO). Tahun depan, tarÂgetnya 30 perusahaan. Padahal, taÂhun ini diperkirakan hanya mamÂpu menggaet 23 peÂrusahaan alias di bawah target.
Sebanyak 13 perusahaan akan menggelar IPO pada kuartal pertama 2013. Permintaan IPO 13 perusahaan itu telah disampaikan ke BEI. Ke-13 perusahaan itu yakÂni PT Siba Surya, PT Multi Agro Gemilang Plantations, PT PelaÂyaran Nasional Bina Buana Raya, PT Indoprima Gemilang, PT Pasifik Agro Sentosa, PT Pelita CengÂkaÂreng Paper, PT Omni Inter naÂsioÂnal Hospital, PT Bank MasÂpion, PT Steel Pipe Industry InÂdonesia (Spindo), PT Saraswati Griya LesÂtari, PT Dyandra Media InterÂnasional, PT Trans Power Marine dan PT Cipaganti Citra Graha.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen membeberkan, ke-13 perusahaan itu telah mengÂgelar paparan singkat (mini exÂpose) ke BEI. Tahun depan, BEI menarÂgetkan menjaring 30 emiÂten baru.
“Dengan demikian, kami tingÂgal mencari tambahan 17 emiten baru untuk mencapai target,†kata Hoesen di Jakarta, kemarin.
Dia menilai, besarnya jumlah antrean IPO dipicu ekspektasi memÂbaiknya kondisi perekoÂnoÂmian global tahun depan. Dari 13 calon emiten itu, beberapa peruÂsahaan tadinya berniat meÂngÂÂÂgelar IPO tahun ini.
“Yang meÂmulai proses IPO tahun ini seÂbenarnya cukup baÂnyak. Tapi, kaÂlau masalah kapan pencatatan (lisÂting) dilakukan, hal itu terÂgantung masing-masing perusaÂhaan,†papar Hoesen.
Dia menjelaskan, sebagian beÂsar perusahaan yang akan IPO menggunakan laporan keuangan kuartal III tahun ini. Bagi peruÂsahaan yang menggunakan lapoÂran keuangan Juni 2012, BEI meÂminta perusahaan terkait mengÂubahnya menjadi kuartal III.
Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan (PKP) Sektor Jasa Badan Pengawas Pasar Modal dan LemÂbaga Keuangan (Bapepam-LK) Noorachman mengatakan, ada enam perusahaan sektor jasa yang akan IPO tahun depan.
Keenam perusahaan itu adalah PT Bank Maspion, PT Sarana MeÂditama Metropolitan, PT SaÂraswati Griya Lestari dan PT Trans Power Marine. “Kami teÂngah memproses IPO enam peÂrusahaan sektor jasa. SeÂlain itu, ada satu rights issue dan tuÂjuh obligasi,†kata Noor. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: