.Kalangan pengusaha meÂminta pemerintah agar waspada menghadapi defisit dalam neraca perdagangan Indonesia triwulan II tahun 2012. Kondisi tersebut diaÂnggap tidak lepas dari kebijaÂkan pemerintah yang salah kaÂprah. Pemerintah terlihat lebih meÂnonjolkan kegiatan impor dariÂpada ekspor.
Ketua Umum Asosiasi PenguÂsaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, defisit pembayaran Indonesia pada triÂwulan II tahun 2012 bukan seÂsuatu yang aneh. “Kita nggak punya infrastruktur. Kita terlalu fokus pada konsumsi domestik dan natural alias tambang. Lebih baik impor daripada rugi. Ini benar-benar buruk,†ujarnya di Jakarta, kemarin.
Laporan Bank Indonesia (BI) menyatakan pada triwulan II taÂhun 2012 neraca pembayaran InÂdoÂnesia mengalami defisit tranÂsaksi berjalan melebar mencapai 3,1 persen dari produk domestik bruto (PDB). Diperkirakan defisit transaksi berjalan menjadi 3,1 persen dikarenakan kinerja eksÂpor yang menurun di saat perÂminÂtaan impor meningkat pesat.
“Untuk itu kita harus kurangi impor, seperti pengurangan impor barang mewah. Kasih tax (pajak) pada mereka sebesar 1.000 persen biar nggak boleh masuk barang mewah dan jangan ragu naikkan harga BBM,†pinta Sofjan.
Bos Gemala Group ini menjeÂlaskan, impor barang mewah akan memperlebar jurang antara masyarakat kaya dengan miskin. Selain itu, impor barang mewah saat ini mulai marak terjadi seÂperti kendaraan atau barang-baÂrang lainnya. “Karena impor itu manufaktur kita tidak bisa berÂsaing sehingga tidak menambah angka ekspor. Industri kita yang tumbuh hanya mobil dan sepeda motor,†jelasnya.
Defisit, lanjut Sofjan, juga baÂnyak disumbang oleh defisit jasa industri. “Banyak investasi yang dibawa ke luar, asing tidak inÂvesÂtasi di sini. Seperti transÂporÂtasi kita pakai kapal asing, asuÂranÂsi juga banyak dari luar neÂgeri,†tandasnya.
Penilaian senada datang dari Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulistyo yang memÂbandingkan neraca perdaÂgangan Indonesia saat zaman Soeharto lebih baik dibandingÂkan masa sekarang.
“Banyaknya atuÂran dalam perÂdagangan membuat impor lebih tinggi dari pada ekspor, terlebih kebijakan pemeÂrintah saat ini banyak yang aneh,†ujarnya
Suryo mengatakan, kebijakan yang dibuat pemerintah seharusÂnya mengendalikan impor. Tren saat ini justru mengalami peningÂkatan belakangan ini. Namun kebijakan pemerintah justru maÂlah meneÂkan ekspor. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: