Perbaikan daya saing indusÂtri nasional menjadi syarat muÂtlak agar berbagai produk nasioÂnal bisa menembus pasar ekspor dan mengurangi domiÂnasi baÂrang imÂpor di dalam negeri. KaÂrena itu, pemerintah perlu berÂkoÂmitÂmen kuat untuk memÂperÂbaiki berbagai infrastruktur, terÂmasuk menghiÂlangkan berbagai hambaÂtan usaÂha. Seperti puÂngutan liar (pungli), birokrasi dan pungli dari premaÂnisÂme.
Pengamat ekonomi Didik J RachÂbini menganalogikan, kiÂnerja pemerintah pertumbuhan ekoÂnomi seperti pertumbuhan moÂÂbil dan pertumbuhan jalan.
“MoÂbil mewakili ekonomi maÂsyaÂrakat, sementara jalan mewaÂkili kinerja pemerintah. PertumÂbuhannya keduanya tidak sejaÂlan,†ujarnya kepada Rakyat MerÂdeka di Jakarta, kemarin.
Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin IndoneÂsia ini menilai, letak persoalan terÂsendatnya pemÂbangunan inÂfraÂstruktur ada di kelirunya tata keÂlola anggaran. Menurut Didik, ekonomi IndoneÂsia maju, tetapi birokrasi nasioÂnal terbelakang.
“Perjalanan dinas saja bisa menÂcapai Rp 20 triliun, bayangÂkan kalau itu digunakan untuk membangun jalan, Rp 3 miliar per kilometer. Tata kelola anggaÂran kita tidak efektif,†kritiknya.
Didik menegaskan, infraÂstrukÂtur tidak dapat diingkari menjadi penghambat usaha di daerah. Menurutnya, 80 persen anggaÂran pemerintah darah habis untuk urusan biroÂkrasi.
“Karena pajak dari rakyat, APBN dan APBD lebih banyak dipakai untuk subsidi listrik, beÂlanja pegawai, belanja barang jaÂsa dan perjalanan dinas pegaÂwai. Bagaimana mau bikin infraÂstrukÂtur?“ tanyanya.
Dengan segala keterbatasan inÂfrastruktur dan kendala birokÂrasi, Didik tetap optimis pertumÂbuhan investasi akan meningkat. “InfraÂstruktur kita memang buÂruk, teÂtapi investor tetap masuk. Artinya kita memiliki opportuÂnity yang besar,†tandasnya.
Ketua Umum KaÂdin Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengaÂtaÂkan, pemerintah tidak memiliki politik anggaran kuat dan fokus daÂlam membaÂngun infrastruktur untuk menduÂkung sektor inÂdustri.
“Padahal pertumbuhan ekonoÂmi yang terjadi sebanyak 70 perÂsennya merupakan sumbangan swasta, khususnya yang bergerak di sektor industri,†ujar Suryo.
Sebelumnya, Deputi Menko Perekonomian BidaÂng Industri dan Perdagangan Edy Putra IraÂwadi meÂngatakan, pemerintah mendoÂrong agar pengusaha IndoÂnesia memiliÂki kemandirian, seÂhingga tidak bergantung keÂpada fasilitas yang disediakan pemerintah. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: