Pembangunan Infrastruktur Di Daerah Butuh Akselerasi

Ekonom Bank Dunia: Waspadai Pukulan Balik Dari Krisis China

Selasa, 16 Oktober 2012, 08:31 WIB
Pembangunan Infrastruktur Di Daerah Butuh Akselerasi
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo Pemerintah didesak segera mengoptimalkan potensi ekonomi di daerah dengan mempercepat pembangunan infrastruktur. Penguatan ekonomi domestik sangat penting karena ada ancaman krisis global yang berasal dari China.

Ketua Umum Asosiasi Peme­rintah Kabupaten Seluruh Indo­nesia (Apkasi) Isran Noor me­negaskan, sudah saatnya peme­rin­tah lebih serius meningkatkan infrastruktur di luar Jawa. De­ng­an cara ini, maka peman­faatan po­tensi sumber daya alam di luar Jawa mulai bakal lebih maksimal.

“Untuk itu, diperlukan ak­sele­rasi penambahan infra­struk­tur dan pe­ningkatan kualitas infra­struktur yang ada,” ujar Isran di sela acara se­minar di Jakarta, ke­ma­rin.

Diakui, perkembangan eko­no­mi nasional selama delapan ta­hun terakhir berjalan cukup baik dan telah membuat angka ke­mis­kinan dan pengangguran di Indo­nesia terus berkurang.

Ber­dasarkan da­ta-data di lapa­ngan, setelah me­lalui masa pemu­lihan yang pan­jang sejak terja­dinya krisis tahun 1997-1998, diper­ki­ra­kan baru tahun 2012 ini angka kemiskinan secara nasio­nal kem­bali ke posisi yang terjadi pada tahun 1996, yak­ni sekitar 11.3 persen dari total penduduk.

Bupati Kutai Timur ini me­nga­­takan, banyak potensi di luar Ja­wa yang belum tergarap se­cara mak­simal. Hal ini di­se­bab­kan han­­cur­nya berbagai sa­rana in­fra­struk­tur. Padahal, se­tiap pem­ba­ngunan membu­tuh­kan pemera­taan.

Penguatan Ekonomi

Bank Dunia me­ng­ingatkan per­lunya pengua­tan eko­nomi do­mes­tik karena  pertum­buhan eko­nomi Indonesia tengah diba­yangi pe­le­mahan ekonomi dunia.

Country Director Bank Dunia untuk Indo­nesia Stefan Koeberle menyata­kan, Indonesia punya tantangan untuk bisa menjaga pertumbuhan ekonomi hingga saat ini. Apalagi di tengah ting­ginya ketidak­pastian eko­no­mi global.

“Kondisi pertumbuhan eko­no­mi Indonesia saat ini tetap kuat tetapi masih terdapat risiko penu­runan yang cukup besar terhadap perkiraan ekonomi dunia,” war­ning Koeberle saat memaparkan perkem­bangan kuartalan ekono­mi Indo­nesia edisi Oktober 2012 di Ja­karta, kemarin.

Dari catatan Bank Dunia, per­tum­buhan ekonomi Indonesia pa­da kuartal II-2012 tum­buh 6,4 persen. Pertumbuhan itu dido­rong oleh kuatnya daya kon­sumsi swasta dan meningkatnya inves­tasi. Di akhir tahun nanti, Bank Dunia memper­kira­kan ekonomi Indonesia tum­buh 6,1 persen.

Namun, kata Koeberle, per­kem­­bang­an Indonesia jelas ti­dak akan lu­put dari pengaruh pele­mahan du­nia internasional.

“Risiko-ri­siko terhadap pro­yek­si dasar (ba­se­line) ini sedang me­ningkat,” tambahnya.

Menurut Koeberle, pening­kat­an risiko proyeksi dasar ini ter­utama disebabkan karena ber­lan­jutnya ketidakpastian di zona Ero­pa, ke­mungkinan terjadinya kontraksi fiskal di Amerika Seri­kat (AS) dan risiko perlambatan lebih lanjut di sejumlah mitra perda­ga­ngan utama Indonesia ter­uta­ma China.

Seperti diketahui, guncangan ekonomi global jilid tiga dipre­diksi akan terjadi pekan ini. Bila sebelumnya pusat guncangan terjadi akibat krisis utang Eropa-AS, kini pemicu ada di China aki­bat melambatnya per­tumbuhan.

Selama lima tahun terakhir per­ekonomian emerging market, mu­lai dari China hingga Brazil, terus mengurangi kecepatan laju­nya. China melaporkan per­tum­buhan ekonominya yang di­pre­diksi tumbuh 7,4 persen pada kuartal lalu. Jika hal itu terjadi, maka, angka itu menjadi pertum­buhan China paling lam­bat da­lam tiga tahun terakhir.

Dia menjelaskan, perlambatan ekonomi China akan memukul per­ekonomian negara kaya. Pe­nu­ru­nan sekitar 1 persen atas per­tum­buhan ekonomi China me­nye­bab­kan penurunan harga ko­mo­ditas sebesar 1,5 poin.

Kon­disi ini, lanjut dia, jelas akan mengancam negara-negara yang kaya komoditas seperti Ka­nada. Sementara 80 persen ba­rang-barang dari negara ini di­impor dari Jepang, Korea Sela­tan dan Taiwan.

Ekonom Utama dan Penasihat Ekonomi Bank Dunia untuk Indo­­nesia Ndiame Diop me­nya­rankan agar Indonesia perlu mem­­- per­si­apkan diri lebih baik seiring me­lemahnya pe­re­kono­mian China. Dampak pelemahan Chi­na akan memukul perekonomian dunia termasuk Indonesia.

“Un­tuk tetap kuat, pe­me­rintah se­lama ini memang telah me­nyiap­kan CMP (Crisis Manage­ment Pro­tocol) dan Indo­nesia punya ke­mam­puan untuk mena­ngani ma­salah fiskal. Per­ma­sa­lahannya bagaimana bisa meng­­konsoli­dasi­kan fiskal untuk me­lin­dungi yang lemah,” ujar Diop, kemarin. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.