Keterbasan pengetahuan DPR soal penjualan saham perdana saham (Initial Public Offering/IPO) BUMN ikut menghambat rencana lego saham perusahaan pelat merah.
Pengamat BUMN Said Didu mengungkapkan, sulitnya BUMN merealisasikan program privaÂtisasi, khususnya rencana IPO diseÂbabÂkan pemahaman yang berbeda-beda antar anggota DPR.
“Hal ini yang membuat proses itu panjang. Ini juga menjadi keÂsulitan bagi BUMN,†kata Said Didu di JaÂkarÂta, kemarin.
Menurutnya, pemerintah dan DPR, khususnya Komisi VI dan XI harus memiliki pemahaman yang serupa tentang privatisasi. Selain itu, dibutuhkan lobi agar proÂgram privatisasi dapat berÂjaÂlan dengan baik. LamÂbannya proÂses IPO BUMN juga diseÂbabkan sering terjadinya perÂgantian angÂgota dewan tersebut. Oleh sebab itu, pembenahan di tubuh DPR, khususnya mekaÂnisme, dipanÂdang perlu.
Sebelumnya, kesulitan menÂdapatkan izin tersebut dikeluhkan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan. Ia memilih pasrah bila tiÂdak ada satu pun BUMN yang dapat melaksanakan IPO pada tahun ini. “Masih ada hambatan di perizinan-perizinan itu. Tidak ada IPO tahun ini juga tidak apa-apa. Masih sulit. Aku menyerah,†ungkap Dahlan.
Dia menegaskan, keinginan IPO atau tidak IPO bukan persoaÂlan hidup dan mati. Sebab, bila tiÂdak mendapatkan persetujuan dari pihak yang terkait, ia hanya bisa menunggu. KementeÂrian BUMN menargetkan lima peruÂsaÂhaan pelat merah yang akan melangsungÂkan IPO tahun ini, yaitu PT SeÂmen Baturaja, PT Waskita Karya, PT Pertamina Drilling Service, PT Pertamina Gas dan PT PLN Batam.
Namun, Semen Baturaja masih terganjal status perubahan direkÂsi, sementara Waskita Karya menunggu turunnya Peraturan Pemerintah (PP).
Menanggapi hal tersebut, WaÂkil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima mengatakan, pengajuan izin IPO perusahaan BUMN sudah dibaÂhas antara KementeÂrian BUMN dan Komisi VI DPR. MenurutÂnya, hingga kini meÂmang beÂlum dikeluarkan izin IPO untuk perusahaan BUMN itu.
“MeÂmang sudah ada pembaÂhasan mengenai hal tersebut. Namun, beÂÂlum ada keputusan resmi terÂkait perizinannya. Kami juga tiÂdak mau mentradisikan IPO peruÂsahaan BUMN,†ujar Aria keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Politisi PDIP ini berpikir, IPO bukan satu-satunya cara untuk memajukan perusahaan BUMN. Menurutnya, Komisi VI DPR suÂdah menyepakati program siÂnergi BUMN untuk membenahi BUÂMN. “Jangan diasumsikan kaÂlau perusahaan BUMN itu sudah IPO maka akan hebat. Di China saÂja perusahaan BUMN-nya tidak IPO tapi hebat-hebat,†jelasnya.
Pihaknya khawatir, jika peruÂsahaan BUMN sudah IPO justru malah akan sulit untuk menjalanÂkan program sinergi BUMN. “IPO juga bukan jamiÂnan sukses perusahaan BUMN. Justru perÂmodalan negara yang harus diÂkuatkan,†tegasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: