Dicerai Bakrie, Pengusaha Yahudi Tunggu Investigasi

Analis: BUMI Bakal Kesulitan Memperoleh Utang Baru

Sabtu, 13 Oktober 2012, 08:26 WIB
Dicerai Bakrie, Pengusaha Yahudi Tunggu Investigasi
PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
rmol news logo .Pemilik Bakrie Group mengambil langkah radikal terkait perseteruannya dengan pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Bakrie memutuskan untuk ‘bercerai’ dengan salah satu pemilik Bumi Plc, Nathaniel Rothschild.

Para pemegang saham Bumi Plc, pemilik saham  PT Bumi Re­sources Tbk (BUMI) dan PT Be­rau Coal Energy Tbk (BRAU) ak­hir­nya pecah. Grup Bakrie me­nya­takan akan memutuskan kerja sama dengan dua kongsinya di Bumi Plc, yaitu Nathaniel Roths­child dan Samin Tan. Hal itu di­nilai sebagai puncak dari per­se­teruan Bakrie dengan Rothschild.

Dalam proposal yang diajukan­nya, dua anggota Bakrie Group, yakni PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) dan Long Haul Hol­dings Limited, ingin melepas se­luruh sahamnya di Bumi Plc yang mencapai 23,8 persen dari total saham Bumi Plc. Bakrie ingin me­nukarnya dengan saham BUMI yang dimiliki Bumi Plc. Saat ini, Bumi Plc tercatat me­miliki 29,2 persen saham BUMI.

Pelepasan saham akan ditem­puh dalam dua bagian. Pertama, Ba­krie menukarnya dengan 10,3 persen saham BUMI yang dikua­sai Bumi Plc. Kedua, Bakrie akan membeli kembali sisa sa­ham Bu­mi Plc di BUMI seba­nyak 18,9 per­sen (sekitar 278,3 juta do­lar AS) secara tunai sebelum Natal 2012.

Tidak hanya itu, Grup Bakrie juga akan mengambil alih selu­ruh saham BRAU yang dimiliki Bu­mi Plc. Kini Bumi Plc memi­liki 84,7 persen saham BRAU senilai 947 juta dolar AS. Target Bakrie, enam bulan ke depan ren­­cana ter­sebut akan selesai.

“Kami menilai, ini adalah win win solu­tion bagi seluruh peme­gang sa­ham,” ujar Vice President Bakrie Group Chris Fong dalam pernya­ta­an resminya seperti di­kutip Bloom­berg, kemarin.

Menurut Fong, kongsi dengan Rothschild justru membawa dam­­­pak buruk bagi perseroan. Na­tahniel Roth­schild di­sinyalir bisa merugi Rp 216,2 mi­liar bila Bak­rie benar-benar me­realisasikan untuk ‘ber­cerai’.

Rothschild menolak mengo­mentari kesepakatan yang diusul­kan keluarga Bakrie. Dia me­­ne­gaskan, akan menunggu in­ves­tigasi atas penyimpangan ke­ua­ngan selesai. “Seperti telah dicatat selama 12 bulan terakhir, telah ada tantangan dalam mene­rap­kan tata kelola pe­rusahaan. Dan ini telah menjadi sumber gesekan antara anggota dewan dan peme­gang saham,” kata pengusaha asal Inggris keturunan Yahudi ini.

Menanggapi pecah kongsi ini, analis pasar modal dari Samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro me­­­­­nilai, pecah kongsi akan ber­dampak negatif terhadap Grup Bakrie secara keseluruhan. Teru­tama karena Grup Bakrie memi­liki kesulitan terhadap dana tunai. Selain itu, Grup Bakrie me­miliki jumlah utang yang sangat besar.

“Sehingga kami be­lum meli­hat cara Grup Bakrie men­­­­da­patkan dana tunai tersebut dalam waktu yang singkat,” ujar­nya, kemarin.

Menurut Yualdo, apabila Grup Ba­k­rie dapat mendapatkan dana tunai tersebut, maka akan lebih baik bila dana itu digunakan un­tuk mem­bayar utang-utang­nya.

Analis pasar modal dari Wa­terfront Securities Okta­vi­anus Marbun menegaskan, Bakrie ma­sih punyai ke­mam­puan fi­nansial untuk mem­beli kembali sa­ham BUMI dan BRAU. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA