Gapmmi Minta Tarif Bea Masuk Mamin Impor Diperbesar Lagi

Agar Pasar Lokal Tidak Tergerus & Munculkan Peluang Ekspor

Kamis, 11 Oktober 2012, 08:15 WIB
Gapmmi Minta Tarif Bea Masuk Mamin Impor Diperbesar Lagi
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo Pemerintah sudah saatnya mem­per­­besar tarif bea masuk (BM) bagi produk makanan dan mi­num­an (mamin) impor. Kebi­jak­an tersebut guna menghambat ma­suknya produk makanan im­por yang terus menggerus porsi produk lokal. Saat ini, tarif bea ma­suk yang relatif rendah diban­dingkan negara lain membuat produk impor makanan dan mi­numan mem­banjiri pasar dalam negeri.

“Rata-rata tarif bea masuk pro­duk mamin di Indonesia 6,8 per­sen. Tarif itu jauh lebih ren­dah dari rata-rata bea masuk di negara lain seperti Korea Selatan 12,1 persen, India 13 per­sen, hingga China 9,1 persen,” kata Ketua Umum Gabungan Pe­ngusaha Makanan dan Minuman Indone­sia (Gapmmi) Adhi S  Luk­man di Jakarta, kemarin.

Industri mamin dalam negeri, menurut Adhi, menghadapi tan­ta­ngan yang berat baik di pasar do­mestik maupun pasar ekspor.

“Di satu sisi produk mamin im­por bisa mudah masuk dan ber­saing dengan produk mamin pro­duksi dalam negeri. Sedangkan untuk masuk ke pasar ekspor, industri ma­min nasional meng­hadapi tan­tangan dan persaingan yang lebih ketat,” paparnya.

Pemberlakuan tarif bea masuk, kata Adhi, merupakan kebi­jak­an tiap negara, sehingga terdapat per­bedaan besaran. Hal itu  dila­ku­kan untuk me­­lindungi produk dalam ne­ge­rinya agar bisa bersaing.

“Pa­da perdagangan bebas yang telah berjalan, kami merasa per­bedaan ini kurang adil. Pasal­nya, Indo­nesia menjadi tujuan alter­natif pasar produk ekspor mamin dari ne­gara lain dan importir mem­butuhkan pasar alternatif untuk mengalihkan penjualan da­ri pasar mamin di Eropa dan Ame­rika Se­rikat yang cenderung sepi aki­bat krisis ekonomi,” curhat Adhi.

Sekretaris Jendral Gapm­mi Franky Sibarani berharap, omzet industri mamin akan tum­buh 8-10 persen pada 2012. Na­mun, Franky meng­ingat­kan, per­tumbuhan industri mamin bisa ter­tekan karena impor ma­min yang diperkirakan me­lonjak 20 persen pada 2012. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA