Impor hortikultura seperti proÂduk hasil pertanian makin mengÂgila. Ketua Umum Dewan HoltiÂkultura Nasional Benny Kusbini menuÂturkan, importasi yang terÂjadi dalam sektor hortikultura suÂÂdah sangat memperihatinkan.
Terlihat jelas dari nilai impor pada 2011 yang sudah menembus 1,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 15,3 triliun. Bandingkan deÂngan ekspor hortikultura yang hanya berÂkisar antara 150-200 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,8 triliun.
Menurut Benny, pengusaha yang terÂgabung dalam dewan horÂtikulÂtura bukanlah anti impor atau meÂnoÂlak impor. Tapi, jumÂlahnya janganlah terlalu besar, porsi proÂduk lokal harus lebih baÂnyak dari produk impor.
“Ya kalau impor bisa masuk ke Indonesia, maka tidak ada saÂlahÂnya pemeÂrinÂtah harus memÂbantu produk horÂtikultura InÂdoÂnesia agar bisa di ekspor suÂpaya niÂlainya meÂningkat,†ujarnya keÂÂpada RakÂÂyat Merdeka di JaÂkarta, kemarin.
Untuk itu, Benny meminta seÂmua stakeholder agar bekerja keÂras meningÂkatÂkan kualitas proÂduk-produk horÂtikultura supaya nantinya produk lokal mampu bersaing dengan produk impor.
“Ini saatnya kita bangkit. Tata kelola impor horÂtiÂkulÂtura harus dibenahi, jika seÂmuanya berjaÂlan lancar. Kita bisa menjadi neÂgara pengekspor hortiÂkultura,†tegas Benny.
Sekedar informasi, pada 2011 imÂpor cabe mencapai 9 juta dolar AS, kentang 46 juta dolar AS, bawan merah 107 juta dolar AS, wortel 21 juta dolar AS, Apel 186 juta dolar AS, kurma 120 juta dolar, jeruk 165 juta dolar AS.
Sebelumnya, Kementerian PerÂdagangan menyatakan telah meÂrelÂaÂkÂsasi sejumlah aturan impor horÂtikultura, seperti kewajiban imÂportir terdaftar (IT) dan imÂporÂtir produsen (IP) dan wajib label.
Wakil Sekjen Asosiasi PengÂusaha Ritel Indonesia (AprinÂdo) Satria Hamid Ahmadi mengÂataÂkan, peritel masih menggunaÂkan paÂsokan yang ada untuk meÂmeÂnuhi permintaan hortikultura. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: