400 Kasus Penyelundupan Pupuk Subsidi Nggak Boleh Menguap

DPR Minta BPK Audit Penyalurannya

Senin, 15 Oktober 2012, 08:59 WIB
400 Kasus Penyelundupan Pupuk Subsidi Nggak Boleh Menguap
ilustrasi, Pupuk Subsidi
Kecil Besar

rmol news logo Kementerian Pertanian (Kementan) meminta tambahan anggaran subsidi pupuk 2013. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diminta mengaudit penyalurannya.

Menteri Pertanian (Mentan) Sus­wono mengaku, alokasi ang­garan subsidi pupuk 2013 sebe­sar Rp 15,9 triliun tidak meme­nuhi ke­butuhan pupuk hingga akhir tahun. Menurutnya, de­ngan ang­garan tersebut dan Har­ga Eceran Tertinggi (HET) tahun 2012 ha­nya bisa memenuhi ke­butuhan pu­puk 7,06 juta ton dan hanya cu­kup sampai Juli 2013.

 Padahal, kebutuhan pupuk ta­hun depan 9,1 juta ton. Angga­ran Rp 15,9 triliun itu terdiri dari Rp 6,3 triliun untuk subsidi pu­puk urea, Rp 8,9 triliun, Rp 670 mi­liar untuk pupuk organik dan kurang bayar subsidi pupuk tahun 2010 sebesar Rp 84,2 miliar.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Subagyo mengatakan, pi­­hak­nya belum bisa memenuhi per­­mintaan Kementan untuk me­nam­bah anggaran subsidi pupuk. Ala­sannya, saat ini penyaluran pupuk subsidi tidak tepat sasaran dan masih banyak diselun­dup­kan.

“Kalau masih banyak disa­lah­gunakan, buat apa ditambah. Di­tambah berapa pun nggak akan pernah cukup,” katanya kepada Rakyat Merdeka, Jumat (12/10).

Bahkan, kata politisi Partai Gol­­­kar itu, pihaknya sudah me­ngurangi anggaran subsidi pupuk untuk 2012 karena serapan tidak pernah maksimal. Sisanya ini yang banyak disalahgunakan.

Menurut dia, komisinya sudah sepakat agar BUMN pupuk mem­benahi penyaluran pupuk subsidi. Apalagi berdasarkan la­poran yang dia terima, ada se­ki­tar 400 ka­sus penyelundupan pupuk sub­sidi. Bahkan saat ini banyak pu­puk subsidi yang di­pakai un­tuk industri.

“Modus dari mafia pupuk ini pelaku biasanya distributor dan pe­ngecer yang ditunjuk peru­sa­haan pupuk menjual pupuk ke­pada orang yang tidak seharusnya menerima dan yang sudah ada dalam daftar Rencana Data Ke­butuhan Kelompok(RDKK),” ungkap Firman.

Untuk itu, dia meminta BPK tidak hanya mengaudit penye­ra­pannya saja, tapi juga penya­lu­ran­nya, apakah sudah tepat sa­saran atau belum. “Kami min­ta agar temuan dan tangkapan ter­hadap penyelundupan terus ditin­daklanjuti, jangan dibiarkan me­nguap begitu saja. Memasuki mu­sim panen kegiatan itu akan se­makin banyak,” tegas Firman.

Wakil Ketua Komisi IV Her­man Khaeron meminta pelak­sa­naan subsidi pupuk Ditjen Pra­sarana dan Sarana Pertanian me­lakukan audit lahan agar jumlah pupuk bersubsidi disesuaikan de­ngan jumlah lahan. Hal ini pen­ting guna menghindari penyele­wengan pupuk bersubsidi.

“Komposisi itu penting untuk menentukan berapa besaran sub­sidi yang dibutuhkan rakyat dan tepat sasaran,” kata Herman.

Politisi Partai Demokrat itu juga mengatakan, mes­tinya pe­nerima pupuk harus meng­gu­nakan ren­cana distribusi ke­bu­tuhan kelom­pok (RDKK).

“Kalau menggu­na­kan RDKK de­ngan kartu, kan ke­lihatan pe­nerima pupuk sudah me­nerima be­rapa pupuk bersubsidi,” ujarnya.

Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo mengakui, dalam tiga tahun terakhir distri­busi subsidi pupuk selalu ber­ada di bawah target yang di­tetapkan DPR. Dengan begitu, volume sub­sidinya diturunkan dari 10 juta ton menjadi 8 juta ton tahun ini karena pendistri­bu­siannya dianggap tidak berhasil dimak­simalkan.

Terkait permintaan tambahan subsidi pupuk oleh Kementan, Agus juga meminta audit dari BPK ter­lebih dahulu.

“Saya mau merespons ada as­pirasi bahwa pupuk akan kurang, itu silahkan dibicarakan dengan DPR. Nanti akan dilakukan audit dan (kami) minta BPK. Kalau su­dah diaudit, kami siapkan ang­garan di 2013,” tandas Menkeu.

Sebelumnya, Mentan Suswono menegaskan, pihaknya selalu me­nyediakan kebutuhan pupuk ber­subsidi untuk petani sesuai yang dialokasikan dalam APBN. Na­mun, jika memang ditemui ke­bo­coran atau penyelewengan, Ke­mentan akan berkoordinasi de­ngan Kementerian Perda­ga­ngan dan BUMN pupuk.  [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA