Pemerintah didesak segera mengoptimalkan potensi ekonomi di daerah dengan mempercepat pembangunan infrastruktur. Penguatan ekonomi domestik sangat penting karena ada ancaman krisis global yang berasal dari China.
Ketua Umum Asosiasi PemeÂrintah Kabupaten Seluruh IndoÂnesia (Apkasi) Isran Noor meÂnegaskan, sudah saatnya pemeÂrinÂtah lebih serius meningkatkan infrastruktur di luar Jawa. DeÂngÂan cara ini, maka pemanÂfaatan poÂtensi sumber daya alam di luar Jawa mulai bakal lebih maksimal.
“Untuk itu, diperlukan akÂseleÂrasi penambahan infraÂstrukÂtur dan peÂningkatan kualitas infraÂstruktur yang ada,†ujar Isran di sela acara seÂminar di Jakarta, keÂmaÂrin.
Diakui, perkembangan ekoÂnoÂmi nasional selama delapan taÂhun terakhir berjalan cukup baik dan telah membuat angka keÂmisÂkinan dan pengangguran di IndoÂnesia terus berkurang.
BerÂdasarkan daÂta-data di lapaÂngan, setelah meÂlalui masa pemuÂlihan yang panÂjang sejak terjaÂdinya krisis tahun 1997-1998, diperÂkiÂraÂkan baru tahun 2012 ini angka kemiskinan secara nasioÂnal kemÂbali ke posisi yang terjadi pada tahun 1996, yakÂni sekitar 11.3 persen dari total penduduk.
Bupati Kutai Timur ini meÂngaÂÂtakan, banyak potensi di luar JaÂwa yang belum tergarap seÂcara makÂsimal. Hal ini diÂseÂbabÂkan hanÂÂcurÂnya berbagai saÂrana inÂfraÂstrukÂtur. Padahal, seÂtiap pemÂbaÂngunan membuÂtuhÂkan pemeraÂtaan.
Penguatan Ekonomi
Bank Dunia meÂngÂingatkan perÂlunya penguaÂtan ekoÂnomi doÂmesÂtik karena pertumÂbuhan ekoÂnomi Indonesia tengah dibaÂyangi peÂleÂmahan ekonomi dunia.
Country Director Bank Dunia untuk IndoÂnesia Stefan Koeberle menyataÂkan, Indonesia punya tantangan untuk bisa menjaga pertumbuhan ekonomi hingga saat ini. Apalagi di tengah tingÂginya ketidakÂpastian ekoÂnoÂmi global.
“Kondisi pertumbuhan ekoÂnoÂmi Indonesia saat ini tetap kuat tetapi masih terdapat risiko penuÂrunan yang cukup besar terhadap perkiraan ekonomi dunia,†warÂning Koeberle saat memaparkan perkemÂbangan kuartalan ekonoÂmi IndoÂnesia edisi Oktober 2012 di JaÂkarta, kemarin.
Dari catatan Bank Dunia, perÂtumÂbuhan ekonomi Indonesia paÂda kuartal II-2012 tumÂbuh 6,4 persen. Pertumbuhan itu didoÂrong oleh kuatnya daya konÂsumsi swasta dan meningkatnya invesÂtasi. Di akhir tahun nanti, Bank Dunia memperÂkiraÂkan ekonomi Indonesia tumÂbuh 6,1 persen.
Namun, kata Koeberle, perÂkemÂÂbangÂan Indonesia jelas tiÂdak akan luÂput dari pengaruh peleÂmahan duÂnia internasional.
“Risiko-riÂsiko terhadap proÂyekÂsi dasar (baÂseÂline) ini sedang meÂningkat,†tambahnya.
Menurut Koeberle, peningÂkatÂan risiko proyeksi dasar ini terÂutama disebabkan karena berÂlanÂjutnya ketidakpastian di zona EroÂpa, keÂmungkinan terjadinya kontraksi fiskal di Amerika SeriÂkat (AS) dan risiko perlambatan lebih lanjut di sejumlah mitra perdaÂgaÂngan utama Indonesia terÂutaÂma China.
Seperti diketahui, guncangan ekonomi global jilid tiga dipreÂdiksi akan terjadi pekan ini. Bila sebelumnya pusat guncangan terjadi akibat krisis utang Eropa-AS, kini pemicu ada di China akiÂbat melambatnya perÂtumbuhan.
Selama lima tahun terakhir perÂekonomian emerging market, muÂlai dari China hingga Brazil, terus mengurangi kecepatan lajuÂnya. China melaporkan perÂtumÂbuhan ekonominya yang diÂpreÂdiksi tumbuh 7,4 persen pada kuartal lalu. Jika hal itu terjadi, maka, angka itu menjadi pertumÂbuhan China paling lamÂbat daÂlam tiga tahun terakhir.
Dia menjelaskan, perlambatan ekonomi China akan memukul perÂekonomian negara kaya. PeÂnuÂruÂnan sekitar 1 persen atas perÂtumÂbuhan ekonomi China meÂnyeÂbabÂkan penurunan harga koÂmoÂditas sebesar 1,5 poin.
KonÂdisi ini, lanjut dia, jelas akan mengancam negara-negara yang kaya komoditas seperti KaÂnada. Sementara 80 persen baÂrang-barang dari negara ini diÂimpor dari Jepang, Korea SelaÂtan dan Taiwan.
Ekonom Utama dan Penasihat Ekonomi Bank Dunia untuk IndoÂÂnesia Ndiame Diop meÂnyaÂrankan agar Indonesia perlu memÂÂ- perÂsiÂapkan diri lebih baik seiring meÂlemahnya peÂreÂkonoÂmian China. Dampak pelemahan ChiÂna akan memukul perekonomian dunia termasuk Indonesia.
“UnÂtuk tetap kuat, peÂmeÂrintah seÂlama ini memang telah meÂnyiapÂkan CMP (Crisis ManageÂment ProÂtocol) dan IndoÂnesia punya keÂmamÂpuan untuk menaÂngani maÂsalah fiskal. PerÂmaÂsaÂlahannya bagaimana bisa mengÂÂkonsoliÂdasiÂkan fiskal untuk meÂlinÂdungi yang lemah,†ujar Diop, kemarin. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: