.Aneh, rencana penjualan saham perdana pabrik Semen PT Baturaja tiba-tiba dimentahkan lagi oleh DPR. Padahal, rencana itu tinggal finalisasi. Diduga ini merupakan serangan balik Senayan atas manuver Menteri BUMN Dahlan Iskan belum lama ini.
Mengulur waktu lantas meÂnolak. Lihat saja, pada Rabu (12/12), rapat membahas masalah penjuaÂlan saham perdana atau initial public offering (IPO) berÂjalan molor. Semula rapat diÂjadwalkan pukul 10.00 namun molor menjadi 11.00 karena meÂnunggu kedatangan Menteri KeÂuangan Agus Martowardojo.
Dalam rapat tersebut, dipuÂtuskan rapat ditunda dan dilanÂjutkan Kamis (13/12). Setelah rapat berjalan 10 jam, Komisi XI DPR akhirnya menolak rencana priÂvatisasi PT Semen Baturaja. AlaÂsannya, persiapan rencana privaÂtisasi perusahaan semen itu terlalu terburu-buru.
Wakil Ketua Komisi XI DPR Zulkieflimansyah menyatakan, mayoritas fraksi di Komisi XI DPR tidak menyetujui rencana IPO itu. “Kami belum menyeÂtujui rencana IPO Semen BatuÂraja kali ini,†kata ZulkiefliÂmanÂsyah.
Politisi PKS ini menyeÂbutÂkan, perseroan dianggap terlalu terÂburu-buru merencanakan IPO. Padahal, rencana itu menyangkut kepentingan negara, karena seÂbagian (maksimal 30 persen saham) akan dijual ke publik.
“Kami intinya tidak mau gegaÂbah. Kami ingin pembahasan seÂcara komprehensif,†tamÂbahnya.
Meski tidak menyetujuinya di rapat kerja saat ini, pihaknya maÂsih membuka kemungkinan mengÂgelar rapat kerja saat masa reses. Sebab, mulai Jumat, DPR mulai masuk masa reses hingga 13 Januari 2013. “Ini masih diÂlihat kemungkinannya, khususÂnya di masa reses,†katanya.
Rapat pengambilan keputusan proses IPO Semen Baturaja diÂmulai pukul 16.30 WIB. Komisi XI DPR melakukan skorsing siÂdang karena masuk waktu magÂrib. Namun sebagian besar fraksi tidak menyetujui rencana IPO. Hanya Fraksi Partai Gerindra yang menyarankan Semen BatuÂraja bisa dibeli atau digabung deÂngan Semen Gresik yang seÂbenÂtar lagi akan menjadi Semen InÂdonesia. Namun, rapat kembali diskors pukul 21.13 WIB.
Rapat itu memberikan kesemÂpatan fraksi menyamakan perÂsepsi dan mengambil keputusan. Rapat yang seharusnya diskors 10 menit ternyata molor sampai 1,5 jam. Rapat akhirnya dibuka kemÂbali pada pukul 23.00 WIB. RaÂpat itu memutuskan bahwa DPR tidak menyetujui rencana IPO Semen Baturaja.
Menteri BUMN Dahlan Iskan hanya bisa pasrah dengan konÂdisi yang ada. “Kami hargai apa yang telah diputuskan oleh angÂgota dewan,†kata Dahlan.
Pengamat BUMN yang juga mantan Sektretaris KemenÂterian BUMN Said Didu menilai, peÂnunÂdaan IPO Semen Baturaja akan menganggu program priÂvaÂtisasi BUMN ke depannya.
“PriÂvatisasi mentah padahal sudah di ujung finalisasi. Saya berharap jangan sampai ini berÂulang karena privatisasi itu butuh keÂpastian,†tutur Said.
Namun dia berpendapat, DPR memang memiliki kuasa terhaÂdap menerima atau menolak proÂgram privatisasi sebelum diseÂtujui oleh Presiden SBY.
Dijelaskan, priÂvatisasi BUMN punya manfaat meningÂkatkan transparansi di tubuh peÂrusahaan pelat merah di samping memÂperoleh suntikan permodaÂlan. “Privitasi ada tujuan lain supaya menjadi transparan,†katanya.
PengaÂmat ekonomi Universitas Indonesia (UI) Aris Yunanto meÂmiliki sudut pandang berbeda terhadap minimnya program priÂvatisasi BUMN tahun 2012.
Menurutnya, faktor perlamÂbatan ekonomi dunia menjadi faktor dominan sikap kehati-haÂtian yang diambil pemerintah dan DPR untuk menyetujui IPO peruÂsaÂhaan pelat merah di 2012.
Pemerintah mengklaim penaÂwaran saham kepada publik mamÂpu menyerap 500 hingga 2.000 tenaga kerja baru. “Pada awal IPO, perseroan mampu menyerap teÂnaga kerja sebanyak 500 orang. Selanjutnya, dalam jangka panÂjang mampu menyeÂrap hingga 2.000 orang,†kata Wakil MenÂteri BUMN MahmudÂdin Yasin.
Menkeu Agus Martowardojo menilai, rencana privatisasi SeÂmen Baturaja mampu membawa dampak baik bagi perseroan, terÂuÂtama untuk ekspansi dan peÂnguatan modal.
“Terutama untuk mewujudÂkan peneraÂpan good corÂporate goÂverÂnance,†ujar Agus. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: