.PT Freeport Indonesia diminta meÂÂÂÂmenuhi kewajiban pada negaÂra seperti membayar setoran diÂviden. Jangan samÂÂÂpai penundaan setoÂran dividen dijadikan alat tawar meÂnawar proÂses negosiasi konÂtrak tambang, yang kini teÂngah diÂbahas oleh peÂmerintah.
Anggota Komisi VII DPR Dito Ganinduto meminta peÂmerintah untuk mendesak FreeÂport segera meluÂnasi seÂtoran dividen yang kurang. MenuÂrutnya, perusahaan tambang dari AmeÂrika Serikat (AS) ini harus bisa memenuhi kewaÂjibanÂnya sesuai aturan.
“Kewajiban terÂhaÂdap peneriÂmaÂan negara tidak bisa ditunda-tunda. Kita dukung Menteri BUMN menagih dividen kepada Freeport,†tegas Dito keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Dito menyebutkan, saat ini saÂja Freeport masih membayar roÂyalti sebesar 1 persen. MenuÂrutÂnya, jeÂlas dalam aturan bagaiÂmaÂna keÂwajiban Freeport seharusÂnya, naÂmun kenyataannya kewaÂjiban peÂruÂsahaan asing itu tidak dilakÂsaÂnakan sesuai aturan.
Sebagai informasi, dalam PeraÂturan Pemerintah No.45 TaÂhun 2003 tentang Tarif atas Jenis PeneÂrimaan Negara Bukan Pajak, FreeÂport berkewajiban membaÂyarÂÂkan royalti sebesar 3,75 persen untuk emas, 4 persen untuk temÂbaga dan 3,25 persen untuk peÂrak. Namun, selama bertahun-taÂhun Freeport hanya membayar 1 perÂsen untuk emas, 1,5 perÂsen untuk temÂbaga dan 1 perÂsen unÂtuk perak. Freeport memÂbaÂyar pajak seÂbesar 35 persen.
PT Freeport Indonesia mengaku belum bisa memÂbayar setoran dividen sebeÂsar Rp 350 miliar seÂperti yang diminta BUMN. PresiÂden DirekÂtur PT Freeport IndoneÂsia Rozik B Soetjipto berkilah, pembagian dividen beÂlum bisa dilakukan karena peruÂsaÂhaan belum melaÂkuÂkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUÂPS) dan beÂlum bisa memasÂtikan untuk kaÂpan melaÂkukan pemÂbayaran.
Sebelumnya, Menteri BUMN DahlÂan Iskan ngotot menaÂgih diviÂden Freeport kepada KeÂmenÂÂterian BUMN sebesar Rp 350 miliar. DahÂÂlan tak peduli soal konfirmasi dari Freeport yang mengaku mengÂalami keÂsuÂlitan keuangan untuk memeÂnuhi keÂwaÂjiban pembaÂyaÂran dÂiviÂden ke kas negara. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: